BERAU, samawarea.com (Rabu, 25 Juni 2025) – Saat langit mulai beranjak jingga dan suara ombak memeluk lembut bibir pantai, satu per satu tukik kecil muncul dari balik pasir hangat Pulau Sangalaki. Tubuh mungil mereka merangkak pelan menuju laut, menembus batas antara kehidupan di darat dan harapan di lautan lepas.
Senja itu, bukan hanya saksi perjalanan tukik, tetapi juga perjalanan kesadaran. Di tepi pantai yang sepi, puluhan pasang mata jurnalis dari berbagai penjuru negeri tertegun dalam haru. Momen itu bukan sekadar ritual pelepasan satwa liar, melainkan sebuah pengingat tentang hubungan manusia dengan alam.
Pulau Sangalaki, gugusan surga di Laut Kalimantan, telah lama menjadi rumah terakhir bagi penyu hijau dan penyu sisik, dua spesies yang kini hidup di ujung tanduk. Perburuan telur, perusakan habitat, dan predator alami membuat angka harapan hidup tukik amat rendah.
Namun, di tengah tantangan itu, secercah harapan muncul. PT PAMA Group menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk memperkuat upaya konservasi di kawasan tersebut.
Perjalanan ke Pulau Sangalaki bukanlah tanpa rintangan. Dari Dermaga Wisata Sanggam, speedboat melaju membelah gelombang selama dua setengah jam. Sebelumnya, para peserta sempat bermalam di Pratasaba Resort, Pulau Maratua, tempat mereka belajar memahami pentingnya penyu dalam rantai ekosistem laut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Media Gathering 2025 yang digagas PT PAMA Group bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Dalam kegiatan ini, para jurnalis diajak menyusuri jejak konservasi sebagai upaya menyelamatkan yang nyaris punah, demi generasi yang belum lahir.
Saat tiba di daratan Sangalaki, rombongan menyaksikan keajaiban. lubang-lubang kecil di pasir yang bergerak, dan dari sanalah tukik-tukik mungil keluar menuju cahaya alam.
“Setiap langkah kecil tukik itu adalah simbol harapan besar,” ucap Maidi Irvan, CSR Dept Head PT Pamapersada Nusantara, seraya menjelaskan bahwa Sangalaki dipilih sebagai lokasi konservasi karena pentingnya pulau ini sebagai titik bertelur penyu.
Bagi PAMA Group, konservasi bukan sekadar program. Mereka telah membangun pusat penetasan (hatchery), menyuplai listrik melalui PLTS, menyediakan fasilitas sanitasi ramah lingkungan, dan memasang papan edukasi. Tapi lebih dari itu, mereka menanamkan kesadaran.
“Konservasi bukan soal menyelamatkan satu jenis satwa. Ini soal keberlanjutan kehidupan. Kalau kita diam, bisa jadi anak cucu kita hanya mengenal penyu dari buku cerita,” ujar Maidi.
Namun, diakui Maidi, jalan konservasi tak selalu terang. Tantangan alam, keterbatasan sumber daya, dan rendahnya kesadaran masyarakat menjadi rintangan nyata. Tapi PAMA percaya, perubahan dimulai dari langkah kecil seperti jejak tukik di pasir.
Zain, salah satu jurnalis asal SUMBAWA, NTB, mengaku pengalaman pertama ini meninggalkan kesan mendalam. “Saya tak pernah menyangka, melihat tukik menetas, dan merambat dari lubang dalam lalu memaksa menerobos permukaan pasir. Ini membuat kita sadar agar mulai memberi ruang untuk kehidupan lain,” ujarnya.
Langit mulai gelap. Ini waktu yang tepat untuk melepas tukik agar memiliki peluang besar untuk selamat dari predator. Tukik-tukik terakhir menghilang dalam debur ombak. Tapi kisah mereka belum berakhir. Di lautan luas, mereka akan menempuh perjalanan penuh tantangan, membawa serta harapan dari pasir Sangalaki.
Di balik punggung mungil mereka, terselip pesan, bahwa kehidupan di bumi ini adalah tanggung jawab bersama. Dan dari langkah terkecil tukik, harapan terbesar bisa hidup dan tumbuh. (SR)






