KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN RSUD ASY-SYIFA KABUPATEN SUMBAWA BARAT
SUMBAWA BARAT, SR (01/05/2018)
Komisi III DPRD Kabupaten Sumbawa Barat menilai pelayanan RSUD Asy-Syifa sudah baik dan harus terus ditingkatkan dengan memberikan sejumlah masukan. Penilaian ini disampaikan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi tersebut dengan manajemen RSUD Asy-Syifa belum lama ini.
Anggota Komisi III DPRD KSB, Dinata Putrawan SE mengatakan RDP ini untuk mendengar pertanggungjawaban RSUD tersebut terhadap penggunaan APBD Tahun 2017. Dari penjelasan yang diperoleh, pihaknya mengaku kinerja rumah sakit itu cukup bagus terutama dari pendapatan yang melebihi target. RSUD Asy-Syifa menargetkan pendapatan pertahun mencapai Rp 9 Milyar. Dengan inovasi layanan yang dilakukan jajaran RSUD membuat pengujung semakin bertambah sehingga pada akhir tahun 2017 lalu, RSUD Asy-Syifa mampu memperoleh pendapatan mencapai Rp 12 Milyar. “Semakin banyaknya pengunjung semakin membutuhkan pelayanan yang lebih maksimal terutama dalam sikap dan tatacara melayani masyarakat. Kami di Komisi III masih menerima keluhan masyarakat tentang sikap RSUD yang masih kurang respek terhadap pasien dan keluarga pasien, terutama dalam pelayanan awal menyambut pasien yang baru datang. Ini yang harus diperbaiki karena masyarakat selalu menginginkan pelayanan yang sempurna,” ujar politisi PAN ini.
Petugas lanjutnya harus ramah dan memperlihatkan bahasa tubuh yang siap melayani dan merasa pasien itu berharga sehingga pelayanan yang diberikan berangkat dari hati IJS (ikhlas, jujur dan sungguh-sungguh). “Dalam memberikan pelayanan memperlakukan pasien sama, tanpa pandang bulu. Kaya dan miskin harus dilayani sama, bukan berdasarkan status social pasien,” imbuhnya.
Ditemui terpisah, Direktur RSUD Asy-Syifa, dr. Carlof Sitompul mengatakan masukan dari DPRD terkait dengan masih adanya petugas kurang ramah terhadap pasien, menjadi PR-nya. Sebab ia menyadari bahwa semakin tinggi angka kunjungan kian banyak tuntutan. Namun dalam setiap pertemuan internal, Ia selalu mengingatkan jajarannya tentang keramahan. “Ini memang masalah karakter orang. Ada yang model mukanya asam padahal hatinya baik. Ada juga karakternya keras sehingga sulit tersenyum. Untuk merubah karakter ini bukan perkara mudah tapi butuh waktu dan perlahan-lahan,” kata Dokter Carlof.
Sebagai Direktur, Carlof mengaku tidak memimpin dengan cara memaksa melainkan sentuh hatinya agar mereka bisa merasakan apa yang dirasakan pasien, sehingga terciptan pelayanan yang IJS. “Kami akan terus membenahi segala kekurangan. Kami terbuka dengan segala kritikan dan masukan,” pungkasnya. (HEN/SR)






