πŒπ€π’πˆπ‡πŠπ€π‡ π‘πŽπ‚πŠπ˜ πŒπ„ππ†π†π„π‘π”ππ†?

oleh -218 Dilihat

π‘Šπ‘Žπ‘€π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž πΌπ‘šπ‘Žπ‘—π‘–π‘›π‘’π‘Ÿ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘…π‘œπ‘π‘˜π‘¦

Oleh Muis Debe (Pemerhati Sosial)

Sore menjelang senja, di sebuah kedai sederhana. Ruang tak terlalu terang, tenang, jauh dari keramaian pusat kota. Di sudut yang sepi, Rocky Gerung menerima dua orang tim pewawancara — duduk berhadapan. Di meja kayu tua, tiga cangkir kopi mulai mendingin. Menggunakan camera dan perekam β„Žπ‘Žπ‘›π‘‘π‘β„Žπ‘œπ‘›π‘’, β€” percakapan berlangsung lurus, seperti warga bertemu warga.

Pewawancara: Terima kasih bersedia berbicara di tempat yang sederhana ini. Kami bukan wartawan, bukan pengamat. Kami hanya bagian dari warga yang selama ini dering mendengarkan suara Anda. Dan Kami mewakili banyak orang yang bertanya satu hal sederhana: setelah melangkah masuk ke lingkaran kekuasaan, apakah suara Anda masih sama, masih tetap “menggerung?”

Rocky Gerung: (tersenyum tipis, menatap lurus) Pertanyaan yang wajar. Dan pertanyaan yang paling saya hormati β€” karena bukan menuduh, bukan memuji, hanya ingin tahu. Silakan.

Pewawancara: Selama puluhan tahun, Anda adalah suara yang paling konsisten berdiri di luar pagar. Mengkritisi, mengingatkan, menegur tanpa pandang siapa yang berkuasa. Kini Anda menerima masuk ke Dewan Pertimbangan Presiden. Banyak di antara publik bertanya: apakah ini perubahan arah, atau cara lain untuk menjaga arah yang sama?

Rocky Gerung: Saya tidak mengubah arah. Saya hanya mengubah posisi berdiri.

Selama ini saya berbicara dari luar β€” dan itu penting. Tetapi ada hal yang tidak cukup didengar dari luar. Ada peringatan yang perlu disampaikan di ruang di mana keputusan sebenarnya diambil. Bukan untuk memuji, bukan untuk tunduk β€” melainkan untuk berkata: “Hati-hati. Di jalan ini ada yang keliru.”

Itu bukan berdamai dengan kekuasaan. Itu memasuki ruangnya untuk mengingatkannya kembali pada amanahnya.

Pewawancara: Tapi bukankah ada risiko? Begitu berada di dalam, ada sopan santun, ada ikatan, ada pertimbangan β€” bukankah perlahan suara itu akan melemah?

Rocky Gerung: Itu bahaya yang nyata. Dan saya tidak menafikannya.

Kekuasaan memang memiliki cara membuat orang yang masuk menjadi seperti dirinya. Ia tidak selalu memaksa β€” ia membiasakan. Apa yang dulu tegas ditolak, perlahan dianggap “bisa ditoleransi”. Apa yang dulu jelas keliru, lama-lama dilihat sebagai “bisa diperbaiki pelan-pelan”.

Itulah ujian terberat. Bukan dari orang lain β€” dari diri sendiri. Apakah saya tetap melihat kesalahan sebagai kesalahan, meski dikatakan di ruang yang sopan? Itulah yang harus dijaga setiap hari.

Pewawancara: Lalu apa jawaban Anda kepada publik yang khawatir suara Anda tak lagi mereka dengar sekeras dulu?

Rocky Gerung: Dengarkan baik-baik: suara tidak berubah karena tempatnya berubah. Yang berubah hanyalah cara menyampaikannya β€” tidak berarti isinya berkurang.

Ada hal yang perlu dikatakan terbuka, akan tetap saya katakan terbuka. Ada hal yang perlu diingatkan secara tertutup, akan saya sampaikan secara tertutup β€” tetapi jangan kira itu berarti saya setuju. Banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan β€” tetapi bukan berarti saya diam menyetujui.

Pewawancara: Bagaimana jika suatu saat peringatan Anda diabaikan? Bagaimana jika Anda melihat sesuatu yang tidak bisa Anda terima, namun Anda berada di dalamnya?

Rocky Gerung: Kalau begitu, saya akan keluar.

Jangan anggap saya bagian dari kekuasaan jika saya tidak bisa mengoreksinya. Jika saya tidak bisa berkata tidak β€” maka tempat itu bukan untuk saya. Kedudukan bukan tujuan. Kebenaran adalah tujuan. Jika saya tidak bisa melayani kebenaran dari sana, saya akan kembali ke tempat saya berdiri selama ini β€” di luar pagar, di antara kalian.

Pewawancara: Banyak yang berkata: “Dia akhirnya masuk juga.” Bagaimana Anda menjawab mereka?

Rocky Gerung: Biarlah mereka berkata. Saya tidak membuktikan diri lewat kata. Saya membuktikan lewat apa yang saya lakukan.

Lihatlah setahun ke depan. Lihatlah ketika ada kebijakan yang saya kecam dulu β€” apakah saya tetap mengingatkannya? Lihatlah ketika ada ketidakadilan β€” apakah saya tetap menegurnya? Lihatlah ketika ada yang dibungkam β€” apakah saya tetap membela suaranya? Tindakan itulah jawabannya, bukan janji saya hari ini.

Pewawancara: Terakhir β€” untuk kami yang selama ini merasa “ada yang menjaga”, apa pesan Anda jika suatu hari suara itu terdengar pelan?

Rocky Gerung: Jangan tunggu satu suara. Jangan menaruh harapan pada satu orang. Jika saya melemah β€” maka itu tugas kalian untuk menguatkan.

Saya masuk untuk mengingatkan mereka. Tetapi kalian β€” kalian ada untuk mengingatkan saya. Jangan ragu bertanya. Jangan ragu mengingatkan. Karena kekuasaan tidak hanya diawasi oleh satu orang β€” ia dijaga oleh semua mata yang terbuka.

Dan satu hal lagi: jika suatu hari saya diam, jangan ikut diam. Justru saat itulah Anda harus berbicara.

Pewawancara: (tersenyum, mengangguk) Terima kasih, Bung Rocky. Semangat menggerung.

Rocky Gerung: (menatap lembut, namun tegas) Terima kasih. Tetaplah mengawasi. Saya butuh pengawasan kalian lebih dari kalian butuh suara saya.

Cahaya sore perlahan memudar. Kopi di meja sudah dingin. Percakapan berakhir tanpa tepuk tangan, tanpa pernyataan besar. Hanya kesepakatan yang tak terucap: untuk tetap mengawasi, tetap bertanya, tetap berbicara β€” masing-masing di tempatnya. ***

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *