SUMBAWA BARAT. Samawarea.com (20 Januari 2025) – PT. Fima Kencana Kerthasari, sebuah perusahaan yang beroperasi di bidang pengelolaan batuan di Kecamatan Jereweh, diduga telah mencemari lingkungan sekitar.
Media ini yang melakukan pemantauan langsung di lapangan, melaporkan bahwa debu yang dihasilkan dari proses pengolahan batuan terlihat beterbangan ke udara dan mengepul keluar dari pabrik pengolahan tersebut. Aktivitas ini menyebabkan gangguan di sekitar lokasi, terutama bagi pengguna jalan raya yang melewati area tersebut.
Namun, sejauh ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) baru bertindak apabila terdapat aduan atau keluhan dari masyarakat. Menanggapi hal ini, Pirman, Kepala Bidang Pengkajian dan Pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KSB, mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, memang sempat ada aduan terkait dampak dari aktivitas pengelolaan batuan yang dilakukan oleh PT. Fima Kencana Kerthasari.
“Aduan tersebut sudah kami proses, dan yang menangani laporan tersebut adalah bidang Binwas DLH KSB terkait hasil tindak lanjut aduan masyarakat sebelumnya,” ungkap Firman melalui telepon beberapa waktu lalu, kalau ada aduan lagi dari masyarakat kami juga akan turun ungkapnya.
Sementara itu, Riski, Kepala Bidang Binwas di Dinas Lingkungan Hidup, mengonfirmasi bahwa pada akhir tahun 2024, benar mereka menerima keluhan masyarakat mengenai aktivitas pengelolaan batuan yang mengganggu kenyamanan warga sekitar.
“Kami turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi tersebut dan setelah itu, kami meminta kepada perusahaan untuk melakukan pengujian kualitas udara secara transparan yang kami awasi langsung di Dinas Lingkungan Hidup,” kata Riski.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, manajemen PT. Fima Kencana Kerthasari belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang dikirimkan melalui pesan singkat (WhatsApp).
Pantauan media ini di lokasi menunjukkan bahwa debu hasil pengolahan batuan cukup mengganggu, terutama karena pabrik tersebut terletak sangat dekat dengan jalan raya. Pengguna jalan merasakan dampak langsung akibat debu yang beterbangan, mengurangi kenyamanan berkendara.
Media ini juga melakukan wawancara dengan beberapa warga setempat, meskipun tidak mau disebutkan namanya, yang mengaku memang terlihat debu berterbangan dari pabrik tersebut. Salah seorang warga mengungkapkan,
“Debu tersebut tidak sampai masuk ke rumah saya karena jaraknya cukup jauh, tapi warga yang tinggal lebih dekat sangat terganggu. Bahkan, ada yang sampai mengungkapkan keluhannya di media sosial.”
Meskipun demikian, keadaan tersebut kini tampaknya sudah sedikit mereda. Warga yang tinggal di sekitar pabrik, khususnya yang berada dekat dengan lokasi, mengaku telah mendapatkan kompensasi dari pihak perusahaan berupa uang sebesar 250 ribu rupiah per bulan.
“Dengan adanya kompensasi tersebut, kami tidak lagi mengeluhkan debu dan gangguan lainnya,” kata seorang warga yang tinggal dekat pabrik.
Kendati demikian, masyarakat berharap agar masalah ini bisa segera diatasi secara lebih menyeluruh, dan pemerintah serta pihak perusahaan bisa melakukan langkah-langkah konkret untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Mereka juga berharap ada pengawasan yang lebih ketat agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. (SR)






