SUMBAWA BESAR, samawarea.com (18 Februari 2023)–Puteri, menantu dan cucu Sultan Sumbawa, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV dianugerahi gelar adat kebangsawanan. Penganugerahan gelar adat kebangsawanan merupakan tradisi turun-temurun yang telah ada pada masa Kesultanan Sumbawa.
Pada masa lalu, pemberian gelar adat kebangsawanan merupakan bentuk identifikasi yang dilekatkan oleh institusi adat kepada para keturunan Sultan Sumbawa dan sebagai wujud pengakuan keturunan dalam silsilah.
Gelar adat kebangsawanan ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat sehingga dalam pelaksanaannya harus melalui upacara atau ritual adat. Di masa kini, pemberian gelar adat kebangsawanan di Kesultanan Sumbawa merupakan wujud penghormatan terhadap tradisi budaya leluhur yang telah dilaksanakan turun-temurun dan perlu dilestarikan sebagai bentuk penguatan identitas.
Yuli Andari Merdikaningtyas, M.A selaku Sekretaris Majelis Adat LATS menyebutkan bahwa Majelis Adat Kesultanan Sumbawa yang dipimpin langsung (ex officio) oleh Sultan Sumbawa XVIII, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV, membentuk panitia khusus dalam menyelenggarakan Upacara Penganugerahan Gelar Adat Kebangsawanan bagi puteri, menantu, dan cucunya yang dipusatkan di Istana Bala Kuning. Pembentukan panitia ini berlangsung di Istana Bala Kuning, 16–17 Februari 2023.
Adapun nama-nama puteri, menantu dan cucu yang dianugerahi gelar adat tersebut adalah: 1. Daeng Nadya Indriana Hanoum (puteri pertama), 2. Daeng Sarojini Naidu (puteri kedua), 3. Raden Ali Permadiono Sumedi (menantu, suami dari Daeng Nadya Indriana Hanoum), 4. Sentot Agus Priyanto (menantu, suami dari Daeng Sarojini Naidu), 5. Nadine Kemalasari Sumedi (cucu dari puteri pertama), 6. Raihan Omar Hasani Priyanto (cucu dari puteri kedua), 7. Raindra Saadya Ramadhan Priyanto (cucu dari puteri kedua), dan 8. Rayaka Ali Kareem Priyanto (cucu dari puteri kedua).
Dijelaskan Yuli Andari, rangkaian prosesi atau ritual yang dilakukan dalam Upacara Penganugerahan Gelar Adat Kebangsawanan tersebut yaitu, Ete Ai Kadewa yaitu prosesi pengambilan air di empat sumber mata air yang sakral bagi keturunan Sultan Sumbawa yakni Ai Awak, Ai Sumer Bater, Ai Tungkup, dan Ai Panemung.
Keempat sumber mata air ini memiliki makna tersendiri. Ai Awak menyimbolkan hakekat diri, hati, dan jiwa yang menjadi semangat dalam hidup Sultan. Ai Sumer Bater bermakna perjuangan dan kerja keras dalam rangka mencapai kemakmuran dalam hidup. Ai Tungkup adalah simbol penghargaan yang diberikan oleh Sultan kepada hasil kerja keras siapapun yang dengan tulus melakukan paboat aji.
Sedangkan Ai Panemung, bertemuanya air sungai dan air laut di muara sungai (Boa Berang) Samawa. Ketiga sumber Ai Kadewa lainnya juga turut mengalir ke laut dari muara sungai ini. Ai panemung melambangkan pamendi (empati) seorang pimpinan dan lahirnya panyadu (kepercayaan) dari rakyat yang dipimpin.
Keempat air ini kemudian di-tarak atau disucikan semalam dengan ikhitar doa agar keesokan paginya dapat digunakan untuk prosesi Basiram dan Jeruk Ai Oram.
Prosesi selanjutnya, Basiram adalah ritual adat bersuci (taharah) yakni prosesi menyucikan diri lahir batin sebelum menerima amanat, tugas, dan tanggung jawab yang diembankan padanya. Dalam upacara ini, prosesi Basiram khusus dijalani oleh cucu lelaki tertua dari Sultan Muhammad Kaharuddin IV yaitu Raihan Omar Hasani Priyanto.
