SUMBAWA BARAT, samawarea.com (2 Mei 2025) – Ekosistem pesisir Gili Namo, salah satu kawasan perairan yang selama ini dikenal memiliki keragaman hayati laut yang tinggi, kini berada dalam kondisi yang sangat kritis.
Hal ini diduga kuat akibat pencemaran limbah dari aktivitas pembersihan kapal di kawasan Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Limbah tersebut diperkirakan telah mencemari perairan dan menyebabkan kerusakan signifikan terhadap Padang Lamun yang menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University turut menyuarakan keprihatinan atas kondisi tersebut. Andy Affandy, peneliti dari PKSPL IPB, dalam keterangannya menyatakan bahwa kerusakan ekosistem lamun di Gili Namo kini berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan.
“Kondisi Gili Namo sangat kritis sehingga kita saat ini kuatkan dulu tumbuhan mangrovenya, baru kita kuatkan lamunnya kembali,” ungkap Andy Affandy.
Ia menekankan bahwa langkah pemulihan harus dimulai dari penguatan vegetasi pesisir seperti mangrove, karena ekosistem ini berperan sebagai pelindung alami dan penyangga bagi ekosistem lamun yang lebih rentan.
Lamun, atau seagrass, adalah tumbuhan laut yang hidup di dasar laut dangkal dan memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Ia menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan, penyu, dan biota lainnya, serta membantu menjaga kejernihan air dan mencegah erosi pesisir. Namun, lamun sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air, terutama akibat pencemaran bahan kimia dan limbah minyak.
Aktivitas pembersihan lambung kapal (cleaning hull) di pelabuhan Poto Tano ditengarai menghasilkan limbah yang mengandung zat kimia berbahaya. Ketika limbah ini langsung dibuang ke laut tanpa pengolahan yang memadai, ia dapat menyebar melalui arus laut dan merusak lingkungan hidup bawah air hingga ke wilayah yang cukup jauh, termasuk Gili Namo.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa ada pengawasan ketat dan langkah pemulihan yang sistematis, bukan tidak mungkin Gili Namo akan kehilangan seluruh potensi ekologis dan ekonominya,” tambah Andy.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku industri maritim, serta masyarakat pesisir untuk melakukan pengawasan dan rehabilitasi bersama.
Tim dari PKSPL IPB sendiri telah melakukan survei dan pemetaan awal terhadap kerusakan ekosistem di wilayah tersebut. Mereka berencana melakukan aksi rehabilitasi secara bertahap, dimulai dari restorasi mangrove, pemantauan kualitas air laut, hingga transplantasi lamun di lokasi-lokasi yang masih memungkinkan untuk dipulihkan. Karena Pulau Namu masuk dalam kawasan Gili Balu yang akan dijadikan wisata khusus seperti wisata raja empat. (SR)






