Bukan Tanah Kelahiran, Tapi Tempat Berbakti

oleh -118 Dilihat

πΆπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› π‘†π‘’π‘šπ‘π‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘’π‘šπ‘’π‘‘π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘‡π‘Žπ‘›π‘Žβ„Ž π‘†π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘€π‘Ž

Oleh: Muis Debe
Warga Pemerhati

Hari ini, 28 Oktober 2026. Hari di mana kita mengenang kembali janji yang diucapkan para pemuda tahun 1928 β€” genap sembilan puluh delapan tahun silam: bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Sering kali sumpah itu terasa jauh β€” sebatas teks di buku sejarah, dibaca setiap tahun, lalu dilupakan kembali. Namun di pulau Sumbawa β€” bumi Sabalong SamalewaΒΉ β€” ada sebuah kisah sederhana namun bermakna dalam, yang membuat sumpah itu terasa hidup dan nyata.

Bukan di Sumbawa, melainkan di Blitar, Jawa Timur. Saat itu, tepat pada 6 Oktober 1966, seorang anak manusia lahir ke dunia ini dan diberi nama Mohamad Ansori. Bisa jadi kedua orang tua atau kerabat lainnya tidak memiliki secarik peta untuk mengetahui letak Sumbawa β€” tanah yang kelak akan menjadi ladang pengabdiannya.

Puluhan tahun kemudian, Ansori muda datang ke Sumbawa hanya sebagai seorang perantau β€” berbekal harapan, tekad, dan keinginan untuk berbakti.

Sebagai pendatang di tanah rantau, tentu tidak mudah bagi Ansori untuk serta-merta membangun eksistensi dirinya. Diperlukan semangat, etos kerja, serta daya adaptasi yang luar biasa agar dapat menerjemahkan aura insan dan bumi Sumbawa β€” tau ke tana Samawa.

Wajar, jika pada awalnya timbul keraguan dan skeptisisme dari masyarakat dan lingkungannya. Sebagian orang mungkin mencibir sambil berbisik: “Siapa dia? Berapa lama ia akan bertahan?” Ansori tidak menjawab dengan kata-kata dan retorika. Namun ia menjawab dengan kiprah dan karya.

Ia mulai merintis kegiatan usaha, membangun jaringan ekonomi di sektor Barang Kena Cukai. Perlahan namun pasti, ia mulai terlibat dalam organisasi pemuda, mendampingi kegiatan masyarakat, membina olahraga, mendengarkan keluh kesah warga. Hari berganti minggu, bulan berlalu menjadi tahun. Ansori ternyata tidak datang untuk sesaat β€” ia menetap, bekerja, dan melayani.

Lama kelamaan, yang awalnya dianggap “orang asing”, perlahan diterima dan diakui sebagai bagian dari mereka. Bukan karena ia mengubah asal-usulnya, melainkan karena pengabdiannya tulus dan nyata.

Ini selaras dengan kearifan lokal yang terkandung dalam Lawas (puisi lisan/ ungkapan tradisional) masyarakat Sumbawa:

π‘€π‘Žπ‘›π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘’ π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘¦π‘’
πΏπ‘Žπ‘šπ‘–π‘› π‘‘π‘œ π‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘› π‘Žπ‘‘π‘’
π‘π‘Žπ‘› π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘Ž

(Artinya: Walau seseorangqq laksana sebatang kayu β€” tak dikenal, bukan kerabat β€” jikalau ia mampu menenteramkan hati dan membawa kebaikan, maka itulah saudara kita.)

Dan ketika rakyat Sumbawa memilih pemimpin pada Pilkada 2024, mereka menunjuk Syarafuddin Jarot β€” putra asli daerah ini β€” sebagai Bupati. Dan untuk mendampinginya, mereka mempercayakan posisi Wakil Bupati kepada Mohamad Ansori, sang perantau dari Blitar. Seratus dua ribu lebih suara rakyat menjadi bukti: yang dinilai bukan dari mana seseorang berasal, melainkan apa yang telah ia berikan.

Mengapa bukan sebaliknya? Mungkin pertanyaan itu pernah terlintas. Namun jawabannya sederhana dan bijaksana: setiap daerah tentu mencintai putra-putrinya sendiri. Tapi kebesaran sebuah daerah terlihat ketika ia mampu membuka hati bagi siapa saja yang tulus melayaninya. Syarafuddin Jarot memegang kendali utama karena ia adalah bagian tak terpisahkan dari tanah ini. Mohamad Ansori mendampinginya karena ia telah membuktikan: kesetiaan dan pengabdian lebih kuat daripada sekadar tempat kelahiran.

Delapan puluh delapan tahun lalu, para pemuda dari berbagai suku dan daerah berkumpul dan bersumpah untuk menjadi satu bangsa. Hari ini, kisah Mohamad Ansori mengingatkan kita apa makna sumpah itu sebenarnya. Bahwa menjadi satu bangsa bukan berarti kita semua harus lahir di tempat yang sama. Berbeda pulau asal tetaplah satu Indonesia. Bahwa yang mempersatukan kita bukanlah darah yang mengalir di nadi yang sama, melainkan keinginan yang sama untuk membangun dan melayani β€” di mana pun kita berpijak.

“Bukan di mana kau lahir, yang penting di mana kau berbakti. Bukan siapa leluhurmu, tapi kepada siapa pelayananmu.”

Itulah Sumpah Pemuda yang sesungguhnya. Dan kisah itu sedang berjalan, di tanah Sumbawa, hari ini. (*)

Catatan kaki:

ΒΉ Sabalong Samalewa: semboyan dan falsafah hidup masyarakat Sumbawa. Secara harfiah dan umum, semboyan ini dimaknai sebagai ajakan untuk membangun kehidupan dunia dan akhirat, material–spiritual, secara selaras.

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *