JAKARTA, samawarea.com (31 Agustus 2026) – Menjadi dokter bukan hanya tentang mengobati orang sakit. Bagi dr. Hj. Nadya Isra Miranti, M.K.M, profesi tersebut juga menjadi jalan untuk mengabdi kepada masyarakat dan bangsa.
Di tengah kesibukannya melayani pasien, dokter asal Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, itu memilih meluangkan waktu untuk memperdalam wawasan kebangsaan melalui Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 73 Lemhannas RI.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Nadya merasa nilai kebangsaan, nasionalisme dan bela negara perlu terus diperkuat, terlebih di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
“Saya mengikuti kegiatan ini karena nilai-nilai kebangsaan sangat penting sebagai warga negara Republik Indonesia,” kata Nadya saat ditemui awak media di sela kesibukannya di sebuah klinik di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (30/8/2026).
PPNK Angkatan 73 Lemhannas RI berlangsung pada 10–18 Agustus 2026. Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi profesi, TNI hingga Polri.
Mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Asta Cita, Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045,” program tersebut tidak hanya memberikan pembekalan teori, tetapi juga menghadirkan diskusi, dinamika kelompok hingga simulasi yang menguji kekompakan peserta.
Bagi Nadya, justru dinamika dalam kelompok menjadi salah satu pengalaman paling berharga.
“Dalam pendidikan tersebut kami dibagi beberapa kelompok. Di sanalah terjadi dinamika dan perbedaan pandangan yang justru memperkaya kami dalam melihat berbagai problem kebangsaan,” ujarnya.
Ia juga mengaku terkesan dengan berbagai simulasi dan permainan yang diberikan selama pendidikan. Menurutnya, kegiatan tersebut mengajarkan pentingnya kekompakan dan kerja sama dalam sebuah tim.
Namun, yang paling ingin dibawa pulang Nadya bukan sekadar sertifikat kelulusan. Ia ingin nilai-nilai kebangsaan yang diperoleh selama mengikuti PPNK benar-benar diterapkan dalam profesinya sebagai dokter.
Setiap hari berhadapan dengan masyarakat yang membutuhkan pertolongan, menurutnya, membuat nilai kemanusiaan dan kepedulian menjadi bagian penting dalam menjalankan profesi.
“Setiap hari saya berurusan dengan masyarakat yang sakit dan membutuhkan pertolongan. Dengan nilai-nilai kebangsaan ini, saya berharap bisa lebih peka terhadap kondisi dan menentukan mana yang harus diprioritaskan untuk ditangani,” ungkapnya.
Nadya meyakini, Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar pemerintah. Kemandirian bangsa, menurutnya, harus dimulai dari setiap individu dan lingkungan terkecil.
“Kalau kita telah menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam lingkungan sendiri, otomatis kemandirian bangsa menuju Indonesia Emas 2045 dapat terwujud,” tegasnya optimistis.
PPNK Angkatan 73 Lemhannas RI sendiri menggunakan nama angkatan Nusantara Adikara. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan, peserta yang dinyatakan lulus dan memenuhi persyaratan mendapatkan sertifikat yang ditandatangani langsung Gubernur Lemhannas RI, Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si.
Peserta juga mendapatkan PIN Lemhannas RI yang pemasangannya dilakukan secara simbolis oleh Gubernur Lemhannas RI pada acara penutupan yang digelar di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.
Bagi Nadya, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya. Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang pendidikan, tetapi mampu diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama melalui profesinya di bidang kesehatan.
“Semoga apa yang kami dapatkan dapat diimplementasikan dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari,” harapnya.
Menutup keterangannya, Nadya menyampaikan semboyan Lemhannas RI, “Tanhanna Dharmma Mangrva”, yang berarti “Tiada Kebenaran yang Mendua.” (SR)






