Rektor UTS dan Dubes RI untuk Korsel Diskusi Tentang Energi Terbarukan

oleh -312 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (4/2/2021)

Rektor Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Chairul Hudaya, Ph.D melakukan Diskusi Virtual bersama Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi. Saat diskusi itu Rektor didampingi Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Abdul Hadi Ilman, SE., MPP, Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama Nurul Izzati, M.Sc dan Kepala Humas dan Protokoler, Mila Hidayatullah, S.IP., M.M.Inov.

Diskusi virtual ini membahas berbagai topic. Salah satunya kolaborasi yang dapat dijalin oleh UTS terkait Sumbawa dengan pihak Korea Selatan melalui KBRI di sana.

Dubes Umar Hadi dalam mengawali dikusi menyinggung potensi renewable energy (energi terbarukan) khususnya panel surya di Indonesia. Hal ini mengingat Rektor UTS dikenal sebagai ahli di bidang baterai.

Menanggapi hal tersebut Chairul Hudaya, Ph.D memberi pandangan terkait demografi atau potensi Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan. “Potensi untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia khususnya di Sumbawa sangat besar,” ungkapnya.

Lebih jauh dijelaskannya, bahwa kondisi Sumbawa yang memiliki tingkat iradiasi yang cukup baik memungkinkan panel surya akan sangat bermanfaat dan terpakai. “Kadang kami bergurau kalau matahari di Sumbawa ada 3 di musim kemarau, saking panasnya. Ini menggambarkan potensi Sumbawa yang besar,” tutur Bang Irul—sapaan Rektor yang juga ilmuwan dunia ini.

Rektor UTS juga memperkenalkan potensi lainnya. Di antaranya produk lokal Sumbawa seperti kopi, jagung, padi dan adanya pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Teluk Santong. Menurutnya, potensi tersebut cukup besar dan bisa dikembangkan melalui kerjasama dengan pihak Korea Selatan. “UTS sejauh ini juga terus concern untuk pengembangan daerah. Kami berusaha agar bisa bersinergi dengan berbagai pihak sehingga bisa mendatangkan dampak positif bagi kemajuan semua pihak. Kami sangat senang dan merasa terhormat jika UTS dapat berkolaborasi dengan berbagai institusi di Korea Selatan melalui fasilitasi KBRI tidak terkecuali di bidang renewable energi ini,” harapnya.

Namun Ia tak menampik salah satu kelemahan dari pengembangan sektor energi terbarukan adalah masih lemahnya market. Sebabnya, regulasi yang kurang mendukung pengembangan produk energi terbarukan dari pemerintah. Tapi bukan menjadi alasan untuk tidak terus mencoba berbagai inovasi dan gebrakan. Karena pada akhirnya segala upaya yang dicoba pasti memiliki manfaat untuk hajat hidup orang banyak. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *