Dari Tanah Kilo ke Pasar Dunia, Kisah Bung Nasrin Mengubah Kelor Menjadi “Emas Hijau” NTB

oleh -62 Dilihat

SUMBAWA BARAT, samawarea.com (11 September 2026) – Di tengah hamparan tanah Kilo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), tumbuh tanaman yang bagi sebagian orang mungkin hanya dipandang sebagai tanaman biasa. Daunnya kecil, hijau, dan selama bertahun-tahun tumbuh hampir tanpa banyak perhatian.

Namun, di tangan seorang lelaki bernama Nasrin H. Muhtar, tanaman itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Kelor. Tanaman yang dahulu lebih banyak dikenal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan itu perlahan menjelma menjadi komoditas bernilai ekonomi. Dari daun yang sederhana, lahir teh, kopi, biskuit, kapsul, jamu, kosmetik hingga berbagai produk turunan lainnya.

Dari Kilo, produk itu kemudian bergerak melampaui batas daerah, bahkan menembus pasar internasional.

Nasrin H. Muhtar, yang akrab disapa Bung Nasrin, adalah sosok di balik perjalanan tersebut. Melalui CV Tri Utami Jaya, ia membangun bisnis dengan kelor sebagai kekuatan utama. Salah satu produk yang dikenal adalah Teh Moringa Kidom, yang merupakan singkatan dari Kilo Dompu.

Kisahnya bukan sekadar tentang seorang pengusaha yang berhasil menjual produk. Ini adalah cerita tentang keberanian melihat potensi dari sesuatu yang sederhana, kemudian mengubah tanaman lokal menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing lebih luas.

Berawal dari Kilo

Kilo bukanlah kawasan metropolitan dengan pusat industri besar. Wilayah ini justru dikenal memiliki potensi pertanian dan perkebunan.

Di sanalah Bung Nasrin melihat sesuatu yang mungkin luput dari perhatian banyak orang: kelor.

Ia tidak berhenti pada pemanfaatan daun kelor sebagai bahan pangan tradisional. Nasrin mencoba melihat kelor dari perspektif berbeda: bagaimana tanaman tersebut dapat diolah, dikemas, diberi merek, dan dipasarkan sebagai produk modern dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Dari pemikiran itulah bisnisnya berkembang.

Nasrin bahkan mulai membudidayakan kelor di lahan miliknya. Bahan baku tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan produksi, tetapi menjadi bagian penting dari ekosistem bisnis yang ia bangun.

Kelor dari tanah Dompu tidak lagi berhenti sebagai daun. Ia masuk ke ruang produksi, diproses, dikemas, diberi merek, kemudian dipasarkan.

Bung Nasrin tidak ingin bisnisnya bergantung pada satu jenis produk saja. Kelor dikembangkan menjadi berbagai produk yang menyasar kebutuhan berbeda.

Dalam sektor obat tradisional dan kesehatan, kelor diolah menjadi Jamu Sasambodom, teh bubuk, teh celup dan kapsul kelor.

Di sektor pangan dan minuman, kelor dikembangkan menjadi kopi, biskuit, dodol, mie, permen hingga bakso.

Sementara di sektor kosmetik dan perawatan tubuh, kelor diolah menjadi masker wajah, sabun batang maupun cair, sampo, parfum hingga pasta gigi.

Di sinilah kekuatan utama bisnis Bung Nasrin terlihat. Ia tidak sekadar menjual bahan baku, tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.

Daun yang sebelumnya bernilai relatif sederhana diubah menjadi berbagai produk jadi dengan pasar dan nilai ekonomi yang berbeda. Konsep itulah yang membuat kelor tidak lagi sekadar tanaman, tetapi berkembang menjadi sebuah industri.

Perjalanan tentu tidak berhenti di NTB. Produk-produk olahan kelor CV Tri Utami Jaya kemudian berkembang hingga memasuki pasar luar negeri. Berbagai produk tersebut disebut telah dikirim ke sejumlah negara di kawasan Asia, Eropa hingga Timur Tengah.

Perjalanan itu menunjukkan satu hal penting: produk dari desa dan daerah tidak selalu harus kalah bersaing dengan produk dari pusat industri.

