SUMBAWA BARAT, samawarea.com (19 November 2021)
Balai Besar Veteriner Denpasar Bali telah mengeluarkan hasil laboratorium ternak yang mati di Desa Seloto, Kabupaten Sumbawa Barat. Hasilnya, ternak mati karena penyakit Septicaemia Epizootica (SE) atau ngorok (asma), bukan karena limbah tambang yang santer belakangan ini.
Ditemui samawarea.com, Jum’at (19/11), Kepala Dinas Pertanian Sumbawa Barat, Suhadi, membenarkan hasil laboratorium dari Balai Besar Veteriner Denpasar Bali terhadap 10 sampel ternak di Seloto. Dari 10 sempel, ada dua yang dipastikan bahwa ternak tersebut terinfeksi penyakit Septicaemia Epizootica (SE) dan yang positif adalah ternak yang mati. Sedangkan 8 ternak lainnya yang ikut diambil sempelnya adalah ternak hidup dan dinyatakan sehat. Karena itu dengan hasil laboratorium ini, dapat dipastikan bahwa penyebab kematian ternak bukan karena limbah tambang tambang.
“Jenis penyakit ini menular lewat air liur, kalau kita lihat dari ternak yang mati itu, semuanya satu lokasi, sehingga diduga penularannya melalui air minumnya dan rumput yang dimakan. Karena penyakit ini termasuk penyakit yang sangat cepat penularannya. Kena sedikit saja bisa langsung menyerang tubuh hewan yang terpapar. Kenapa hewan di Desa Seloto mudah terkena virus SE, karena ternak di desa itu tidak ada yang divaksin, padahal kita sudah himbau kepada kepala desanya sebelumnya,” tandasnya.
Melihat kondisi tersebut, pihaknya akan menyurati kepala desa untuk melakukan vaksin terhadap semua ternak di Desa Seloto, sehingga antibodi ternaknya kuat dari serangan penyakit. “Saya minta kepada peternak yang ada di Desa seloto sementara waktu ternaknya dijauhkan dari ternak yang mati dan lokasi makan dan minumnya juga dipisah,” pintanya.
Sementara drh. Isnia–dokter hewan di Kecamatan Taliwang mengaku telah melakukan pemeriksaan awal sejak menerima laporan. Setelah melihat ciri-cirinya, pihaknya sudah mengetahui gejala SE. Seperti air liur berlebihan, ngorok dan pembengkakan pada leher. Tapi karena kondisi saat itu sedang ribut, pihaknya tidak berani menyebutkannya. Untuk menyakinkan masyarakat bahwa itu penyakit SE, pihaknya membawa sampelnya untuk diuji lab, dan hasilnya sesuai dengan perkiraannya.
Selain itu yang membuatnya yakin karena ternak di Desa Seloto tidak divaksin sehingga mudah terpapar penyakit. Apalagi penyakit SE ini sangat berbahaya bagi ternak karena menularnya sangat cepat. Di daerah lain ada yang mati sampai ratusan ternak karena kelalaian pemiliknya, dengan tidak memvaksin ternaknya. “Semoga dengan kejadian ini masyarakat menjadi sadar akan pentingnya divaksin,” ujarnya. (HEN/SR)






