Respon Fluktuatif Harga Gabah, Sekda KSB Turun Lapangan, ini Faktanya

oleh -463 Dilihat

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN DINAS KOMINFO KABUPATEN SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BARAT–Setelah malakukan pemantauan di lapangan, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, Amar Nurmansyah menilai bahwa harga gabah saat ini masih normal.

“Hasil turun lapangan di 5 titik yang berbeda, harga gabah di Sumbawa Barat masih relatif normal, harga 3.500 perkilo saat ini sesuai dengan kualitas padinya yang relatif umur panennya belum waktunya,” ungkap Amar Nurmansyah di Desa Lamuntet, Jumat (11/3).

Apabila padinya bagus dan waktu panennya pas, serta kadar airnya maksimal 25% dan kadar hampanya 10% lalu dibeli di bawah harga HPP yaitu Rp 4.200 perkilo menurut Sekda Amar, baru dikatakan harga gabah anjlok.

“Kenapa para pengusaha membeli gabah rata-rata 3.500 rupiah per kilo karena akan ada pekerjaan lagi seperti akan melakukan pengeringan dan mengurangi kadar hampanya. Ini butuh biaya sehingga kami menilai ini masih normal,” jelasnya.

Hal lain turun lapangan ini, ungkap Sekda, ditemukan fakta dan alasan petani melakukan panen cepat. Jika dulu panen dilakukan oleh tenaga manusia dan melibatkan banyak orang, sehingga umum padi yang sudah mencukupi. Namun sekarang panen menggunakan combine. Karena combine sedikit dan yang ingin panen banyak, maka mereka harus berebut. Terpaksa mereka panen cepat mengikuti jadwal penggunaan combine, dengan resiko harga gabah nantinya di bawah HPP. “Ada juga petani yang belum paham  terhadap kualitas padi yang bisa dibayar sesuai HPP, dan saya lihat petani juga mengejar untuk melakukan tanam kedua,” imbuhnya.

Pemda KSB ungkap Amar, sudah menyiapkan anggaran untuk penanganan harga dasar gabah sebesar Rp 2,5 milyar. Dana ini belum digunakan karena harga gabah masih normal.

Salah seorang petani Lamuntet, Rusli mengakui harga gabah hanya Rp 3.500 per kilogram. Dia terpaksa menjualnya karena untuk menyambung hidup sebab petani adalah satu-satunya mata pencahariannya. Rusli juga mengaku melakukan panen cepat, ini karena ketersediaan combine yang minim.

“Kita tidak bisa datangkan Combine kapanpun kita mau, jadi kapan ada combine yang siap maka saat itu kami akan panen secara serentak di satu lokasi. Kalau kami bertahan dengan umur padi harus pas sedangkan tidak ada combine maka kami akan sangat kesulitan mencari yang mau panen, karena sekarang orang panen padi sudah langka,” ujarnya.

Rusli mengaku tidak mengetahui kualitas padi yang bisa dibeli sesuai HPP. Yang dia tahu ketika padinya bagus maka harganya juga bagus.

“Kami hanya bisa berharap kepada Pemda untuk mencari solusi dengan nasib kami, kalau memang harga sulit dikendalikan minimal bisa mengurangi biaya produksi. Misalnya dibuatkan kita jalan usaha tani, apalagi kalau bisa bendungan untuk airi lahan pertanian kami,” pintanya. (HEN/SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *