Oleh: Surnaini, S.Pd.I *)
Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/SMK sudah dimulai tahun lalu (2025), dilaksanakan pada bulan November 2025 sebagai bagian dari kebijakan baru Kemendikbud menggantikan Ujian Nasional. Dengan tujuan mengukur capaian akademik siswa dan memetakan mutu pendidikan, pelaksanaannya terbagi dalam beberapa gelombang, dan nilainya akan digunakan untuk syarat masuk jenjang berikutnya, termasuk SNBP 2026.
Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025 menandai babak baru dalam sistem evaluasi pendidikan nasional. Berbeda dengan paradigma evaluasi berisiko tinggi seperti Ujian Nasional di masa lalu, TKA dirancang sebagai asesmen standar yang bersifat formatif dan diagnostik. Secara konseptual, TKA diposisikan bukan sebagai penentu kelulusan, melainkan sebagai instrumen untuk memotret capaian kompetensi akademik peserta didik secara objektif, terukur, dan dapat dibandingkan lintas satuan pendidikan serta wilayah (Kemendikdasmen, 2025).
Dalam perspektif kebijakan pendidikan berbasis bukti, keberadaan TKA memiliki signifikansi strategis. Data hasil TKA memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran empiris mengenai distribusi kemampuan literasi, numerasi, dan penguasaan mata pelajaran inti secara nasional. Pemetaan ini penting untuk mengidentifikasi kesenjangan mutu antarwilayah, antarjenis sekolah, serta antar kelompok sosial-ekonomi, yang selama ini kerap tertutup oleh variasi standar penilaian internal sekolah (OECD, 2019).
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa TKA berfungsi sebagai assessment of learning untuk merekam capaian akademik, assessment for learning sebagai dasar perbaikan proses pembelajaran, serta assessment as learning yang mendorong refleksi peserta didik terhadap kompetensinya sendiri (Kemendikdasmen, 2025). Dengan demikian, TKA tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada peningkatan kualitas proses pendidikan.
Temuan awal hasil TKA 2025 yang menunjukkan capaian relatif rendah pada beberapa mata pelajaran, khususnya matematika dan bahasa Inggris, perlu dibaca dalam kerangka diagnostik, bukan semata-mata sebagai kegagalan peserta didik. Secara teoritis, capaian tersebut mengindikasikan adanya kesenjangan antara tuntutan kurikulum, praktik pedagogik di kelas, serta kesiapan sumber daya pembelajaran. Dalam literatur asesmen pendidikan, skor rendah pada asesmen standar justru memiliki nilai informatif tinggi karena mengungkap area yang memerlukan intervensi kebijakan dan peningkatan kapasitas guru (Black & Wiliam, 2009).
Dari sisi metodologi, penggunaan pendekatan Item Response Theory (IRT) dalam penyusunan dan penskalaan soal TKA memperkuat validitas dan reliabilitas hasil tes. Pendekatan ini memungkinkan pengukuran kemampuan peserta didik secara lebih presisi, karena mempertimbangkan karakteristik butir soal dan tingkat kesulitan, bukan sekadar jumlah jawaban benar (Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991). Dengan demikian, hasil TKA dapat dijadikan dasar pemetaan yang lebih akurat dibandingkan penilaian berbasis kelas yang sangat dipengaruhi subjektivitas dan perbedaan standar antarpendidik.
Penggunaan Item Response Theory (IRT) pada soal Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) atau Tes Kemampuan Akademik (TKA) memperkuat validitas dan reliabilitas karena mengukur kemampuan peserta didik lebih presisi dengan mempertimbangkan karakteristik butir soal (kesulitan, diskriminasi, tebakan) dan bukan hanya jumlah jawaban benar, sehingga hasil pemetaan kemampuan lebih akurat dan standar penilaian lebih objektif dibanding metode klasik yang subjektif. IRT memungkinkan dua peserta dengan jumlah jawaban benar sama mendapat skor berbeda karena mempertimbangkan tingkat kesulitan soal yang dijawab.
Mengutip dari Kantor Berita Antara, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen menjelaskan bahwa metode IRT memungkinkan setiap murid mendapatkan skor yang berbeda meski mereka memiliki jumlah jawaban benar sama. Alasannya, karena proses penghitungan nilai akhir setiap murid melibatkan variabel tingkat kesulitan yang berbeda di tiap soalnya.
Sebagai contoh dalam paparan Kemendikdasmen, ada dua murid yang memiliki jumlah jawaban benar sama, misalnya 20 soal. Namun, mereka bisa mendapatkan nilai yang berbeda, misalnya, salah satunya 85 dan satu murid lainnya 90.
Lebih jauh, dalam konteks reformasi pendidikan nasional, TKA berpotensi menjadi instrumen penting untuk memperkuat tata kelola pendidikan yang berkeadilan. Data pemetaan capaian akademik dapat digunakan untuk merancang kebijakan afirmatif bagi daerah tertinggal, menyusun program peningkatan kompetensi guru secara lebih terarah, serta mengevaluasi efektivitas implementasi kurikulum. Namun, efektivitas fungsi tersebut sangat bergantung pada komitmen pemerintah dalam memanfaatkan hasil TKA sebagai dasar perbaikan sistem, bukan sekadar sebagai alat seleksi atau pemeringkatan.
Dengan demikian, TKA 2025 tidak seharusnya dipahami sebagai “ujian baru”, melainkan sebagai bagian dari infrastruktur asesmen nasional yang berorientasi pada peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Jika dikelola secara konsisten, transparan, dan berkelanjutan, TKA dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan sistem pendidikan yang berbasis data, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan nyata peserta didik di seluruh Indonesia.
*) Guru di salah satu SD Negeri di Kabupaten Sumbawa, NTB






