SUMBAWA BESAR, SR (30/04/2018)
Salah satu alasan 30 diplomat dari 9 negara datang ke Kabupaten Sumbawa adalah belajar tentang kerukunan beragama dan beragam etnis. Para diplomat yang didampingi para Pejabat Kementerian Luar Negeri RI ini menilai Sumbawa sukses menjaga kerukunan antar umat beragama bahkan 19 etnis hidup berdampingan secara damai. Hal ini dikemukakan Darianto Harsono—Deputi Direktur Direktorat Amerika II Kementerian Luar Negeri RI, kepada SAMAWAREA di Istana Dalam Loka Sumbawa, Minggu (30/4).
Darianto menjelaskan Diplomat dari Meksiko, Kroasia, Australia, Vietnam, Laos, Myanmar, Timor Leste, Kamboja dan Korea Selatan yang tergabung dalam Sesparlu Internasional Kemenlu Republik Indonesia ke-20 ini ingin mengenal lebih jauh adat istiadat Samawa yang dikenal sangat welcome terhadap pendatang. Tidak heran jika beragam etnis dan agama hidup rukun di Tana Samawa ini. “Dari informasi yang kami dapat ada 19 suku yang hidup berdampingan secara damai di Sumbawa dan dapat saling bekerjasama satu sama lainnya. Inilah salah satu alasan kita ingin ke Sumbawa dan belajar banyak tentang sebuah kerukunan,” ujarnya usai melakukan Interfaith Dialog dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan kalangan akademisi.
Dengan pengetahuan atau wawasan yang diperoleh dari Sumbawa, Darianto berharap para diplomat memiliki bekal untuk bisa diterapkan di negara asalnya. Sebab di negara mereka kondisinya tidak jauh beda juga ada beragam etnis dan agama. Selain mengenal adat istiadat dan belajar tentang kerukunan, lanjut Darianto, para diplomat ini ingin membuktikan kekayaan potensi wisata Sumbawa terutama wisata budayanya. Di antaranya dengan mendatangi obyek-obyek wisata guna menyaksikan aktivitas tradisional dari masyarakat Samawa. “Seperti kemarin kami diajak melihat pacuan kuda di Moyo Hilir. Itu adalah salah satu olahraga tradisional Sumbawa. Nanti juga kami akan diajak menyaksikan Barapan Kebo, tenun Sumbawa, pembuatan pisau, dan susu dan permen jadi, maupun aktivitas lainnya yang sangat menarik,” akunya.
Selain semua destinasi tersebut, para diplomat terkesima dengan Istana Dalam Loka yang masih berdiri kokoh dan dianggap sebagai rumah panggung terbesar. Mereka antusias ingin mendapatkan sejarah kesultanan Sumbawa termasuk bagaimana memperlakukan etnis minoritas pada abad 18—masa kejayaannya dulu. Melihat geliat ini, para Diplomat menyimpulkan bahwa Sumbawa merupakan daerah yang sangat kondusif untuk pertumbuhan ekonomi dan investasi. Hal tersebut menjadi modal bagi kemajuan suatu daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. “Dampak dari kunjungan ini, kami berharap para diplomat ini dapat menyebarkan informasi mengenai Sumbawa terutama tentang potensi ekonomi termasuk kondusifitas Sumbawa yang stabil sehingga nanti akan bisa mengundang pengusaha atau investor dari negara-negara asal diplomat untuk berinvestasi di daerah ini,” pungkasnya. (JEN/SR)






