Dispussip Sukses Gelar Talkshow Nasional, Awal Kolaborasi Tingkatkan Indeks Literasi Masyarakat

oleh -297 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (7 Oktober 2021)

Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispussip) Kabupaten Sumbawa sukses menggelar Talk Show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (ILM) yang berlangsung di Lantai III Kantor Bupati Sumbawa, Rabu (6/10).

Talkshow “Penguatan Peran Sisi Hulu Guna Meningkatkan Indeks Literasi Masyarakat” ini, menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, Bupati Sumbawa, Drs. Mahmud Abdullah, Wakil Bupati sekaligus Bunda Literasi, Dewi Noviany M.Pd, Ketua DPRD Abdul Rafik SH, dan Rektor UTS, Chairul Hudaya Ph.D.

Diawali persembahan Sakeco salah satu seni budaya Samawa oleh Arif dan putranya Arfan dari Cinde Bulaeng, talkshow yang dipandu Dr. Budi Prasetyo, S.Sos, M.AP tersebut disaksikan penuh antusias oleh para peserta baik offline maupun online. Turut hadir menyaksikan secara langsung Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Drs. Deni Kurniadi, M.Hum, dan Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca, Dr. Adin Bondar, M.Si.

“Talk Show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat ini dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman pemerintah daerah tentang pentingnya pembangunan literasi masyarakat dalam meningkatkan daya saing daerah,” kata Muhammad Syarif Bando—Kepala Perpusnas RI mengawali materinya.

Ia menekankan pentingnya bagi siapapun memiliki kemampuan literasi yang baik. Apabila SDM berkualitas dan berdaya saing sudah tercipta, maka itu sudah menjadi garansi bagi perputaran roda ekonomi bangsa serta menjadi rumusan pelaksanaan kebijakan pembangunan nasional di bidang perpustakaan dan literasi masyarakat.

Menurutnya, bangsa yang cerdas ditandai oleh tingkat pendidikan dan kemampuan literasi. Pendidikan dan literasi adalah bagian dari pembangunan manusia yang dapat membuka jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan di masyarakat. Karena itu, pemerintah terus meneguhkan komitmen untuk berinvestasi dalam pembangunan manusia dan menempatkan pendidikan dan sektor sosial-budaya, termasuk literasi pada posisi sentral dalam kebijakan dan program pembangunan nasional.

“Bangsa dengan kemampuan literasi yang tinggi adalah bangsa yang menjadikan perpustakaan sebagai institusi terpenting yang mempunyai peran sentral dalam membangun literate society. Dalam konteks ini, perpustakaan harus dijadikan wahana pembelajaran bersama untuk mengembangkan potensi masyarakat,” tandasnya.

Sementara Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah menyadari tingkat literasi masyarakat memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa. Karena itu salah satu misi pemerintahannya dalam mewujudkan visi besar Sumbawa Gemilang yang Berkeadaban adalah mewujudkan Sumbawa Sehat dan Cerdas melalui peningkatan derajat pendidikan dan kesehatan. Sesuai visi dan misi inilah, pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan indeks literasi masyarakat di Kabupaten Sumbawa.

Ia mengaku bahwa tantangan terberat dalam meningkatkan budaya literasi ini adalah rendahnya minat baca masyarakat. Di Kabupaten Sumbawa, indeks literasi masyarakat masih berada pada kategori rendah, yaitu hanya 51,7 sehingga perlu dilakukan berbagai intervensi yang memadai. Pihaknya pun menargetkan ke depan terjadi peningkatan indeks literasi masyarakat menjadi kategori sedang sampai dengan kategori tinggi.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus berupaya untuk meningkatkan kembali minat baca pada pelajar dan masyarakat dengan lebih intens. Di antaranya melaksanakan kegiatan perpustakaan keliling atau alat teknologi digital lainnya yang mendukung minat baca pelajar dan masyarakat. “Jantungnya pendidikan itu adalah perpustakaan,” ujar Bupati.

Bupati sudah meminta Dinas Pussip, Dinas Dikbud dan Dinas Kominfotik Kabupaten Sumbawa untuk lebih intens melakukan terobosan-terobosan lain yang bisa meningkatkan budaya literasi masyarakat. Optimalisasi gerakan-gerakan literasi pada jenjang pendidikan dasar juga telah kami lakukan, di antaranya dengan menerbitkan Peraturan Bupati Sumbawa Nomor 5 tahun 2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Gerakan Literasi di Sekolah Dasar. Keberadaan Perbup ini diharapkan menjadi pijakan awal untuk membangun minat baca sejak dini bagi siswa sekolah dasar di Kabupaten Sumbawa.