Dengan kualitas, kemasan, inovasi dan keberanian memasuki pasar yang lebih luas, produk lokal pun dapat berbicara di panggung internasional.

Bung Nasrin membuktikannya melalui kelor. Nama Moringa Kidom menjadi salah satu identitas yang membawa nama Kilo dan Dompu dalam perjalanan produk tersebut.

Kesuksesan itu tentu tidak datang dalam satu malam. Perjalanan Bung Nasrin justru dimulai dari sebuah titik balik yang tidak pernah direncanakannya.

Sebelum terjun ke bisnis kelor, Nasrin pernah menjadi wakil direktur di sebuah perusahaan. Namun, perubahan pola perdagangan akibat perkembangan pasar bebas, bisnis daring dan toko modern membuat perusahaan tersebut harus melakukan efisiensi, termasuk pengurangan karyawan.

Nasrin menjadi salah satu yang terdampak.

“Saya kena efisiensi dari perusahaan yang dulu. Saat itu saya masih memikirkan usaha apa yang akan saya kerjakan. Secara tidak sengaja, saya bertemu dengan orang Jepang yang sedang mencari kelor. Dari situ saya langsung menjadi mitranya untuk mengumpulkan kelor,” ungkap Nasrin.

Peluang itu kemudian ia manfaatkan. Dengan modal awal hanya sekitar Rp 1,5 juta, Nasrin mulai mengembangkan usaha kelor. Modalnya memang kecil, tetapi ia memiliki satu keuntungan besar: daerah tempat tinggalnya memiliki banyak tanaman kelor.

Ia juga memiliki lahan sekitar lima hektare yang kemudian ditanami kelor. Keputusan tersebut sempat mendapat cibiran.

“Banyak yang menilai negatif. Mereka bilang, ladang bagus, kenapa ditanami kelor. Ejekan dan komentar miring sering terdengar di telinga,” kenangnya.

Namun, Nasrin memilih tetap melangkah. Waktu kemudian membuktikan pilihannya.

Ketika usaha mulai berkembang dan pasar mulai terbuka, orang-orang yang sebelumnya memandang sebelah mata justru mulai tertarik bergabung.

“Setelah saya berhasil, banyak yang mau bergabung menjadi mitra bisnis. Saat ini saya memiliki lebih dari 20 mitra dengan lahan puluhan hektare yang bisa memenuhi kebutuhan perusahaan,” katanya.

Bagi Nasrin, keberhasilan bisnis bukan satu-satunya pencapaian yang membanggakan.

Ia juga menjadikan perjalanan hidupnya sebagai motivasi untuk terus belajar.

Lulusan SMP itu kemudian mengambil pendidikan melalui Paket C, lalu melanjutkan kuliah hingga meraih gelar magister.

“Cemoohan itu perlahan hilang dan berubah menjadi kebanggaan bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Kini, dari usaha yang dibangun dari modal awal Rp 1,5 juta, Nasrin menyebut omzet bisnisnya dapat mencapai sekitar Rp 1 miliar per bulan.

Hasil dari kerja keras itu tidak hanya dinikmati untuk pengembangan usaha. Ia juga telah mampu memberangkatkan orang tuanya menunaikan ibadah haji dan umrah serta menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang magister. Ia bahkan bertekad terus mendorong pendidikan anak-anaknya hingga jenjang doktoral.

“Inilah yang membanggakan. Saya yang hanya lulusan SMP bisa menyekolahkan anak setinggi mungkin,” katanya.

Perjalanan Bung Nasrin pada akhirnya bukan hanya tentang kelor. Ini tentang bagaimana sebuah tanaman yang tumbuh sederhana di tanah Kilo mampu membuka pintu ekonomi, pendidikan dan harapan bagi sebuah keluarga, bahkan bagi masyarakat yang berada di sekitarnya.

Dari daun-daun kecil di tanah Dompu, lahir sebuah mimpi besar. Kelor yang dulu dipandang sebelah mata, kini justru menjadi sumber kebanggaan. Dari Kilo, menuju pasar dunia. (HENDRA)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *