KUR Bebaskan Petani Empang—Tarano dari Jeratan Rentenir

oleh -509 Dilihat

SUMBAWA—Terjerat hutang di rentenir, tengkulak dan ijon, menjadi menu keseharian para petani khususnya di wilayah Kabupaten Sumbawa ketika musim tanam tiba. Pastinya berhutang di rentenir bunganya berlipat-lipat. Kondisi ini terpaksa dijalani karena kebutuhan untuk menanam diperlukan biaya yang cukup besar terutama untuk membeli bibit, pupuk dan upah tenaga kerja.

Inilah yang dialami Idhamsyah HS–Ketua Kelompok Tani Lenang Rea 2, Desa Gapit, Kecamatan Empang, bersama puluhan anggotanya. Ketika panen tiba, justru yang didapat lebih besar pasak daripada tiang. Sebab hasil panen lebih banyak untuk membayar hutang.

Lantaran bunga hutang rentenir cukup besar, bukan membuat ekonomi keluarga meningkat, justru sebaliknya kehidupan mereka kian terpuruk. Namun kondisi itu telah berakhir. Ini setelah adanya Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digulirkan PT. Bank BRI Sumbawa.

Idham—akrab dia disapa saat ditemui Jumat (24/12), mengaku menjadi nasabah KUR BRI di BRI Unit Empang sejak 2008. Dengan mendapat kucuran dana KUR, perlahan tapi pasti mereka terbebas dari jeratan rentenir. Selain proses pinjaman yang mudah, pelayanan yang ramah, juga bunganya sangat kecil bahkan nyaris 0%. “Kami merasa berada di dunia lain, kami telah hijrah,” kata Idham diamini sejumlah anggotanya.

Awalnya dia meminjam KUR tidak terlalu besar hanya Rp 3 juta. Ini digunakan untuk membeli bibit dan pupuk di lahan yang tidak terlalu besar. Hasilnya lumayan, sehingga bisa melunasi sisa bunga hutang di rentenir untuk pinjaman sebelum ada KUR, sebagiannya disisihkan dan disiapkan untuk penanaman selanjutnya.

Tahun berikutnya, Idham kembali mendapat pinjaman KUR dengan tambahan menjadi Rp 5 juta. Setiap tahunnya besar pinjaman terus bertambah, hingga pinjaman KUR sudah mencapai Rp 50 juta. “Modal usaha dari pinjaman KUR ini benar-benar telah merubah hidup saya,” akunya.

Bayangkan, selain mengelola dan dapat memperluas lahan pertanian, kini dia telah memiliki rumah dan usaha ternak. Semua ini berkat KUR,” imbuhnya.

Keadaan ini tidak hanya dirasakannya selaku ketua kelompok, tapi juga anggotanya. Anggota kelompok difasilitasi untuk mendapatkan modal usaha dari program KUR ini. Apalagi kondisi di masa pandemi Covid-19, keberadaan program KUR sangat membantu.

“Banyak anggota kami yang sudah mengembangkan usahanya, dari pertanian kini terintegrasi peternakan,” ujarnya, seraya berharap program KUR ini tetap ada, tentunya dengan jumlah pinjaman semakin bertambah sehingga para petani kian sejahtera. (SR/*)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *