SUMBAWA BESAR, SR (28/7/2019)
Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki 24 kecamatan, 157 desa dan 8 kelurahan. Sebagian besar desa-desa tersebut tergolong terisolir dan sangat terisolir. Selain jaraknya yang cukup jauh dari pusat kota kabupaten, juga berada di pedalaman kecamatan. Bahkan untuk mencapai daerah itu harus melewati hutan lindung dengan medan yang cukup sulit. Kondisi inilah yang membuat masyarakat di daerah terpencil tersebut merasa belum merdeka kendati kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan puluhan tahun silam. Betapa tidak, hampir semua akses terisolir termasuk akses informasi dan komunikasi. Di tengah perkembangan informasi dan komunikasi yang begitu cepat, masyarakat daerah terpencil justru kerap tertinggal dalam berbagai bidang.
Seperti di Desa Mata dan Tolo Oi, Kecamatan Tarano. Dua desa di sebelah timur Kabupaten Sumbawa yang berada di pegunungan dekat pantai ini, tidak bisa mengakses sinyal seluler. Untuk berkomunikasi melalui handphone, masyarakat harus bersusah payah naik pohon dan bukit agar mendapatkan sinyal. Tidak jarang dari mereka yang mengalami kecelakaan jatuh dari pohon atau tergelincir saat menaiki gunung. Semua ini dikorbankan hanya untuk mencari sinyal agar bisa terjalinnya silaturahim dengan keluarga di daerah lain melalui telepon seluler. Tidak heran jika pada setiap kegiatan Musyawarah Perencana Pembangunan (Musrenbang) baik tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten, permintaan masyarakat setempat akan akses komunikasi melalui pembangunan menara telekomunikasi, menjadi daftar usulan di tiap tahun anggaran.
Demikian juga dengan masyarakat di Desa Lawin, Desa Ranan, dan Desa Labangkar. Tiga desa di Kecamatan Ropang yang merupakan daerah pegunungan ini dikenal sebagai penghasil komoditas pertanian dan perkebunan yang melimpah, di samping daerah investasi pertambangan emas dan tembaga. Pasalnya PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT), PT Sumbawa Juta Raya (PT SJR), PT Intam, dan PT Sumbawa Arc Mineral (SAM) tengah melakukan kegiatan eksplorasi menuju tahap produksi atau eksploitasi. Namun keberadaan potensi itu belum mampu mendongkrak kehidupan ekonomi masyarakat secara signifikan. Masyarakat masih kesulitan memasarkan hasil pertaniannya dengan cepat. Ini karena tidak tersedianya jaringan telekomunikasi. Kondisi yang tak jauh beda dengan Dusun Sampar Goal dan Dusun Sampar Bontong, Desa Emang Lestari Kecamatan Lunyuk. Desa ini merupakan unit pemukiman transmigrasi di wilayah selatan Kabupaten Sumbawa. Seperti halnya pemukiman transmigrasi pada umumnya, penyebaran penduduk desa tidak padat dan berkelompok, melainkan terpisah menempati lahan masing-masing yang merupakan jatah lahan pada saat transmigrasi dilakukan tahun 1998 silam. Desa ini dikenal sebagai sentra jagung yang produksi setiap tahunnya mampu menopang ekonomi masyarakat. Karena keterisoliran akses informasi membuat mereka kesulitan memasarkan hasil jagungnya ke daerah luar. Memang di lokasi itu dapat mengakses sinyal pada titik tertentu dengan kekuatan sinyal yang belum memadai. Untuk menggunakan handphone dengan sinyal seluler yang bagus, satu-satunya jalan harus naik bukit atau naik pohon.
Paling parah Desa Batu Rotok, Desa Tangkam Pulit, Desa Tepal, dan Desa Bao. Sejumlah desa yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Batu Lanteh dengan kondisi geografis pegunungan ini terbilang paling terisolir. Semua akses baik akses transportasi, listrik maupun sarana informasi dan komunikasi, terbilang tertutup. Padahal daerah dingin ini telah dijadikan sentra kopi dan kemiri Kabupaten Sumbawa. Untuk memasarkan komoditi tersebut dengan cepat, masyarakat kesulitan mendapatkan jaringan pasar luar daerah, sehingga kopi dan kemiri menjadi sasaran ijon dan tengkulak.
Kondisi yang dialami masyarakat di semua desa terpencil dan sangat terpencil itu adalah gambaran beberapa tahun silam. Sebab saat ini keterisoliran akses jaringan telekomunikasi di sejumlah daerah terpencil wilayah Kabupaten Sumbawa ini lambat laun berhasil diretas. Hampir semua desa terpencil dan sangat terpencil kini telah dijamah infrastruktur telekomunikasi. Semua ini berkat Program Kewajiban Pelayanan Universal (KPU) atau Universal Service Obligation (USO) Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Program ini mendapat dukungan pemerintah daerah dan masyarakat dengan menyediakan lahan pembangunan menara telekomunikasi terutama di daerah yang dikategorikan blank spot. Misalnya di Desa Mata dan Tolo Oi Kecamatan Tarano, masyarakatnya sudah tidak lagi naik gunung mencari sinyal. Dulunya hanya bisa mengirim SMS (pesan singkat), namun sekarang sudah bisa bermain facebook, twitter, dan membaca berita-berita menarik di berbagai media online. Bahkan bisa mengirim gambar maupun video kepada orang yang berada di belahan dunia lain. Ini dirasakan sejak dibangunnya infrastruktur telekomunikasi berupa Base Transceiver Station (BTS) 4G di wilayah Tolo ‘Oi yang langsung diresmikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Republik Indonesia, Rudiantara pada Tahun 2018 lalu. Untuk mencapai lokasi tersebut, Menteri Rudiantara terpaksa menggunakan helikopter.
