Sumbawa Barat, Samawarea. Com ( 16/12/2025) Banjir bandang melanda Kota Taliwang, tepatnya di Lingkungan Kota Baru, Kelurahan Dalam, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), setelah hujan deras mengguyur wilayah pegunungan di sekitar daerah tersebut, pada siang hari tanggal 15/12. Air bah yang turun secara tiba-tiba dari gunung menggenangi pemukiman warga dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.
Akibat kejadian tersebut, sejumlah rumah warga terendam, aktivitas masyarakat terganggu, dan warga diliputi rasa khawatir akan potensi banjir besar susulan, mengingat musim penghujan baru saja dimulai. Derasnya arus air membuat barang-barang warga terendam.
Salah satu warga terdampak, Lalu Akardi, meminta agar pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat dan konkret untuk menangani persoalan banjir bandang yang terus berulang setiap musim hujan, dan kali ini banjirnya sangat besar, tidak seperti tahu tahun sebelum kecil dan bisa dikendalikan.
“Banjir seperti ini memang sering terjadi kalau musim hujan, karena posisi kami berada di bawah gunung. Kalau tahun tahun sebelumnya airnya kecil masih bisa ditampung oleh saluran irigasi yang ada, tapi kali ini airnya sangat besar dan deras sekali,” ujar Akardi.
Ia menuturkan, hujan yang turun baru sekitar setengah jam sudah cukup untuk menyebabkan banjir bandang yang cukup parah. Hal ini membuat warga semakin waswas, mengingat hujan pada musim penghujan biasanya bisa berlangsung selama berjam-jam bahkan berhari-hari.
“Baru hujan setengah jam saja airnya sudah sebesar ini, kami jadi takut kalau hujannya lebih lama. Musim hujan biasanya bukan cuma satu atau dua jam, bisa berhari-hari. Kami benar-benar berharap ada tanggapan cepat dari pemerintah,” tambahnya.
Di tempat terpisah, anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Barat, Santri, dengan nada tegas meminta pemerintah daerah menjadikan kejadian banjir bandang tersebut sebagai perhatian serius. Menurutnya, banjir yang terus berulang merupakan ancaman jangka panjang bagi keselamatan masyarakat, apalgi banjirnya setiap tahun semakin besar.
“Banjir bandang yang terjadi di Kota Baru, Kelurahan Dalam, Kecamatan Taliwang ini harus menjadi atensi serius. Ini bukan kejadian biasa, ini ancaman berkelanjutan. Alam sedang mengabarkan kepada kita bahwa kondisinya tidak baik-baik saja,” tegas Santri.
Ia juga menyoroti kemungkinan adanya faktor kerusakan lingkungan di kawasan hulu, termasuk dugaan aktivitas penambangan liar di atas gunung yang tidak terkontrol sehingga mengurangi kemampuan alam menahan air hujan.
“Kita harus berani mencari penyebabnya, apakah ini akibat kerusakan lingkungan, termasuk adanya penambangan liar di atas gunung yang tidak terkendali. Alam sudah tidak mampu lagi menahan air yang jatuh dari langit,” lanjutnya.
Santri juga menekankan dampak serius banjir bandang yang merendam RSUD Assyifa, satu-satunya rumah sakit milik pemerintah daerah di KSB. Ia menilai, fasilitas kesehatan vital seperti rumah sakit tidak boleh terganggu oleh bencana apa pun.
“Banjir ini sampai merendam RSUD Assyifa. Air di depan rumah sakit bahkan mencapai di atas lutut orang dewasa. Ini sangat memprihatinkan, karena rumah sakit adalah pelayanan vital masyarakat dan tidak boleh ada hambatan, termasuk akibat banjir bandang,” katanya.
Selain itu, Santri turut meminta perhatian serius pemerintah terhadap banjir bandang yang setiap tahun terjadi di Desa Kertasari, Kuang busir tuanang dan lamunga yang hingga kini belum memiliki solusi konkret dan berkelanjutan.
“Mari kita sama-sama bergerak untuk melayani masyarakat. Banjir di Desa Kertasari juga terjadi setiap tahun dan belum ada solusi nyata. Saya di DPRD KSB siap mendukung apa pun solusi yang ditawarkan, termasuk dalam penganggaran, demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berharap adanya langkah cepat dari pemerintah daerah, baik dalam penanganan darurat maupun solusi jangka panjang guna mencegah banjir bandang terulang kembali di masa mendatang.






