Sumbawa dan New Zealand Jalin Kerjasama Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

oleh -437 Dilihat

SUMBAWA BESAR, SR (19/07/2016)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa bekerjasama dengan Tim UGM dan Tim GNS Science New Zealand menggelar Workshop Strenghened Indonesia Resilience Reducing Risk From Disaster (StIRRRD), Senin (18/7) kemarin. Kegiatan yang dilaksanakan di RM Goa Sumbawa ini dalam rangka mewujudkan pengutaan resiko bencana dan peningkatan kesiap siagaan di tingkat daerah menuju penguatan ketahanan Indonesia.

Kepala BPMPD Kabupaten Sumbawa, Ir Mukmin melaporkan, StIRRRD sudah dimulai sejak 2011-2012 di daerah pilot project yaitu Kota Palu dan Kota Padang. Kegiatan ini meliputi workshop kebencanaan, penyusunan rencana aksi daerah, kunjungan dan pelatihan di New Zealand dan pemantapan serta implementasi rencana aksi. Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut mengutamakan koordinasi dan kerjasama berbagai pihak, seperti pemerintah daerah, universitas lokal, kalangan swasta, LSM, dan kelompok–kelompok komunikasi siaga bencana. Atas keberhasilan kegiatan di daerah pilot, kegiatan tersebut disetujui oleh ministry of foreign and trade (MFAT) New Zealand untuk dilanjutkan selama lima tahun kedepan. Sebanyak 10 kabupaten/kota dilibatkan dari empat provinsi yaitu Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, NTB, dan Bengkulu. Selain kota Palu dan Kota Padang yang memasuki tahap ke 2, kabupaten/kota lain yang ikut bergabung di antaranya, Kabupaten Donggala, Morowali, Kota Mataram, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Bengkulu, Kabupaten Seluma, Kabupaten Pesisir Selatan, serta Kabupaten Agam. Workshop ini diikuti 35 orang dari dinas terkait seperti Bappeda, Dinas PU, BPM-LH, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pertambangan.

Perwakilan Tim UGM, Dr. Wahyu Wilopo dalam sambutan singkatnya menyampaikan bahwa UGM dan GNS telah bekerjasama sejak 2011–2014. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah Capacity Burning yang melibatkan semua institusi terkait. Selain itu, beberapa training tentang bangunan struktur tahan gempa, landscape training atau dampak kerugian apabila terjadi bencana, penyusunan peta resiko bencana, community improvement atau sistem pergerakan dini pergeseran tanah. Kerjasama ini juga mengevaluasi dan monitoring terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan. Dengan adanya beberapa kegiatan tersebut, diharapkan akan menghasilkan outcome berupa kesiapan masyarakat Sumbawa yang tangguh dalam menghadapi bencana.

Workshop Bencana 1Workshop Bencana 2Workshop Bencana 3Sementara Asisten Pemerintahan Sekda Kabupaten Sumbawa Dr. H. Muhammad Ikhsan M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi solusi penyelenggaraan penanganan bencana di Kabupaten Sumbawa. Dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 agenda pembangunan (Nawacita) pada agenda pembangunan ke-7 yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestic. Peraturan ini memuat pelestarian sumber daya alam, lingkungan hidup dan pengelolaan bencana. Adapun sasaran strategis pembangunan nasional (kebencanaan) “menurunnya indeks risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan yang berisiko tinggi”.

Dengan tiga agenda. Pertama, internalisasi pengurangan risiko bencana dalam kerangka pembangunan berkelanjutan di pusat dan daerah, kedua, penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana, dan ketiga, peningkatan kapasitas dalam penanggulangan bencana. Kegiatan StIRRRD bertujuan untuk mewujudkan pengurangan resiko bencana dan peningkatan kesiapsiagaan di tingkat daerah menuju peningkatan ketangguhan Indonesia.

Berdasarkan data BPBD, Sumbawa merupakan salah satu kabupaten yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Adapun potensi bencana di Kabupaten Sumbawa meliputi sebelas jenis bencana yaitu banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim/angin puting beliung, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, tsunami, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, konflik sosial, letusan gunung berapi, epidemi, dan wabah penyakit. Merujuk pada fakta tersebut, sangat diperlukan perhatian yang besar dalam menangani potensi bencana tersebut, ketahanan Indonesia melalui pengurangan resiko bencana. (JEN/SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *