SUMBAWA BESAR, samawarea.com (21 Januari 2026) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa mengambil langkah progresif untuk memperkokoh identitas SMPN 2 Labuhan Badas sebagai sekolah toleransi yang telah ditetapkan sejak tahun 2023.
Ditetapkannnya sekolah ini sebagai sekolah toleransi dilatarbelakangi adanya beragam suku dan agama yang bersekolah diantaranya Suku Samawa, Suku Bali, Suku Jawa, Suku Sasak, dan Timor.
Dengan dukungan fasilitas seperti ketersediaan sarana ibadah masing masing masing agama, laboratorium untuk siswa yang beragama Kristen, memberi gambaran bahwa sekolah ini mengolah perbedaan menjadi potensi membangun karakter siswa. Salah satu karya spektakuler yang telah ditampilkan dalam berbagai event telah mampu membuat tari kreasi baru yang diberi nama Tari Nusantara
Melalui kunjungan pada Selasa (20/1), Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Dikbud Sumbawa, Junaidi, S.Pd.,M.Pd melakukan brainstorming untuk memberikan perspektif baru penguatan sekolah toleransi melalui program “Sumbawa Bertoleransi dalam Karya”, sebuah inisiatif sistematis yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan kreatif.
Hadir dalam pertemuan tersebut Pengawas Pembina, Syuhada, M.Pd., serta akademisi FKIP Universitas Samawa sekaligus Ketua Panre Satera, Dr. Suharli, M.Pd., Kepala SMPN 2 Labuhan Badas beserta seluruh jajaran guru. Program ini mengusung konsep yang lebih adaptif dengan memanfaatkan seni dan budaya sebagai instrumen utama, menegaskan bahwa perbedaan suku dan agama di sekolah bukan sekadar realitas sosial, melainkan modal utama untuk membangun empati.
“Sekolah ini adalah laboratorium humanis. Kita ingin siswa berinteraksi setara dalam bingkai saling beri, saling pendi, dan saling satingi. Di sini, anak-anak Indonesia belajar bahwa perbedaan adalah berkah,” jelas Junaidi.
Salah satu terobosan dalam program ini adalah metode “saling membelajarkan” antar-suku. Siswa akan diajak menyelami kebudayaan rekan mereka. Secara terjadwal melalui kegiatan kokurikuler atau melalui intrakurikuler. Kemudian, siswa dari satu suku akan mempelajari kesenian tradisional suku lainnya seperti siswa Jawa yang belajar tari Bali, atau sebaliknya. Tetapi sebagai core program adalah penguatan pada basis seni masing masing untuk membuat sebuah karya bersama secara kolaboratif.
Setelah masa pembinaan intensif selama enam bulan, seluruh proses belajar ini akan dipresentasikan dalam sebuah atraksi kolaboratif akbar bertajuk “Panggung Ekspresi Nusantara”.
Kepala SMPN 2 Labuhan Badas, Suyono, S.Pd menyatakan bahwa sekolah telah bergerak cepat dengan membentuk tim pelaksana tingkat sekolah khusus program ini yang diberi nama Sabtu Nusantara. Dengan semangat “Sumbawa Bertoleransi dalam Karya”, SMPN 2 Labuhan Badas kini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh kembang anak untuk mengeksplorasi potensi dalam keberagaman yang bermartabat.
Demikian juga Pengawas Pembina Syuhada, M.Pd menyatakan dukungan penuh dan akan melakukan pendampingan selama masa program berjalan.
Sementara Akademisi Universitas Samawa Dr,Suharli,M.Pd menyatakan kesiapan untuk melakukan pendampingan sebagai bagian dari kontribusi untuk merawat kebhinekaan di Tana Samawa. (SR)