Hal senada dikatakan Wakil Bupati Dewi Noviany M.Pd yang juga Bunda Literasi. Dalam mendukung kesadaran minat baca, pihaknya akan menghadirkan Pojok Bacaan, bukan hanya di kota tapi juga di desa-desa. Di sekolah juga demikian, mewajibkan adanya pojok literasi di setiap kelas yang berisi buku-buku ilmu pengetahuan. Pihaknya juga mengintesifkan program one day one page (satu hari satu halaman).

Ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan minat baca bagi siswa, guna memperdalam ilmu dan memperluas wawasan. Kegiatan ini merupakan peningkatan dari kegiatan yang diadakan pemerintah yang mewajibkan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran. “Saat saya jadi guru, sebelum memulai pelajaran kami mewajibkan siswa membaca buku selama 15 menit,” imbuhnya.

Ia berharap, ketika seorang siswa sudah terbiasa membaca sejak dini, maka pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan setelah bekerja dan berkeluarga pun menjadi manusia yang hobi membaca. Dengan kata lain, pembiasaan membaca di SD akan menjadi pondasi pada seorang siswa. Ketika membaca telah menjadi hobi, maka hal tersebut akan dilakukan dengan penuh suka cita dan penuh cinta.

Di tempat yang sama, Ketua DPRD Sumbawa, Abdul Rafiq menyatakan komitmennya untuk mendukung peningkatan indeks literasi masyarakat Kabupaten Sumbawa yang masih terbilang rendah. “Ini bukan hanya kerja bupati dan dinas terkait saja, tapi ini kerja sama dan bergotong-royong,” ujar Rafiq.

Dalam meningkatkan literasi ini, ungkap Rafiq, selain mendukung anggaran juga mengusulkan payung hukum berupa Ranperda. Dalam Ranperda ini semua diatur mulai dari hak dan kewajiban pemerintah dan masyarakat, juga tenaga, pengawasan hingga pembiayaannya. “Silakan Dinas Perpustakaan dan Arsip mengajukan anggaran apa yang menjadi programnya ke depan untuk meningkatkan literasi masyarakat, kami siap memback-up untuk bisa direalisasikan,” tandasnya.

Rektor UTS, Chairul Hudaya Ph.D memaparkan tentang berbagai program kampus termasuk program yang digagas Kemendikbud, Nadiem Makarim yakni Program Merdeka Belajar atau Kampus Merdeka. Program ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sebagaimana dikatakan Kepala Perpusnas bahwa ilmu itu semakin cepat bergerak, sehingga sekarang disebut era revolusi industri 4.0.

Di era ini diprediksikan oleh salah satu konsultan internasional, akan ada 23 juta pekerjaan yang hilang pada tahun 2030. Namun sebaliknya juga memprediksikan akan timbul pekerjaan baru yang lebih banyak sekitar 27—46 juta. Karena itu semua pihak harus mempersiapkan generasi-generasi muda ini dengan interaksi literasi yang dibutuhkan sesuai dengan zamannya. Di antaranya meningkatkan kreativitas, critical thinking collaboration dan komunikasi.

Inilah yang kemudian oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo yang arah pembangunan SDM kedepan itu difokuskan kepada pendidikan karakter, pemberdayaan teknologi dan inovasi bagaimana dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru. Karena itu perguruan tinggi harus memiliki daya saing yang inovatif. “Sebagai salah satu perguruan tinggi tentu saja kita harus sejalan dengan kebijakan pemerintah, salah satunya adalah penerapan program merdeka belajar,” tutupnya.

Talkshow ini dihadiri Sekda Sumbawa, Drs. H. Hasan Basri MM, Forkopimda, Kepala Dispussip NTB, Julmansyah, S.Hut, M.A.P, Kepala Dispussip Kabupaten Sumbawa H. Sahril, S.Pd, M.Pd, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia yang menyaksikan lewat zoom ataupun YouTube, para pustakawan, guru, mahasiswa, pengelola perpustakaan, dan pegiat literasi. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *