SUMBAWA BESAR, SR (09/07/2018)
Sekilas memang lucu, tapi pernyataan Kepala SMPN 5 Sumbawa yang akan membuka pendaftaran calon siswa baru sampai kiamat ini sebenarnya sebagai bentuk kekesalan. Pasalnya setiap tahun ajaran baru, sekolah yang dipimpin Drs. Herman ini selalu saja kekurangan siswa. Meski pada tahun ajaran 2018/2019 ini sudah menggunakan sistem zonasi, tetap saja sekolah tersebut kurang diminati. Akibatnya dua kelas yang dijatahkan Dinas Dikbud Sumbawa, belum mampu dipenuhi sekolah tersebut. bahkan satu kelas pun nyaris tak terealisasi. Untuk satu kelas siswanya berjumlah 32 orang. “Kami diberi jatah dua kelas yaitu 64 siswa. Tapi sampai hari terakhir PPDB dibuka hingga 4 Juli 2018 kemarin, calon siswa baru yang mendaftar baru 31 orang. Itupun sebagian besar sudah mengambil formulir pendaftaraan jauh hari sebelum PPDB dibuka, atau saat bulan puasa kemarin. Kalau saat PPDB resmi dibuka dari tanggal 2—4 Juli, hanya 4 orang saja yang datang,” ungkap Drs. Herman.
Untuk memenuhi jatah dua kelas sesuai yang ditentukan Dinas Dikbud Sumbawa ini, Herman menegaskan sekolahnya tidak akan membatasi waktu pendaftaran bagi calon siswa baru yang ingin melanjutkan pendidikan di SMPN 5 Sumbawa. Sesuai Juknis, bagi sekolah yang belum memenuhi daya tampung diberikan kesempatan untuk membuka pendaftaran gelombang kedua, dari 6—7 Juli. Tapi kesempatan di pendaftaran gelombang kedua ini dinilainya tidak akan memberikan pengaruh signifikan bagi sekolahnya. Karena itu, pria berkumis tebal ini menyatakan sekolahnya tetap membuka pendaftaraan siswa baru, meski proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk tahun pelajaran baru sudah berjalan. “Kalau perlu pendaftaraannya kita buka sampai kiamat,” cetusnya.
Untuk diketahui, SMPN 5 Sumbawa memiliki 3 ruang kelas yang kosong. Dua ruangan untuk PPDB tahun ini, satunya lagi kosong. Jika yang mendaftar pada tahun ini hanya 31 orang, berarti ada dua ruang kelas yang kosong. Mantan Kepala SMPN 1 Moyo Utara ini menduga minimnya calon siswa baru yang mendaftar di sekolahnya karena tidak dibatasinya zonasi dalam satu kabupaten dalam PPDB.
Ia mencontohkan wilayah Raberas, Bukit Permai dan PPN yang masuk zona SMP 5 Sumbawa, ternyata juga dimasukkan untuk sekolah lainnya, terutama sekolah-sekolah yang berada di dalam kota. Mestinya zonasi yang diperuntukkan bagi sekolahnya tidak dipecah lagi, agar kebutuhan calon siswa baru dapat terpenuhi. “Mungkin posisi sekolah kami yang kurang strategis membuat buat orang malas mendaftar ke sini. Padahal kemampuan guru kami tidak kalah dengan sekolah lain,” ujarnya.
Lebih lanjut Herman mengatakan, sedikitnya siswa yang mendaftar ini tentunya memberikan dampak bagi sekolahnya. Guru terutama yang sudah bersertifikasi menjadi kurang focus mengajar karena mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain. Program sekolah yang sudah dibuatpun bakal berjalan tidak maksimal. “Dana BOS yang kami terima juga pasti sedikit. Padahal BOS ini sangat dibutuhkan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” tandasnya. (JEN/SR)






