SUMBAWA BESAR, SR (20/10/2019)
Warga dua dusun yakni Dusun Pamunga dan Dusun Olat Rora, Desa Usar, Kecamatan Plampang, menyambut gembira kehadiran Program PANSIMAS yang menangani kesulitan dalam mendapatkan air bersih. Karena itu warga dengan antusiasnya melakukan pembangunan jaringan di sumber air Olat Rora dengan dua sumur secara swadaya. Mereka bergotong royong melakukan penggalian sumur dan pembangunan bak penampung.
Kepala Dusun Pamunga, Suprianto mengaku bersyukur adanya Program PANSIMAS. Pasalnya, sejak 10 tahun silam hingga kini warga Pamunga dan Dusun Olat Rora menderita akibat krisis air bersih. Diakuinya banyak sumur milik warga namun airnya payau atau terasa asin. Meski demikian airnya menyusut dan mongering akibat kemarau berkepanjangan, ditambah dengan aktivitas perambahan hutan secara liar. Ia berharap keberadaan program pemerintah ini air dapat mengalir ke rumah penduduk dan berlangsung secara terus menerus. “Kami tetap berharap pemerintah terus memantau keadaan kami,” pinta Kadus.
Hal senada dikatakan mantan Kades Usar, A Kadir. Krisis air bersih yang dirasakan warganya sudah berlangsung sangat lama. Ia berharap dengan program tersebut warganya tidak menderita lagi. “Sangat wajar jika masyarakat bersemangat untuk bergotong-royong karena air bersih yang mereka impikan selama ini segera terwujud,” kata Lusir Kadir—akrab ia disapa.
Pembangunan fasilitas air bersih ini selain menggunakan dana stimulan dari pemerintah, setiap kepala keluarga mengumpulkan masing-masing Rp 35 ribu. Ke depan ia berharap masyarakat dapat menjaga fasilitas dan jaringan air bersih tersebut agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Sementara Ketua Komunitas Pecinta Alam Plampang (PETANG), Burhanuddin menerangkan bahwa PANSIMAS adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah warga miskin perdesaan dan pinggiran kota (peri-urban) yang dapat mengakses perbaikan pelayanan serta fasilitas air minum dan sanitasi. Selain itu meningkatkan nilai dan perilaku hidup bersih dan sehat (hygiene) dalam rangka usaha pencapaian target MDG sektor air minum dan sanitasi melalui upaya-upaya pengarus-utamaan (mainstreaming) dan perluasan (scaling up) pendekatan berbasis masyarakat (community driven approach).
Untuk mencapai tujuan umum tersebut pemerintah provinsi dan kota/kabupaten memiliki kelembagaan yang tepat yang dirancang untuk mendukung upaya-upaya peningkatan perbaikan pemakaian air minum, perilaku hygiene dan sanitasi masyarakat di wilayah perdesaan dan semi perkotaan. Masyarakat sasaran menerapkan perilaku dan praktik PHBS (hygiene). Masyarakat sasaran di wilayah perdesaan dan peri-urban memperoleh akses perbaikan pelayanan sanitasi dan air minum serta menggunakan, mengelola dan memelihara keberlanjutan secara efektif. Pemerintah daerah memiliki komitmen yang kuat dalam mengupayakan keberlanjutan serta perluasan pelaksanaan program pendukung sektor air minum dan sanitasi dengan menggunakan pendekatan yang sama dengan program PAMSIMAS. Setiap DPMU dan CPMU memiliki kemampuan mengelola dan mendukung program secara baik (dan diharapkan dapat menerapkan perluasannya di kota/kabupaten lainnya di Indonesia)
Adapun sasarannya sebagaimana ditetapkan dalam indikator performance PAMSIMAS adalah sekitar 6–7 juta penduduk menurut status sosial ekonomi yang dapat mengakses akses air minum. Sekitar 6–10 juta penduduk menurut status sosial ekonomi yang dapat mengakses sanitasi. Sekitar 80% masyarakat “free of open defecation”. Sekitar 80% masyarakat yang mengadopsi program cuci tangan. Adanya rencana capacity building untuk mendukung adopsi dan pengarusutamaan pendekatan Pamsimas dan kemajuan mencapai tujuan, Pemda mengalokasikan anggaran kabupaten yang diperlukan untuk pemeliharaan sarana air minum dan sanitasi serta perluasan untuk mencapai MDGs. (BUR/SR)