Berkat program Kementerian Kominfo ini juga, masyarakat di Kecamatan Batu Lanteh bisa memasarkan komoditi kopinya. Dengan akses informasi dan komunikasi yang semakin lancar, Kopi Tepal asal Batu Lanteh kini sangat terkenal karena sudah tembus pasar nasional dan ASEAN.
Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sumbawa, Rachman Ansori ME, mengatakan, bahwa saat ini sektor infrastruktur tengah menjadi prioritas Presiden Joko Widodo. Berbagai proyek infrastruktur dibangun untuk meningkatkan perekonomian dan menarik sektor investasi. Istilah infrastruktur identik dengan jajaran dan jabatan, padahal telekomunikasi juga masuk di dalamnya. Bahkan infrastruktur telekomunikasi adalah bagian dari ekonomi dunia. Karena itu pemerintah pusat melalui Kementerian Kominfo menyiapkan sarana dan prasarana telekomunikasi untuk mengisi blankspot khusus wilayah terluar dan wilayah terpencil termasuk kini di beberapa daerah terpencil wilayah Kabupaten Sumbawa. Diakui Wakil Bupati, sudah ada beberapa wilayah yang dikategorikan blankspot sudah tertangani dengan dibangunannya BTS. Selain Mata dan Tolo Oi, melalui alokasi Bansos dari Kementerian Kominfo, Pemda Sumbawa membangun menara telekomunikasi daerah terpencil di Desa Senawang Kecamatan Orong Telu, Desa Sempe Kecamatan Moyo Hulu, Desa Tangkam Pulit dan Desa Bao Desa Kecamatan Batu Lanteh, dan Sampar Bontong Desa Emang Lestari Kecamatan Lunyuk. Sejumlah wilayah ini adalah desa pinggiran, desa yang akses komunikasinya terisolir. Dan rata-rata masyarakat di desa-desa ini hidup di bawah garis kemiskinan. Termasuk kategori sangat miskin. Karena itu ia menyampaikan terima kasih kepada Menteri Kominfo yang telah meretas salah satu permasalahan di daerah terpencil ini dengan membuka akses komunikasi. Dengan keberadaan akses internet, Desa Tolo Oi dan desa terpencil lainnya bisa mengakses segala potensi yang dimiliki sehingga dapat berkembang cepat dan berimbas baik bagi investor untuk berinvestasi di daerah tersebut. Apalagi sejumlah daerah terpencil ini dikenal memiliki potensi peternakan dan pertanian yang luar biasa. Mengingat pentingnya akses informasi dan komunikasi ini, Pemda Sumbawa kembali mengusulkan daftar wilayah blankspot untuk diatasi pada Tahun 2019 ini. Wilayah blankspot ini di antaranya Desa Telaga Kecamatan Lenangguar, Desa Sebotok Kecamatan Labuhan Badas, Desa Mungkin Kecamatan Orong Telu, Dusun Tero Desa Jotang Beru Kecamatan Empang, Dusun Mate Mega Desa Marenteh Kecamatan Alas, Dusun Kaduk Desa Baturotok Kecamatan Batulanteh, Dusun Senawang A Desa Senawang Kecamatan Orong Telu, Dusun Kuang Amo Desa Sempe Kecamatan Moyo Hulu, Dusun Jamu Desa Jamu Kecamatan Lunyuk, Dusun Sampa B Desa Kerekeh Kecamatan Unter Iwes, dan Dusun Kalimango Desa Mokong Kecamatan Moyo Hulu.
Pengajuan ini merupakan bagian dari upaya membangun ketersediaan layanan komunikasi masyarakat yang berbasis seluler di seluruh wilayah Kabupaten Sumbawa sesuai amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021. Selain itu keberadaan BTS ini akan semakin mendukung terwujudnya Kabupaten Sumbawa sebagai bagian dari 100 Smart City Indonesia menyongsong era Industri 4.0.
Ia pun berharap terbangunnya menara telekomunikasi di semua wilayah blankspot menjadi kado istimewa di masa jabatan pemerintahan HM. Husni Djibril, B.Sc dan Drs. H. Mahmud Abdullah yang tinggal 1 tahun 8 bulan ini, dalam rangka mewujudkan masyarakat dan daerah Kabupaten Sumbawa yang hebat bermartabat. (JEN/SR)