Tahapan dalam prosesi Basiram adalah Sateri Ai Mula atau menuangkan air untuk pertama kalinya dengan menggunakan Ai Kadewa yang sudah didiamkan dan diikhtiarkan semalaman. Sateri Ai Mula ini dilakukan oleh PYM. Sultan Muhammad Kaharuddin IV.
Kemudian Sateri Ai Pasiram oleh 7 perempuan pinisepuh yang merupakan saudara terdekat Sultan yaitu sepupu satu kali PYM. Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang berarti pula bahwa ke-7 perempuan pinisepuh ini adalah cucu dari Sultan Muhammad Djalaluddin III yaitu Siti Mutmaennah Daeng Maningratu (Daeng Aning), Hj. Lala Siti Fatimah, Lala Tampawan LK, Lala Siti Hafifah, Hj. Lala Siti Rachmah, Daeng Sri Majenah (Daeng Nun), dan Lala Habira.
Berikutnya Sateri Ai Kasuda atau menuangkan air terakhir sekaligus sebagai penutup prosesi Basiram ini dilakukan oleh Dea Guru Syukri Rahmat, S.Ag., selaku Ketua Dewan Syara’ Majelis Adat LATS.
Prosesi selanjutnya Penganugerahan Gelar Adat Kebangsawanan adalah pemberian gelar bagi puteri, menantu, dan cucu PYM. Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang dilaksanakan pada malam harinya.
Acara inti atau acara puncak dari Upacara Pemberian Gelar Adat Kebangsawanan ini diisi dengan pembacaaan Surat Keputusan (SK) Sultan Sumbawa No.03/SULTAN-SBW/1444-2023 tentang Penganugerahan Gelar Adat Kebangsawanan Kepada Puteri, Menantu, dan Cucu Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang dilanjutkan dengan pemberian sertifikat yang bertuliskan Gelar Adat Kebangsawanan yang diberikan.
Daeng Nadya Indriana Hanoum bergelar Daeng Risompa Datu Intan Ratu. Raden Ali Permadiono Sumedi bergelar Daeng Anggawasita Datu Batara Langi. Daeng Sarojini Naidu bergelar Daeng Masugi Ratu Datu Batari Toja. Sentot Agus Priyanto bergelar Daeng Manassa Datu Patarai. Nadine Kemalasari Sumedi bergelar Daeng Masrilangi. Raihan Omar Hasani Priyanto bergelar Daeng Mas Madinah Datu Raja Muda. Raindra Saadya Ramadhan Priyanto bergelar Daeng Massi. Dan Rayaka Ali Kareem Priyanto bergelar Daeng Manyurang.
Prosesi terakhir adalah Jeruk Ai Oram yaitu prosesi menyucikan diri lahir batin setelah menerima amanat, tugas, dan tanggung jawab yang diembankan padanya. Setelah acara penganugerahan gelar adat kebangsawanan, dilakukan prosesi Jeruk Ai Oram oleh tujuh perempuan pinisepuh Kesultanan Sumbawa dengan cara membasuh bagian muka, lengan, dan lutut para keturunan yang telah dianugerahi gelar adat sambil memanjatkan do’a di dalam hati mengharapkan kehadirat Allah SWT.
Tujuannya untuk memberkati para keturunan ini dengan harapan agar mereka dapat memperkuat dan melanjutkan Kesultanan Sumbawa di masa kini dan mendatang. Rangkaian acara Jeruk Ai Oram ini dilanjutkan dengan pembacaan doa mengharapkan rahmat dan hidayah dari Allah SWT.
Turut hadir dalam acara tersebut sekaligus menyaksikan momen yang sangat bersejarah ini antara lain Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumbawa mewakili Bupati Sumbawa, Drs. H. Hasan Basri MM, Pariwa Adat LATS, Muhammad Yakub Daeng Kusuma Dewa, Ir. H. Iskandar D, M.Ec.Dev, KH. Lalu Zulkifli Muhadli, MM, Wakil Bupati KSB, Fid Syaifuddin ST, Forkopimda, keluarga dekat PYM. Sultan Muhammadi Kaharuddin IV, dan sejumlah pengurus LATS. (SR)






