5 Bulan Terbaring di Sanglah Bali, Bocah Kanker Darah Asal Lotim Tak Terakomodir BPJS Gratis

oleh -348 Dilihat

Butuh Donasi untuk Kesembuhannya

MATARAM, samawarea.com (11/6/2020)

Ikhtiar Inaq Johan untuk menyembuhkan buah hatinya dari kanker darah, sungguh luar biasa. Meski tak mampu secara ekonomi ia berusaha agar Muhammad Sohibul Kahfi—putra bungsunya yang masih berumur 7 tahun ini mendapat penanganan medis secara optimal. Sudah lima bulan bocah malang penderita kanker darah ini terbaring di tempat tidur ruang perawatan Rumah Sakit Sanglah Bali. Tak terhitung lagi kemotraphy yang sudah dijalani. Mengingat kondisi keuangannya menipis, hasil bantuan dari Baznas Provinsi, kemungkinan penanganan anaknya di rumah sakit itu tak bisa dilanjutkannya. Terlebih lagi BPJS yang dikantongi untuk pengobatan anaknya ini adalah BPJS berbayar alias BPJS Mandiri. Sebab Inaq Johan yang sudah lama ditinggal mati suaminya, tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia hanya buruh tani yang mencari pagi untuk makan sore.

Dihubungi samawarea.com, Kamis (11/6/2020) malam ini, Inaq Johan menuturkan, Muhammad Shohibul Kahfi adalah anak ketiga hasil pernikahannya dengan Amaq Wahyu. Mereka tinggal di Dusun Dasan Lekong, RT 04/RW 01, Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Sejak lahir tidak ada tanda-tanda putranya tersebut mengalami sakit yang cukup berat. Badannya sehat dan tidak pernah sakit. Namun ketika usianya berjalan 7 tahun, tepatnya April 2019 lalu, Kahfi mengalami demam tinggi. Keluarga panik dan melarikannya ke Puskesmas Suela. Karena kondisinya yang agak buruk, pihak puskesmas merujuk Kahfi ke RSUD Selong. Kahfi didiagnosa Hb kurang atau trombositnya rendah, sehingga harus ditransfusi. Setelah 15 hari diopname, kesehatan Kahfi membaik dan diizinkan pulang. Tapi selama beberapa kali dalam 4 bulan harus melakukan control. Tentu saja situasi ini sangat berat bagi Inaq Johan. Apalagi suaminya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga dipanggil yang Maha Kuasa. Praktis Inaq Johan harus berjuang selain menyembuhkan Kahfi, juga mengurus dua kakaknya yang masih sekolah. Apapun pekerjaan dilakoninya termasuk mencabut rumput di lahan tembakau dengan upah harian yang tidak seberapa. Setelah beberapa bulan berselang, Kahfi kembali panas demam dan diopname selama seminggu. Kahfi pun sembuh dan pulang ke rumah. Belum reda rasa bahagia, tiba-tiba muncul banyak benjolan di leher Kahfi. Hasil diagnosa dokter, Kahfi menderita kanker darah dan harus dirujuk ke RS. Sanglah Bali. Mendengar hal itu Inaq Johan seketika lemas, tak kuasa membayangkan berapa biaya yang harus ditanggung untuk mengobati Kahfi. Belum termasuk biaya hidup selama mendampingi anaknya itu. Karena tak tertanggung BPJS, Inaq Johan mengurus BPJS melalui kepala dusun dan pemerintah desa. Namun BPJS yang ditanggung pemerintah itu tak kunjung ada karena pihak setempat beralasan sudah tidak ada kuota. Terpaksa Inaq Johan mengajukan permohonan BPJS Mandiri kelas III agar anaknya bisa dirujuk. BPJS Mandiri yang dibayar Inaq Johan setiap bulan ini terbit setelah 15 hari kemudian. Selain mengurus BPJS, Inaq Johan yang dibantu relawan, mengupayakan mendapatkan dana keberangkatan dan biaya hidup selama di Bali. Setelah mengajukan permohohan bantuan di Baznas Provinsi NTB, Inaq Johan mendapat dana Rp 4 juta. Inaq Johan beserta Kahfi dan anak sulungnya didampingi seorang relawan pun bisa berangkat. Relawan ini hanya mendampingi Kahfi selama tiga hari, setelah itu pulang dan tak kembali lagi. Dengan pengetahuan dan akses yang terbatas, Inaq Johan dibantu putri sulungnya mengurus segala keperluan Kahfi termasuk dokumen dan konsul dengan dokter yang menanganinya. Tak terasa, Jumat, 12 Juni 2020 besok, Kahfi sudah 5 bulan dirawat di RS Sanglah. Uang 4 juta yang diberikan Baznas digunakan seirit mungkin untuk keperluan Kahfi. Sehingga saat ini hanya tersisa untuk perjalanan pulang. Kondisi inilah yang memaksa Inaq Johan untuk memulangkan Kahfi, meski secara protocol penanganannya harus berjalan selama 2 tahun. “Kalau makan dan minum kami dibantu Yayasan. Bahkan kami juga sempat ditemui relawan Rumah Zakat yang difasilitasi Ibu Jamilah—relawan asal Sumbawa yang saat itu mendampingi Balita tumor mata. Rumah Zakat akan mengupayakan bantuan bagi anak kami ini,” kata Inaq Johan.

Yang dipikirkannya saat ini, bagaimana kelangsungan asupan gizi dan control kesehatan anaknya ketika nanti berada di Lombok Timur. Sebab mereka adalah keluarga tak mampu, terlebih lagi masa pandemic Covid ini. Karena itu Ia berharap bantuan pemerintah daerah terhadap kondisinya. Inaq Johan juga berharap pemerintah dapat mengakomodirnya dalam BPJS gratis. Pasalnya, dia tidak mampu membayar BPJS Mandiri meski kategori kelas III. “Saya orang susah, untuk makan saja sulit apalagi membayar BPJS,” ujarnya lirih. (JEN/SR)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *