Dari Gulma Jadi Energi Hijau: Dosen UTS Ubah Lamtoro Jadi Pelet Kayu Bahan Bakar Ramah Lingkungan

oleh -569 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (31 Oktober 2025) – Siapa sangka tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala) yang selama ini dianggap gulma pengganggu lahan, ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber energi masa depan. Inovasi ini lahir dari tangan para peneliti Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang berhasil mengubah lamtoro menjadi pelet biomassa berdaya kalor tinggi dan rendah emisi.

Riset bertajuk “Clean Energy: Optimasi Pembakaran Pellet Kayu Lamtoro Spesies Invasif Lokal Sumbawa Tersubtitusi Plastik dengan Natrium Karbonat sebagai Agen Penetral Emisi” ini dipimpin oleh Amri Hidayat (Ketua Peneliti) bersama Abdul Azis, S.Si., M.Si. (Dosen Konservasi Sumber Daya Alam UTS), Aldrin, S.T., M.T. (Dosen Teknik Mesin), dan Juliansyah, mahasiswa Teknik Mesin.

Penelitian ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdiktisaintek tahun 2025.

Mengubah Spesies Invasif Jadi Energi Bersih

Tim UTS melakukan serangkaian uji laboratorium untuk mengolah serbuk kayu lamtoro menjadi pelet kayu energi terbarukan. Kayu tersebut dicampur dengan bijih plastik daur ulang (HDPE, PE, PET) untuk meningkatkan nilai kalor pembakaran, dan ditambahkan natrium karbonat (Na₂CO₃) sebagai agen penetral gas emisi berbahaya seperti karbon dioksida (CO₂) dan nitrogen oksida (NOₓ).

Menurut Abdul Azis, potensi energi dari lamtoro selama ini terabaikan karena masyarakat menganggapnya tumbuhan liar tak bernilai.

“Lamtoro tumbuh di mana-mana tanpa perawatan. Selama ini hanya dianggap gulma atau pakan ternak. Padahal setelah diolah menjadi pelet kayu biomassa, lamtoro punya nilai kalor tinggi dan emisinya bisa ditekan hingga 65 persen,” ujarnya.

Kombinasi biomassa kayu lamtoro dan plastik daur ulang terbukti memberikan efek sinergis. Plastik meningkatkan nilai kalor hingga lebih dari 5.400 kkal/kg, sementara natrium karbonat menetralkan emisi gas pembakaran, membuat pelet ini jauh lebih ramah lingkungan dibanding pelet biomassa konvensional.

Dukung Transisi Energi dan Ekonomi Hijau

Hasil penelitian menunjukkan pelet kayu lamtoro tersubstitusi plastik memiliki durasi pembakaran lebih lama, efisiensi energi lebih tinggi, dan tingkat emisi lebih rendah.Dengan keunggulan tersebut, produk ini berpotensi menjadi alternatif bahan bakar bersih di tengah krisis energi nasional.

“Kami ingin membuktikan bahwa energi bersih masa depan tidak harus mahal atau bergantung pada teknologi luar negeri. Dari Sumbawa, kami ingin berkontribusi untuk Indonesia,” kata Azis.

Penelitian ini sejalan dengan target pemerintah menuju Net Zero Emission 2060 dan mendukung implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) serta poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Dari Sumbawa untuk Kemandirian Energi Desa

Pulau Sumbawa memiliki lahan kering luas dengan vegetasi semak di mana lamtoro tumbuh subur. Biasanya tanaman ini dianggap mengganggu lahan pertanian, namun melalui penelitian tim dari UTS, potensi tersebut kini diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Bayangkan jika masyarakat desa bisa mengumpulkan limbah kayu lamtoro dan mengolahnya menjadi pelet energi sendiri. Ini bisa membuka lapangan kerja baru sekaligus menciptakan kemandirian energi,” jelas Azis.

Tim peneliti UTS juga tengah menyiapkan prototipe mesin pencetak pelet portabel untuk diaplikasikan di masyarakat. Uji coba skala komunitas akan dilakukan di sekitar kawasan Universitas Teknologi Sumbawa, sebagai model teknologi tepat guna berbasis sumber daya lokal.

Inovasi Energi Berkelanjutan Berbasis Ekonomi Sirkular

Inovasi ini bukan hanya tentang energi, tetapi juga tentang ekonomi sirkular mengubah limbah plastik dan biomassa menjadi produk bernilai tinggi yang ramah lingkungan.Dengan pendekatan ini, penelitian UTS berpotensi membantu pemerintah daerah mengelola spesies invasif sekaligus mengurangi limbah plastik di Pulau Sumbawa.

Hasil penelitian akan dipublikasikan di Jurnal Belantara Universitas Mataram (SINTA 3) dan disebarluaskan melalui media lokal Samawa Rea agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas.

“Energi hijau tidak selalu harus mahal. Kadang solusinya tumbuh di sekitar kita tinggal bagaimana kita mau meneliti dan mengolahnya,” tutup Azis. (*)

Yusron Hadi nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *