MATARAM, SR (14/02/2018)
Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi memberikan sambutan pada acara pelantikan pengurus perwakilan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Provinsi NTB, masa jabatan 2017-2020, di ruang rapat utama Kantor Gubernur NTB, Selasa (13/2).
Gubernur NTB yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) yang juga ikut dilantik sebagai Ketua Dewan Pertimbangan BWI Provinsi NTB oleh Ketua Badan Wakaf Indonesia Prof. Dr. H. Muhammad Nuh berharap, pengurus yang telah dilantik dapat menunaikan amanah sebaik-baiknya, karena wakaf merupakan amanah ummat yang nilai ibadahnya sangat tinggi jika tersalurkan sesuai tuntunan agama dan membawa kemaslahatan bagi ummat.
Selanjutnya TGB mengulas kembali uraian Ketua BWI dalam paparannya, bahwa ilmu pasti atau pendekatan sciencetific sebenarnya bagian dari sunatullah yang berlaku di bumi ini. “Presentasi yang disajikan tadi saya berharap tidak sekedar dilihat sebagai alternatif dalam membangun wakaf, tetapi justru sebagai dasar. Ada satu kata kunci percepatan, kita bukan lagi bicara tentang bergerak, tapi bagaimana meraih percepatan. Kemartabatan adalah hasil percepatan yang kita lakukan sekarang,” ujar TGB.
Ias mengajak untuk berpikir jangka panjang dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi untuk generasi setelah ini, anak-anak dan cucu sampai pada yang baru lahir. Diharapkan dengan ikhtiar percepatan yang dilakukan sekarang mereka bisa berada pada tempat yang lebih mulia.
Sebelumnya, Ketua Badan Wakaf Indonesia Prof. Dr. H. Muhammad Nuh, menyampaikan apresiasi dan selamat kepada pengurus yang baru saja dilantik dan dikukuhkan. “Jika kita mendapatkan amanah dalam hal perwakafan, ada satu hal yang tidak boleh kita takutkan, yakni takut akan kehabisan persoalan, dan yang paling penting bagi kita semua adalah setiap fase amanah yang kita peroleh, kita ingin memberikan yang terbaik, oleh karena itu mari kita tata niat kita, menjaga motivasi, semangat dan stamina untuk menjadikan BWI sebagai organisasi pembelajar,” ujar Muhammad Nuh.
Dijelaskan pula, pada kepengurusan Badan Wakaf kali ini, BWI mengambil tagline “Wakaf untuk Kesejahteraan dan Kemartabatan”. Dalam hal ini ada empat yang didefinisikan, yaitu wakaf yang berhubungan dengan peribadatan kepada Allah, wakaf untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, wakaf dalam rangka pengembangan dakwah, dan wakaf untuk menjaga harkat dan martabat.
Karenanya dalam memajukan dunia perwakafan, BWI memanfaatkan Digital Dividend, jika tidak memanfaatkan Digital Dividend tersebut maka seakan-akan hidup pada masa sekarang tapi perilakunya primitif. Selain memanfaatkan Digital Dividend, tentunya hal penting lainnya adalah bersinergi dengan pemangku kepentingan. “Karena tak ada kesuksesan yang berjalan sendirian,” imbuhnya, seraya menekankan bahwa esensi wakaf adalah pertumbuhan yang tidak pernah berhenti, jika wakaf sudah menjadi budaya, maka seterusnya akan membudaya. Hadir dalam kesempatan itu jajaran FKPD, pimpinan OPD lingkup Provinsi NTB dan jajaran BWI pusat. (JER/SR)






