Menuju Kelurahan Ramah Disabilitas, Kelurahan Bugis Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat

oleh -479 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (21 Oktober 2022)–Pemerintah Kelurahan Bugis Kecamatan Sumbawa tengah berupaya untuk menjadi kelurahan yang inklusi yakni Kelurahan yang ramah terhadap disabilitas. Salah satu upaya yang dilakukan Kelurahan Bugis adalah bekerjasama dengan TP PKK Kelurahan untuk menggelar Pembelajaran Bahasa Isyarat.

Kegiatan yang dipusatkan di Aula Kantor Kelurahan Bugis, belum lama ini, menghadirkan Baiq Khadijah–Ketua Forum Disabilitas Kabupaten Sumbawa selaku narasumber, serta diikuti oleh 50 peserta terdiri dari Kader Posyandu dan kader PKK di wilayah Kelurahan Bugis. Kegiatan yang dipandu Ketua TP PKK Kelurahan Bugis, Erna Ningsih ini berlangsung lancar dan antusias.

Lurah Bugis, Euis Kurniasih S.Pd mengakui bahwa saat ini Kelurahan Bugis berikhtiar untuk menjadi kelurahan ramah disabilitas. Hal ini merupakan amanat UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menyebutkan bahwa, Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh.

Dengan menjadi kelurahan ramah disabilitas, Ia berharap dapat terpenuhinya hak-hak kesejahteraan sosial untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan social.

“Seperti perlindungan khusus dari diskriminasi, penelantaran, pelecehan, eksploitasi, serta kekerasan dan kejahatan seksual,” kata Euis–sapaan lurah perempuan satu-satunya di Kabupaten Sumbawa ini .

Terkait dengan Pembelajaran Bahasa Isyarat, Lurah Euis memberikan apresiasi kepada TP PKK Kelurahan Bugis yang menginisiasinya. Ia menilai belajar bahasa isyarat itu penting, sebagai media komunikasi antara masyarakat dengan para penyandang disabilitas terutama penyandang tuna rungu atau tuna wicara, yang memiliki keterbatasan dalam melakukan komunikasi lisan secara normal.

“Ketika kita mampu berbahasa isyarat, akan mudah bagi kita berinteraksi dengan mereka tanpa harus menggunakan bahasa tulisan maupun bantuan orang lain. Dan kita tidak perlu merasa ragu untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan seperti menanyakan alamat suatu tempat dan lainnya. Kita juga dapat menjadi penyambung lidah untuk membantu mereka berkomunikasi dengan orang lain yang tidak paham bahasa isyarat,” pungkasnya. (SR)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *