Jenis Kasus Pasien Beragam, Dibutuhkan Gedung Baru RSUD Asy Syifa

oleh -449 Dilihat

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN RSUD ASY-SYIFA KABUPATEN SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BARAT, SR (12/10/2018)

Beragamnya jenis kasus yang ditangani di RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat, mendorong peningkatan kualitas layanan. Salah satunya dengan tersedianya fasilitas ruangan yang memadai sebagai prasyarat terbukanya layanan baru. Daya tampung rumah sakit yang belum mencukupi menjadi kendala yang paling utama, selain factor ketersediaan tenaga medis dan alat penunjang lainnya. Karenanya, pihak RSUD Asy Syifa terus berupaya mendorong agar pembangunan gendung baru sesuai grand design rumah sakit bisa segera direalisasikan. “Untuk penambahan gedung, kami mengusulkan anggarannya setiap tahun ke pusat melalui Kementerian Kesehatan. Sampai belum disetujui. Ini kemungkinan anggarannya cukup besar sehingga prosesnya cukup lama, yaitu senilai 125 Milyar rupiah untuk satu gendung dan satu jembatannya,” ungkap Direktur RSUD Asy Syifa Sumbawa Barat, dr. Carlof Sitompul kepada SAMAWAREA di ruangan kerjanya, belum lama ini.

Ia mengakui, memang untuk penambahan gedung baru RSUD Asy Syifa Sumbawa Barat jika dilihat dari volume pasien memang belum masuk kategori sangat membutuhkan. Namun, jika ditinjau dari jenis kasusnya yang dirujuk ke Mataram, maka bisa masuk kategori dibutuhkan. Efektivitas pelayanan akan lebih maksimal jika bisa ditangani langsung di RSUD Asy Syifa, terlebih ketika bencana melanda. Belum lagi bangunan rumah sakit saat ini didesain hanya untuk rawat jalan, perkantoran, dan untuk pemeriksaan penunjang sehingga tidak didesain untuk rawat inap. “Area rujukan kita cukup jauh, kita perlu melakukan rujukan ke Mataram. Apalagi jika kondisi pelabuhan mengalami system buka tutup dermaga kan kita sangat terkendala sekali. Nah, jika persoalan medis tersebut bisa terselesaikan di sini, maka sangat baik sekali untuk memaksimalkan pelayanan,” imbuhnya.

Kendati demikian, pihak RSUD Asy Syifa tetap memaksimalkan pelayanan seideal mungkin. Bahkan salah satu indikator keberhasilan kinerjanya, dilihat dari angka rujukan tahun 2018 yang trendnya relatif menurun jika dibanding tahun sebelumnya. “Data kami di tahun 2017, pasiennya yang dirujuk mencapai 5% dari jumlah kunjungan sekitar 20.000-an, tapi jika dilihat 5%-nya kelihatan kecil. Namun dari 20 ribuan bisa kita dapatkan angka 1.000 pasien, jadi kalau kita kalkulasikan perhari minimal ada 3 pasien yang kita rujuk. Di tahun ini (2018,red) laporan bulanannya mencapai kisaran 3% hingga 4%, artinya sudah lebih berkurang lagi. Itu menandakan, jika pelayanannya lebih maka akan terus berkurang, termasuk pelayanan jika adanya gedung baru,” demikian dr. Carlof. (JEN/SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *