Mangrove Langka Ceriop Decandra Ditemukan di Pulau Nanga Sira, Moyo Utara Sumbawa

oleh -966 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (20 Juni 2025) – Satu dari 14 jenis mangrove yang langka di dunia, yaitu jenis Ceriop decandra ditemukan tumbuh subur di salah satu hutan mangrove di Sumbawa. Jenis vegetasi mangrove dari familia Rhiophoraceae ini ditumbuh berlimpah di hutan Mangrove Pulau Nanga Sira, Labu Sawo, Desa Penyaring, Kecamatan Moyo utara, Kabupaten Sumbawa.

Mangrove jenis Ceriop decandra atau yang dikenal dengan nama Bido-bido, tenggar atau tingi ini termasuk Red List dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status Critically Endangered (CR) atau terancam punah sehingga mendapat prioritas konservasi agar tidak punah. Penyebab jenis mangrove ini terancam punah karena habitat yang hilang, perubahan iklim dan aktivitas manusia. Batang mangrove jenis Ceriop memang diketahui sangat kuat sehingga banyaj ditebang untuk tiang rumah.

Teridentifikasinya jenis mangrove langka tersebut dilakukan oleh Hermawan Some, Founder Komunitas Nol Sampah yang juga ketua Konsorsium Rumah Mangrove Surabaya yang menyusuri hutan mangrove tersebut bersama Kepala Desa Penyaring, Abdul Wahab SP. Hutan Mangrove Pulau Nanga Sira sejak tahun 2024 sudah dikembangkan menjadi kawasan ekowisata. Ada jalur tracking disepanjang 750 meter di dalam hutan mangrove seluas 80 hektar tersebut.

Kepada samawarea.com, Jumat (20/6/25), Wawan–akrab pria kelahiran Sumbawa ini disapa,  menyebutkan, mangrove jenis Ceriop decandra ditemukan dalam jumlah cukup melimpah, namun tetap memerlukan upaya konservasi.  Dengan ditemukan jenis mangrove langka di Hutan Mangrove Pulau Nangga Sira, Labuan Sawo Desa Penyaring perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa. “Perlu dilakukan upaya konservasi agar jenis mangrove tersebut tetap tumbuh dan terjaga,” katanya.

Menurutnya, menjadikan hutan  mangrove Pulau Nangan Sira sebagai kawasan ekowisata bisa menjadi solusi untuk mendukung upaya konservasi. Namun yang harus menjadi catatan penting, bahwa ekowisata bukan wisata alam. Ada 4 prinsip Ekowisata, yaitu konservasi, pemberdayaan masyarakat local, edukasi dan ekonomi berkelanjutan. Empat prinsip ekowisata ini harus mendapat perhatian serius.

Menjaga dan melestarikan hutan mangrove sangat penting karena hutan mangrove memiliki fungsi ekologis yang tidak bias digantikan oleh apapun. Keberadaan hutan mangrove dapat mencegah abrasi dan intrusi air laut. Hutan mangrove juga diketahui dapat meredam terjangan ombak tsunami. Hutan mangrove diketahui penghasil oksigen yang berlimpah. Tujuh kali lebih banyak dari hutan lainnya.

Hutan mangrove juga berperan oenting bagi tangkap ikan dan udang di laut, ada kajian menyebutkan laut yang ada hutan mangrove tujuh kali lebih subur dari laut yang tidak ada mangrovenya. Akar vegetasi mangrove yang khas, yaituu akar lutut, akar tunjang, akar napas dan akar papan dapat menjadi anak ikan atau udang berlindung dari ancaman predator maupun dari hempasan ombak.

Selain jenis Ceriop decandra, ungkap Wawan, di hutan mangrove Pulau Nanga Sira tumbuh beragam jenis mangrove. Ada mangrove sejati dan mangrove asosiasi. Mangrove sejati adalah jenis mangrove yang hidup di daerah yang dipengaruhi pasang surut. Dari pengamatan dan identifikasi di sepanjang jogging track sejauh 1 km ditemukan setidaknya 15 jenis mangrove sejati di kawasan ini. Dan ada belasan jenis mangrove asosisasi.

Mangrove sejati yang ditemukan antara lain, Avicenia alba, Avicenia Marina, Avicenia ocifinalis, Soneratia Alba, Ceriop decandra, Ceriop tagal, Xylocarphus illicifolis, Xylocarphus mollucocensis, Aegiceras floridum, Achanthus (jeuruju), Excoecaria algallocha (kayu buta), Lumnitsera racemose, Deris trifolia dan Rhizophora mucronata. Besar kemungkinan masih ada jenis lain di hutan mangrove PUlau Nanga Sira, Labu Sawo, Desa penyaring, Moyo Utara ini.

Yang menarik lagi di hutan mangrove Pulau Nanga Sira yang merupakan delta sungai ini adalah dtemukan beberapa jenis satwa liar, antara lain Monyet Ekor Panjang dan beberapoa jenis burung. Terlihat ada beberapa jenis burung pemakan serangga. Dari pengamatan sekilas ada hidup burung Raja Udang. Menjaga dan melindungi hutan mangrove juga berarti menjadi habitat bagi satwa liar. (SR)

hpn2026 nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *