SUMBAWA BESAR, samawarea.com (23 Agustus 2026) — Pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 7,41 persen pada Triwulan II 2026 mendapat apresiasi dari Ketua Komisi III DPRD NTB, H. Sambirang Ahmadi, M.Si. Namun, ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena karena pertumbuhan tersebut masih sangat ditopang sektor pertambangan.
“Ini adalah kabar baik sekaligus capaian positif yang patut diapresiasi,” ujar Sambirang, Minggu (23/8/2026).
Pertumbuhan ekonomi NTB tersebut berada di atas nasional yang mencapai 5,29 persen. Secara kumulatif, ekonomi NTB pada Semester I 2026 tumbuh 10,42 persen.
Sambirang menyebut sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 30,57 persen dan menyumbang 4,18 poin persentase terhadap pertumbuhan NTB. Artinya, sekitar 56,4 persen pertumbuhan ekonomi NTB masih berasal dari sektor pertambangan.
“Artinya, tambang masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi NTB. PR kita adalah bagaimana memperkuat mesin pertumbuhan non-tambang, seperti pertanian, industri pengolahan, perdagangan, pariwisata, UMKM, perikanan, peternakan dan jasa,” jelasnya.
Ia menyoroti sektor pertanian yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB NTB, yakni 21,93 persen, namun hanya tumbuh 2,54 persen. Karena itu, pemerintah diminta mendorong produktivitas melalui perbaikan irigasi, pascapanen, pengolahan hasil, rantai dingin, akses pasar dan agroindustri.
Di sisi lain, aktivitas pertambangan dinilai harus memberikan efek ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
“Wajib hukumnya tambang itu menghidupkan rantai pasok lokal,” tegasnya.
Sambirang mendorong pemerintah menyusun peta local content agar pengadaan barang dan jasa, tenaga kerja, logistik serta industri pendukung pertambangan lebih banyak melibatkan pelaku usaha daerah. Hilirisasi juga harus diperkuat agar nilai tambah sumber daya alam tidak berhenti pada aktivitas ekstraksi.
Ia juga menyoroti investasi. BPS mencatat PMTB hanya tumbuh 1,51 persen secara tahunan dan mengalami kontraksi 1,06 persen dibanding Triwulan I 2026. Pemerintah diminta memperbaiki iklim investasi dan menarik investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja serta nilai tambah.
Sementara ekspor NTB yang tumbuh 49,42 persen dinilai perlu diikuti diversifikasi komoditas, tidak hanya mengandalkan sektor tambang, tetapi juga pertanian olahan, perikanan, peternakan, industri makanan, kerajinan, ekonomi kreatif dan UMKM.
Sambirang juga meminta APBD diarahkan pada program yang memiliki daya ungkit ekonomi, seperti infrastruktur produktif, konektivitas, peningkatan SDM, hilirisasi dan perluasan pasar.
“Setiap rupiah APBD mestinya mempunyai daya ungkit terhadap ekonomi,” katanya.
Ia berharap pertumbuhan ekonomi yang tinggi benar-benar dirasakan masyarakat melalui peningkatan lapangan kerja, pendapatan, daya beli dan penurunan kemiskinan.
“Tugas kita bersama adalah bagaimana membuat struktur ekonomi NTB semakin terdiversifikasi, tidak selalu tergantung pada pertumbuhan sektor tambang,” demikian Sambirang. (SR)






