Kolaborasi MBDR dan UPH Jakarta Rangkul Berbagai Pihak Lestarikan dan Promosi Kere Alang Samawa

oleh -163 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (28 Oktober 2026) – Kere Alang Samawa atau kain songket tradisional khas Sumbawa kembali mendapatkan perhatian. Setelah tahun lalu Museum Bala Datu Ranga (MBDR) mendukung dan berkolaborasi sebagai narasumber dalam penelitian yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Samawa (LPPM UNSA), kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, antara lain Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa, Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Dekranasda Kabupaten Sumbawa, dan Social Impact PT Amman Mineral Nusantara (PT AMNT).

Targetnya, 55 motif Kere Alang Samawa berhasil didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kabupaten Sumbawa oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Melanjutkan praktik baik ini, MBDR kembali menjalin kolaborasi dengan Program Studi Desain Interior Universitas Pelita Harapan Jakarta (UPH Jakarta) melalui Program Kolaborasi PPKM 2026–2027 untuk menggali nilai-nilai luhur Kere Alang Samawa sebagai warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya. Kegiatan ini merupakan implementasi kolaborasi antara dua institusi, yaitu Yayasan Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu yang memayungi Museum Bala Datu Ranga dan Program Studi Desain Interior UPH Jakarta.

“Museum Bala Datu Ranga tidak mau menjadi katak dalam tempurung. Kami juga ingin berkembang dan bertukar gagasan dengan institusi lain yang memiliki misi yang sama. Kerja sama dengan Prodi Desain Interior UPH sudah berlangsung setahun lebih. Kegiatan yang sudah dilakukan bersama antara lain kami menulis jurnal tentang tata pamer museum, desain destinasi wisata budaya melalui program Sumbawa Heritage Walk, dan yang ketiga ini menggali desain dan motif-motif tenun Sumbawa untuk menjadi inspirasi produk berbasis ekonomi budaya,” tutur Yuli Andari Merdikaningtyas, Direktur Museum Bala Datu Ranga.

Dua kegiatan utama dari kolaborasi ini, yaitu: Pertama, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Melacak Jejak Kere Alang: Dulu dan Kini” yang melibatkan dan menghimpun wawasan para narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain tokoh budaya, maestro tenun, instansi pemerintah, Dekranasda Kabupaten Sumbawa, para akademisi, dan para perancang muda kreatif di Kabupaten Sumbawa.

Kedua, kegiatan Workshop Kreatif “Mengenal Motif Dasar Kere Alang Melalui Kreasi Pouch” yang melibatkan para siswa SMK Negeri 3 Sumbawa.

Kedua kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkaya narasi tentang Kere Alang Samawa. Tujuannya, untuk mempertemukan aspirasi berbagai pihak. Sebagai museum, MBDR memiliki misi untuk mengumpulkan, mengkaji, dan menyebarkan informasi tentang nilai, simbol, dan filosofi Kere Alang Samawa kepada masyarakat luas.

Di sisi lain, Pemda Sumbawa melalui Kabid Penelitian dan Inovasi Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Arya Ningsih, menyampaikan komitmen pemerintah untuk melakukan upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Kere Alang Samawa, yaitu dengan mendaftarkan Kere Alang Samawa sebagai salah satu variasi tenun yang ada di Indonesia untuk didaftarkan dalam Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), baik di Indonesia maupun di dunia melalui program UNESCO.

Dua akademisi dari UPH, Ibu Agnes Satyawati Azarja dan Ibu Juli Hidayat, sangat antusias mendengar dan mengamati jalannya diskusi yang dirasa kaya akan muatan lokal dan nilai-nilai ke-Sumbawa-an. Justru dengan mendengar dari peserta, apalagi yang berasal dari berbagai macam latar belakang, persoalan-persoalan yang pelik dapat dipecahkan.

Ada banyak opini, perspektif, tanggapan, dan masukan yang dihasilkan oleh forum diskusi ini, termasuk mengeksplorasi jenis sulam tangan Jit Tahan Uji yang sudah nyaris punah di Sumbawa. Para peserta bahkan mengusulkan agar diskusi yang menghasilkan rekomendasi, terutama bagi pemegang kebijakan, sering dilakukan.

Menurut H. Hasanuddin HD, persoalan Kere Alang Samawa ini tidak hanya tentang motif dan makna, tetapi juga rasa kecintaan para perempuan Sumbawa yang setia pada tenun. Perlu ada intervensi untuk mengangkat warisan budaya Tau Samawa ini agar dapat terus terjaga dan lestari, bahkan di kalangan generasi muda.

Berbicara tentang keterlibatan generasi muda terkait dengan motif Kere Alang Samawa, hari kedua kegiatan kolaborasi MBDR dan UPH ini diisi dengan Workshop Kreatif “Mengenal Motif Dasar Kere Alang Melalui Kreasi Pouch” yang diikuti oleh 20 siswa SMK Negeri 3 Sumbawa dari Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Tata Busana.

Ibu Agnes selaku pengampu sesi ini, sebelum memulai workshop, menjelaskan bahwa motif dasar Kere Alang perlu dikenali terlebih dahulu maknanya sehingga akan muncul rasa ketertarikan dan motif tersebut dapat dimaknai secara personal oleh anak muda.

Melalui kreasi mewarnai motif dasar Kere Alang, para siswa diharapkan dapat menciptakan gagasan mereka sendiri untuk lebih menyelami dan mencintai warisan budaya mereka. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *