BANDUNG, SR (26/4/2019)
NTB Zero Waste menjadi salah satu program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc—Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah M.Pd. Karena itu berbagai upaya terus diikhtiarkan Pemprov dalam membebaskan daerah ini dari sampah. Data mencatat dari 10 Kabupaten/Kota di NTB, sampah yang dihasilkan mencapai 3.388,76 ton per hari, tapi hanya 631,92 ton yang mampu dibuang di 10 TPA. Untuk hal itu Pemprov melakukan study komparatif di TPST Bantar Gebang yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, kemudian berlanjut ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Kamis (25/4). Tiba di Kantor Wali Kota, rombongan yang dipimpin Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB, Najamuddin Amy, S.Sos., MM bersama Kepala Subbagian Humas dan Protokol Setwan Provinsi NTB Lalu Juan Hilary SE, langsung diterima Asisten II Kota Bandung, H. Dodi Ridwansyah, S.Sos., M.Si. Bertempat di Ruang Rapat Asisten, Kang Dodi—akrab pejabat ini disapa menjelaskan indeks kepuasan masyarakat di Kota Bandung terus meningkat, seiring dengan banyaknya taman-taman sebagai wahana rekreasi bagi masyarakat. Selain itu, adanya program Selasa Kamis Bandung Menjawab. Masyarakat bisa menyampaikan aspirasi melalui OPD yang ada untuk kemudian ditindaklanjuti. Hal ini juga menjadi faktor pendukung angka kepuasan masyarakat kota Bandung yang terus meningkat. Terkait dengan pengolahan sampah, Kota Bandung belum memiliki TPA, itu yang menjadi alasan mengapa sampah di Kota Bandung harus dikelola dengan baik. “Proses penanganan sampah betul-betul dimulai dari hulu, dengan melibatkan perangkat daerah dengan membentuk Bank Sampah di setiap OPD yang ada. Di Bank sampah itulah masyarat bisa menukarkan sampah dengan dibuatkan rekening tabungan sampah oleh Pemkot Bandung,” bebernya.
Sementara Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB, Najamuddin Amy, S.Sos., MM yang dihubungi media ini mengatakan, study komparatif di TPST Bantar Gebang dan Pemkot Bandung ini untuk melihat langsung dan mempelajari cara penanganan sampah sehingga bernilai ekonomi. Sebab jika dikelola dengan baik maka sampah bisa berubah menjadi berkah. Sebaliknya jika tidak dikelola dengan baik sampah menjadi bencana dan sumber penyakit. Ia mengakui bahwa pengelolaan sampah di NTB masih belum maksimal karena terbatas SDM dan saranaprasarana. Namun demikian NTB masih memiliki waktu untuk mengatasi kekurangan ini. (SR)






