SUMBAWA—Banyak program pemerintah untuk membantu masyarakat khususnya petani yang tidak tepat sasaran. Bahkan ada program yang tepat sasaran namun tidak berhasil. Pasalnya, bantuan pemerintah tersebut kerap disalahgunakan para penerima, atau memanfaatkan bantuan itu yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
Misalnya, bantuan modal diberikan untuk membeli bibit, pupuk dan obat-obatan pertanian, dimanfaatkan oleh penerima untuk hal-hal yang bersifat konsumtif seperti membeli sepeda motor, perabotan, bahkan untuk biaya liburan. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digulirkan pemerintah melalui PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) mendidik masyarakat untuk mengelola modal usaha secara tepat dan sesuai peruntukan. Salah satunya dengan mengalokasikan pinjaman KUR secara bertahap. Alokasi bertahap ini sempat diisukan sangat menyulitkan petani. Bahkan ada yang menuding BRI menerapkan kebijakan itu secara inprosedural.
Namun hal itu dibantah sejumlah petani penerima KUR. Salah satunya Awaluddin. Ketua Kelompok Tani Jagung Saling Beme 1, Dusun Kunil, Desa Pidang, Kecamatan Tarano ini menilai kebijakan BRI telah mengalokasikan pinjaman secara bertahap itu sebagai bentuk pembinaan sekaligus mendidik para petani untuk memanfaatkan bantuan itu sesuai kebutuhan dan peruntukan.
“Misalnya saya pinjam KUR 25 juta, BRI mencairkannya tidak sekaligus. Tapi setengah dari pinjaman itu, berdasarkan kebutuhan kami ketika memasuki musim tanam yaitu membeli bibit, pupuk, dan obat-obatan. Ketika nanti tiba masa tanam dibutuhkan biaya, maka BRI mencairkannya lagi,” kata Awal—sapaan petani yang sudah lima tahun menjadi nasabah BRI Unit Empang ini.
Cara tersebut ternyata cukup berhasil. Pinjaman KUR tidak sia-sia dan hasilnya sesuai harapan. Dia tidak bisa membayangkan ketika BRI mencairkan pinjaman itu sekaligus. Meski tidak semua petani, namun ada beberapa orang yang kemungkinan memanfaatkan pinjaman tersebut ke hal lain yang tidak berkaitan dengan usaha pertanian. Ini sudah terbukti gagal.
“Ketika bantuan modal dari pinjaman KUR habis terpakai, sementara kebutuhan pertanian belum tertangani, inilah awal bencana. Petani akan kembali terjerat rentenir,” kata Awal yang beranggotakan 22 orang ini.
Dengan manfaat besar yang dirasakan dari KUR, Awal menyatakan sangat mustahil ada petani yang mengeluhkannya. Petani merasa nyaman dengan program maupun kebijakan yang diterapkan BRI. Ketika ada sekelompok orang yang mempersoalkan KUR mengatasnamakan petani Empang—Tarano khususnya Kelompok Sali Beme 1, Awal memastikannya itu adalah hoaks.
“Kami yakin orang yang mempersoalkan KUR, adalah mereka yang mencari keuntungan pribadi. Karena terus terang kami merasa terganggu,” tegasnya. (SR/*)






