Tiga Bulan Pendapatan RSUD Sumbawa Capai 30 Milyar, Optimis Lampaui Target 105 M

oleh -830 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30/4/2021)

Sejak dipimpin dr. Dede Hasan Basri, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pelayanan RSUD Sumbawa terus mengalami peningkatan bahkan melebihi target yang ditetapkan. Seperti tahun 2020 lalu, dari Rp 72 milyar yang ditargetkan, berhasil mencapai Rp 89,5 milyar lebih.

Bahkan secara mengejutkan dr Dede—akrab Direktur RSUD Sumbawa berani mematok target PAD pada Tahun 2021, Rp 105 milyar. Angka yang fantastis ini membuat beberapa pihak pesimis dan menilai Dirut salah satu Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) tersebut terlalu berani.

Namun sebagian pihak lainnya justru menilai target itu logis karena melihat responsive dan inovasi yang terus dilakukan Dr. Dede dan jajarannya. “Insyaa Allah akan tercapai, semoga bisa melebihi target,” kata dr. Dede didampingi Kabag TU Abdul Malik dan Kasi Pelayanan, Hardiansyah, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (30/4) pagi.

Saat ini diakui dr. Dede, pendapatan RSUD Sumbawa dalam tiga bulan (Januari—Maret 2021), sudah mencapai Rp 30 milyar lebih. Jika ini konsisten, maka dapat dipastikan dalam setahun, pendapatan RSUD melebih target yang ditetapkan. Untuk mencapai ambisi tersebut, RSUD yang telah berbentuk BLUD ini, harus terus berinovasi.

Salah satu sumber pendapatan adalah pemeriksaan CT-Scan. Sejak dikerjasamakan dengan pihak ketiga awal 2021 lalu, keberadaan alat tersebut kini telah dirasakan manfaatnya. Masyarakat Sumbawa tidak lagi ke Mataram hanya untuk melakukan pemeriksaan beberapa penyakit berbahaya seperti kanker, jantung, stroke, gangguan ginjal, hipertensi dan sebagainya, karena sudah bisa dilayani di RSUD Sumbawa.

Bahkan pasien dari luar Sumbawa seperti Bima, Kota Bima, Dompu dan Sumbawa Barat datang melakukan pemeriksaan CT-Scan ke RSUD Sumbawa. Tercatat setiap bulan ada ratusan pasien dilayani, dan terus mengalami peningkatan. Bulan ini sudah meningkat menjadi 300-an orang yang sebagian besar pasien berasal dari luar daerah.

Pendapatan lainnya ungkap dr. Dede, berasal dari peningkatan pelayanan. RSUD Sumbawa terus berupaya untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan adanya penambahan dokter spesialis. Saat ini RSUD Sumbawa hampir memiliki semua dokter spesialis. Bahkan dalam satu spesialisasi ada lebih dari satu dokter spesialis.

Sejumlah dokter spesialis ini adalah Spesialis Anak, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Kandungan dan Ginekologi, Spesialis Bedah, Spesialis Saraf, Spesialis THT, Spesialis Mata, Spesialis Paru, Spesialis Jantung, Spesialis Ortophedi, Spesialis Patologi Klinis, Spesialis Anestesi, Spesialis Rekam Medik, Spesialis Gigi, Spesialis Gizi dan dalam waktu dekat akan mendatangkan Spesialis Kulit dan Kelamin. Pihak RSUD juga tengah berupaya melengkapi pelayanan dengan Spesialis Urologi. “Penanganan satu pasien akan dikepung oleh sejumlah dokter spesialis. Ini bentuk pelayanan prima yang kami berikan,” ucapnya.

Pelayanan bermutu ini telah dibuktikan dengan penghargaan yang diberikan berbagai pihak terhadap rumah sakit kebanggaan Kabupaten Sumbawa pada Tahun 2020 lalu. RSUD Sumbawa dinobatkan sebagai rumah sakit paling berkomitmen dalam memberikan pelayanan terbaik bagi peserta JKN—KIS Kategori Rumah Sakit Kelas C Tingkat Kantor Cabang Bima.

Saat ini lanjut dr. Dede, pandemic mulai landai. Beberapa pelayanan yang sempat ditutup kini mulai dibuka kembali meskipun tidak terlalu signifikan. Seperti pelayanan pemeriksaan kesehatan CTKI dan calon jamaah haji. “Karena pemberangkatan CTKI sempat dimoratorium, kini dibuka. Dan pemberangkatan haji pun demikian,” imbuhnya.

Peningkatan pendapatan juga bisa lebih cepat, ketika RSUD Sumbawa sudah bisa memproduksi tabung gas oksigen. Kerjasama dengan pihak ketiga sudah terjalin, tinggal pembangunannya di lahan RSUD Sering yang rencananya diresmikan dalam Bulan Juli ini atau 100 hari pemerintahan Mo—Novi.

“Kami menggandeng perusahaan dari Prancis yang membiayai semua pembangunan dan sarana prasarananya. Daerah tidak keluar uang sepeserpun. System bagi hasil, dan dalam jangka waktu 8 tahun pabrik produksi tabung oksigen itu menjadi milik daerah seutuhnya,” jelasnya.

Di akhir wawancaranya, Direktur low profil ini menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait kondisi rumah sakit yang tidak representative terutama ketersediaan ruangan perawatan yang terbatas. Misalnya ruang VIP yang membuat pasien harus mengantri untuk menempatinya. Namun untungnya lagi, ada pemisah antara pasien Covid dan non Covid, sehingga penanganannya berjalan baik.

“Semoga dengan kepemimpinan Bapak Bupati dan Ibu Wakil Bupati, pembangunan rumah sakit di Sering dapat berlanjut, sehingga persoalan ini dapat teratasi,” pungkasnya. (JEN/SR/*)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *