SUMBAWA BARAT, samawarea.com (15 Mei 2025) – Semangat untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat Pulau Sumbawa tak mengenal usia.
Di tengah ribuan massa aksi yang memadati jalur menuju Pelabuhan Poto Tano, sosok seorang perempuan lansia mencuri perhatian. Dialah Rosdiana, perempuan berusia 60 tahun asal Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, yang dengan penuh semangat turut serta dalam aksi damai menuntut pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa (PPS), Kamis, 15 Mei 2025, hari ini.
Dengan mengenakan kerudung sederhana dan membawa tas kecil berisi kebutuhan pribadinya, Rosdiana tiba di Simpang Aik Jati, Desa Kebak, Kecamatan Alas Barat—yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat, sekitar pukul 08.00 Wita. Ia bersama rombongan emak-emak lainnya dari timur Pulau Sumbawa telah menempuh perjalanan panjang sejak hari Rabu pagi.
“Kami berangkat dari Sape kemarin, sempat menginap semalam di Sumbawa Besar, dan pagi ini lanjut ke sini. Kami tunggu rombongan dari arah timur dan barat, supaya bisa berangkat bersama ke titik aksi di Pelabuhan Poto Tano,” ujar Rosdiana dengan nada suara yang tegas namun bersahaja.
Keikutsertaan Rosdiana bukan sekadar ikut-ikutan. Ia mengaku bahwa selama puluhan tahun hidup di Pulau Sumbawa, dirinya merasa daerah ini kurang mendapatkan perhatian dan keadilan pembangunan dari pusat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Infrastruktur yang minim, akses layanan publik yang jauh, hingga kesempatan ekonomi yang tidak merata membuatnya merasa bahwa pemekaran adalah jalan keluar terbaik.
“Kalau hanya menunggu dari Mataram, kapan Sumbawa ini maju? Kami orang kecil, hidup dari tani dan kebun, ingin anak cucu kami punya masa depan yang lebih baik,” ucapnya sambil menatap jalanan yang mulai dipenuhi massa aksi.
Aksi massa yang diikuti Rosdiana merupakan bagian dari gerakan besar yang sudah lama digaungkan oleh masyarakat Pulau Sumbawa untuk membentuk provinsi sendiri, terpisah dari NTB.
Gerakan ini menuntut keadilan anggaran, pemerataan pembangunan, serta pengakuan terhadap identitas dan potensi daerah. Ribuan warga dari berbagai kabupaten di Pulau Sumbawa, termasuk Bima, Dompu, Sumbawa, dan Sumbawa Barat, turut bergabung dalam aksi ini.
Menurut panitia aksi, Simpang Aik Jati menjadi salah satu titik kumpul strategis karena merupakan pertemuan jalur utama dari berbagai penjuru Pulau Sumbawa. Setelah seluruh rombongan bergabung, mereka akan melanjutkan perjalanan bersama menuju Pelabuhan Poto Tano sebagai simbol gerbang Pulau Sumbawa dan pintu masuk utama ke Pulau Lombok.
Kisah Rosdiana menunjukkan bahwa perjuangan untuk perubahan tidak mengenal batas usia. Dengan langkah kaki yang tak lagi sekuat dulu, namun semangat yang membara, ia menjadi simbol keteguhan hati rakyat kecil yang ingin melihat tanah kelahirannya maju dan mandiri.
“Selama nafas ini masih ada, saya akan terus dukung perjuangan PPS. Biar anak cucu saya nanti bisa hidup lebih layak,” pungkasnya. (SR)






