Tahun ini, Kasus Kematian Ibu dan Anak di Sumbawa Masih Tinggi

oleh -641 Dilihat

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN SUMBAWA

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (8 September 2021)

Kasus kematian ibu dan anak di Kabupaten Sumbawa tercatat selama Januari hingga Juli 2021, masih cukup tinggi. Namun tidak semua kasus kematian ibu dan bayi di masa pandemi ini karena covid.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, dr. Hj Nieta Ariyani yang ditemui di ruang kerjanya belum lama ini, mengakuinya. Dari kasus kematian tersebut rinciannya adalah usia 0-28 hari dengan beragam penyebab, di antaranya tidak bisa bernapas spontan, berat badan sangat rendah dan kelainan bawaan. Kemudian Bayi 1-12 bulan akibat menderita infeksi paru, diare, kejang dan covid-19. Berikutnya, usia balita diakibatkan demam yang tidak spesifik.

Pemerintah daerah melalui leading sektor terkait ungkap dr. Nieta, terus melakukan berbagai upaya untuk menurunkan kasus kematian ibu dan anak. Disebutkannya, bahwa pilar utama penurunan kematian ibu dan anak adalah KB. Karenanya Dinas Kesehatan dan DP2KBP3A Sumbawa bersinergi untuk penguatan advokasi, sosialisasi dan pelayanan KB ke semua kecamatan baik melalui momentum maupun program Gerakan 1-1-1 (1 bidan-1MKJP-1bulan).

Diakui dr. Nieta, banyak persoalan yang ditemukan di lapangan. Permasalahan ini menjadi pemicu angka kematian ibu dan anak mengalami peningkatan. Terutama masa 1 bulan pertama usia anak yang lahir dengan rata-rata berat badan rendah. Terkadang pihaknya kesulitan untuk mengontrol perkembangannya, karena kerap tidak ada di tempat. Ada yang sudah pindah tempat tinggal dan ada yang dibawa orang tuanya berladang selama berbulan-bulan. Bahkan ada enggan membawa anaknya ke Posyandu karena khawatir terpapar covid.

dr. Nieta juga memberikan contoh lainnya, yakni kehamilan yang tidak diinginkan atau di luar nikah. Ini kerap dialami anak-anak usia sekolah dan masih remaja. Meski dalam kondisi demikian, Ia tetap berharap mereka tidak jauh dari petugas kesehatan. Sebab hamil dengan usia yang terlalu muda sangat berisiko dan rentan terjadi komplikasi, seperti pendarahan. Sehingga harus terus mendapat pelayanan.

Karena itu, pihaknya di setiap kesempatan selalu menekankan kepada masyarakat terutama ibu-ibu untuk menghindari 4 Terlalu. Yaitu Terlalu Muda (menikah dengan usia di bawah 19 tahun) karena sangat rentan dan berisiko tinggi terhadap kematian baik ibu maupun bayi. Terlalu Tua (usia di atas 35 tahun) untuk hamil. Terlalu Dekat (jarak kelahiran antara anak pertama dengan anak berikutnya) atau kurang dari 2 tahun. Terakhir, Terlalu Banyak (jumlah anaknya lebih dari 3).

“Untuk menghindari 4 Terlalu ini, kita tidak bisa sendiri tapi bersinergi dengan teman-teman KB. Sebab masalah ini bukan hanya berpotensi tingginya angka kematian ibu dan anak, tapi juga meningkatkan angka stunting. Mengingat dengan kondisi ini rentan memunculkan masalah gizi, karena rendahnya pengetahuan, kesadaran dan ekonomi masyarakat. Inilah yang masih menjadi tantangan dan PR besar kita bersama,” tandasnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *