Oleh: DR. Herdiyanto /*
Satu tahun bukan waktu yang panjang dalam pemerintahan. Tapi cukup untuk membaca arah.
Di Kabupaten Sumbawa, satu tahun terakhir menunjukkan satu pola kerja yang mulai terlihat jelas: pemerintahan yang bergerak dengan pendekatan “pressure and delivery.”
Bupati Sumbawa tidak memilih gaya yang terlalu banyak retorika. Pendekatannya lebih sederhana—dan bisa dibilang cukup tegas:
“Tekan birokrasi, dorong percepatan, dan pastikan program berjalan”.
Dari Tekanan ke Pergerakan
Awal tahun anggaran sempat menjadi alarm. Serapan belanja daerah yang masih rendah di pertengahan tahun menjadi sinyal bahwa mesin birokrasi belum bekerja optimal. Dalam konteks ini, Bupati mengambil posisi yang jelas—tidak membiarkan kondisi tersebut berlarut.
Instruksi percepatan belanja menjadi titik balik.
Pesannya sederhana tapi tegas: anggaran tidak boleh diam. Dan dari sini terlihat perubahan ritme.
Menjelang akhir tahun, realisasi APBD bergerak signifikan—pendapatan melampaui target dan belanja daerah mencapai lebih dari 90 persen. Ini menunjukkan bahwa tekanan yang diberikan tidak berhenti sebagai instruksi, tetapi berlanjut menjadi eksekusi.
Program Unggulan Mulai “Turun ke Tanah”
Di sisi lain, program prioritas daerah mulai terlihat dalam bentuk yang lebih konkret.
Ketahanan pangan diperkuat melalui pembangunan infrastruktur air seperti check dam, sumur bor, dan jaringan irigasi. Ini bukan hanya proyek fisik, tetapi fondasi untuk menjaga stabilitas produksi pertanian—yang menjadi tulang punggung ekonomi Sumbawa.
Beberapa agenda lain seperti peningkatan PAD, penguatan infrastruktur jalan, hingga pengembangan sektor unggulan daerah mulai masuk dalam kerangka implementasi APBD.
Artinya, program tidak lagi berhenti di dokumen perencanaan—mulai bergerak ke lapangan.
Pressure Tanpa Delivery Tidak Ada Artinya
Namun satu hal yang perlu dicatat: pendekatan “pressure” tidak akan berarti tanpa “delivery”.
Di sinilah peran birokrasi menjadi krusial. Dan di titik ini, satu posisi menjadi sangat menentukan: Sekretaris Daerah.
Sekda: Mesin yang Tidak Terlihat, Tapi Menentukan
Dalam sistem pemerintahan daerah, Sekda sering tidak berada di depan layar. Tapi justru di situlah kekuatannya.
Sekda adalah penghubung antara visi kepala daerah dan realitas birokrasi.
Di Sumbawa, peran ini terlihat cukup dominan dalam satu tahun terakhir.
Mulai dari:
• mengawal konsistensi perencanaan dan penganggaran
• memastikan OPD bergerak sesuai target
• menjaga stabilitas organisasi
• hingga mengisi jabatan strategis yang kosong
Semua ini bukan pekerjaan yang terlihat “heroik”, tapi sangat menentukan. Karena tanpa itu, tekanan dari pimpinan tidak akan pernah sampai ke hasil.
Menjaga Ritme, Menghindari Fragmentasi
Salah satu tantangan terbesar dalam birokrasi daerah adalah fragmentasi—masing-masing OPD berjalan sendiri.
Peran Sekda di sini menjadi penting sebagai “penjaga ritme”.
Menjaga agar:
• perencanaan tidak berjalan sendiri tanpa eksekusi
• anggaran tidak berjalan tanpa arah
• dan program tidak terputus di tengah jalan
Dengan kata lain, Sekda memastikan bahwa sistem tetap utuh.
Antara Tekanan dan Keseimbangan
Pendekatan Bupati yang menekan birokrasi untuk bergerak cepat patut diapresiasi.
Karena di banyak daerah, justru yang terjadi adalah sebaliknya—terlalu longgar, terlalu lambat, terlalu birokratis.
Namun tekanan saja tidak cukup. Dibutuhkan keseimbangan antara dorongan dari atas dan pengelolaan dari dalam. Dan di sinilah kolaborasi antara Bupati dan Sekda menjadi kunci.
Catatan ke Depan: Dari Gerak ke Dampak
Setelah satu tahun, fase berikutnya menjadi lebih menantang. Bukan lagi sekadar memastikan program berjalan, tetapi memastikan: program tersebut benar-benar berdampak.
Pertanyaan yang perlu dijawab ke depan bukan lagi:
• berapa persen serapan anggaran
• berapa banyak proyek selesai
tetapi:
• apakah petani lebih sejahtera
• apakah nelayan lebih produktif
• apakah UMKM benar-benar naik kelas
Kepemimpinan yang Terasa, Bukan Sekadar Terlihat
Setahun terakhir menunjukkan satu hal: pemerintahan di Sumbawa mulai bergerak dengan ritme yang lebih jelas.
Bupati menekan.
Birokrasi bergerak.
Sekda menjaga agar semuanya tetap berjalan dalam satu arah.
Mungkin tidak semua terlihat di permukaan. Tapi justru di situlah proses penting sedang terjadi.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan yang baik bukan hanya yang terlihat kuat di depan—tapi yang mampu memastikan seluruh sistem di belakangnya benar-benar bekerja. (SR)
/* Penulis adalah Putra asli daerah Sumbawa kelhiran Labuhan Sumbawa, 8 April 1973 yang telah merintis karir di dunia Birokrasi selam lebih dari 32 Tahun. Setelah malang melintang di berbagai jenis Jabatan struktural saat ini memilih jalur pada Jabatan fungsional dengan jabatan Analis Kebijakan ahli Madya dengan pangkat Pembina Utama Muda dengan golongan IV/C. Saat ini melaksanakan pengabdian di Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai Ketua Tim Penyusun Kebijakan pada Asisten Deputi Pengelolaan Sarana dn prasran Olahraga Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga.






