KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN RSUD ASSYIFA KABUPATEN SUMBAWA BARAT
SUMBAWA BARAT, SR (18/9/2018)
Rumah Sakit umum Derah (RSUD) Assyifa Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam waktu dekat akan melayani pasien gangguan jiwa. “Per tanggal 1 Oktober 2018 kita akan membuka pelayanan khusus pasien gangguan jiwa, saat ini dokter spesialisnya sudah ada dan siap untuk membuka layanan,” ungkap Direktur RSUD Assyifa, dr. Carlof Sitompul kepada SAMAWAREA, Selasa (18/9).
Disebutkannya, Dokter Spesialis Jiwa tersebut adalah dr. Jumiarni Umar, M.Kes, Sp.KJ. Sebelumnya dr Jumiarni adalah dokter umum yang menjadi PNS di KSB dan disekolahkan daerah untuk mengambil spesialis jiwa selama 5 tahun. Sekarang sudah menyelesaikan pendidikannya dan siap mengabdikan dirinya untuk KSB. Untuk mendukung pelayanan itu, RSUD Assyifa sudah menyiapkan ruangannya dan kebutuhan obatpun sudah dikonsultasikan dengan dokter spesialis dimaksud, obat apa yang dibutuhkan untuk pasien gangguan jiwa. Jika sudah ada daftar obatnya segera dipenuhi. Meski demikian untuk sementara ini pihaknya hanya membuka pelayanan rawat jalan. Jika menerima pasien rawat inap, tentunya harus memiliki ruangan khusus beserta kelengkapannya yang khusus pula. Misalnya tempat tidur terbuat dari non besi, harus berbahan lentur. “Ini untuk mengantisipasi pasien karena stres membenturkan kepalanya dengan tempat tidur. Tempat rawat inap pasien gangguan jiwa juga harus ada kamar jeruji besinya, bahkan dari segi keamanannya juga harus pikirkan. Ini menjadi PR kami untuk terus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, semoga tahun depan bisa terwujud,” ucapnya.
Pelayanan jiwa ini lanjut dr. Carlof, bukan hanya diperuntukkan bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa, tapi bisa untuk pasien kecanduan narkoba, bahkan untuk pengobatan kerohanian. Dan untuk diketahui, pasien yang perlu penanganan gangguan jiwa di KSB berdasakan data Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial, angkanya cukup tinggi.
Di antaranya trauma pasca bencana seperti gempa yang terjadi belum lama ini. Mendapat musibah berupa bencana alam merupakan hal yang menakutkan. Seringkali orang yang terkena bencana alam akan berubah, baik secara fisik maupun psikisnya. Dari segi psikis, orang yang terkena musibah tersebut biasanya akan mengalami gangguan jiwa berupa trauma/ketakutan yang berlebih akan sesuatu hal. Traumatik bisa timbul dan meningkat saat masa kanak-kanak. Namun tidak menutup kemungkinan orang dewasa pun dapat mengalami hal tersebut.
Gangguan jiwa juga bisa terjadi karena penolakan lingkungan. Menurut dr Carlof, penolakan lingkungan, terutama lingkungan sosial, sering membuat seseorang menjadi kecil hati, sulit berkembang, hingga depresi akut. Bahayanya tidak hanya sampai di situ, namun penolakan lingkungan sosial pun dapat membuat seseorang memiliki retardasi atau keterbelakangan mental.
Selanjutnya riwayat pada masa kanak-kanak. Tidak selamanya hal yang diterima pada masa kecil itu menyenangkan. Ada beberapa hal yang menyedihkan, atau ada yang hingga kini masih melukai hati seperti tidak pernah didukung atau diapresiasi, perceraian orang tua, kehilangan orang terdekat, dan lain-lain. Hal tersebut bisa memicu depresi psikososial kategori usual ataucommon stressor.
Gangguan jiwa bisa karena keturunan. Carlof menerangkan, gangguan jiwa tidak hanya dapat hadir akibat faktor lingkungan, namun bisa juga karena faktor biologis seperti keturunan. Gangguan ini bisa ditandai dengan sikap yang mudah cemas dan kondisi emosi yang sulit dikendalikan, dan ternyata mirip atau sama dengan anggota keluarga lainnya. (HEN/SR)






