Oleh: DR. Herdiyanto
Kalau bayangan kamu soal camat itu orang yang duduk rapi di kantor, nunggu berkas, tanda tangan, lalu pulang, kayaknya kamu belum kenal Iwan Sofian.
Karena yang satu ini beda. Dia bukan tipe pemimpin yang “nunggu bola”. Dia tipe yang jemput bola… bahkan kadang sampai ke pelosok desa.
Iwan Sofian sekarang menjabat sebagai Camat Sumbawa. Tapi perjalanan dia bukan tiba-tiba ada di situ. Dia pernah digembleng di berbagai kecamatan, mulai dari Alas Barat, Lantung, sampai Lunyuk. Dan bukan cuma sekadar numpang lewat jabatan, tapi benar-benar ninggalin jejak.
Jejak yang bukan cuma cerita… tapi perubahan nyata.
Yang paling menarik dari sosok ini sebenarnya satu: cara dia melihat pelayanan publik.
Buat dia, pelayanan itu bukan sesuatu yang harus dikejar masyarakat ke kantor. Justru pemerintah yang harus mendatangi masyarakat. Dan dia beneran menjalankan itu.
Waktu jadi Camat di Lantung, dia bikin sebuah gebrakan yang nggak biasa: Pelayanan publik dibawa langsung ke desa, bukan sebaliknya.
Namanya program “Pariri Si Desa”.
Simpelnya begini:
dalam satu hari, semua layanan, dari kesehatan, administrasi, sampai kebutuhan masyarakat dibawa langsung ke desa.
Nggak ribet.
Nggak muter-muter.
Nggak harus ke kota.
Dan hasilnya?
Pelayanan jadi cepat, masyarakat merasa dekat dengan pemerintah, dan yang paling penting, rasa percaya itu tumbuh lagi.
Tapi yang sering luput dari perhatian, ada satu sisi lain dari Iwan Sofian yang nggak kalah penting: keberpihakannya pada UMKM dan produk lokal.
Buat dia, pelayanan publik itu nggak cuma soal administrasi. Tapi juga soal bagaimana pemerintah membuka jalan ekonomi bagi masyarakatnya.
Di berbagai kesempatan, dia mendorong agar pelaku UMKM lokal diberi ruang, baik dalam kegiatan pemerintahan, event daerah, maupun pemanfaatan fasilitas publik.
Produk lokal bukan sekadar pajangan. Tapi harus jadi tuan rumah di daerahnya sendiri.
Karena dari situlah lapangan kerja terbuka. Dari situlah ekonomi bergerak. Dan dari situlah masyarakat bisa benar-benar merasakan kehadiran pemerintah.
Langkah ini selaras dengan arah besar pemerintah daerah: membuka peluang usaha seluas-luasnya dan menciptakan lapangan kerja langsung di tengah masyarakat.
Dan Iwan Sofian tidak hanya bicara. Dia dorong, dia kawal, dan dia pastikan itu berjalan.
Iwan Sofian itu bukan tipe pemimpin yang jaga jarak. Dia justru dikenal gampang berbaur.
Nggak kaku. Nggak sok formal. Bahkan dalam berbagai kesempatan, dia lebih terlihat seperti “orang kampung biasa” daripada pejabat. Tapi justru di situ kekuatannya.
Karena ketika pemimpin turun, masyarakat ikut bergerak. Dan itu yang terjadi.
Program-programnya bukan sekadar program. Tapi gerakan.
Dari kampung pelangi, penguatan partisipasi masyarakat, sampai pelayanan tanpa sekat—semuanya berangkat dari satu hal sederhana:
mendekatkan pemerintah ke rakyat.
Dan jangan salah, gaya santainya bukan berarti nggak serius. Dia juga sering berbicara soal kepemimpinan—terutama ke generasi muda.
Bahwa jadi pemimpin itu bukan soal teori, tapi soal turun langsung dan merasakan.
Artinya jelas:
pemimpin itu bukan posisi… tapi tanggung jawab.
Makanya, nggak heran kalau di beberapa kalangan, dia dikenal sebagai camat yang inovatif dan progresif.
Bukan karena banyak bicara.
Tapi karena banyak bergerak.
Kalau dilihat dari luar, mungkin yang dilakukan Iwan Sofian terlihat sederhana.
Cuma pelayanan.
Cuma turun ke desa.
Cuma mendekat ke masyarakat.
Tapi justru di situlah letak “kelasnya”.
Karena di zaman sekarang, hal-hal sederhana seperti itu… justru yang paling jarang dilakukan.
Iwan Sofian nggak sedang mencoba jadi hebat. Dia cuma menjalankan perannya dengan cara yang benar.
Dan kadang, yang benar itu nggak perlu ribut—cukup konsisten.
Dari Sumbawa, dia mengubah cara pelayanan.
Dari pelayanan, dia mengubah cara masyarakat melihat pemerintah.
Dan dari situ, pelan-pelan… kepercayaan itu dibangun lagi.
Tanpa banyak gaya.
Tanpa banyak kata.
Tapi terasa. (*)






