Pemilik Tanah Ancam Bercocok Tanam di Lahan Smelter

oleh -689 Dilihat

SUMBAWA BARAT, samawarea.com (19/7/2021)

Pemilik lahan sudah mulai geram dengan sikap petugas pembebasan lahan pembangunan smelter. Pasalnya mereka menilai petugas tersebut tidak memiliki itikad baik dalam menyelesaikan persoalan lahan untuk pembangunan smelter. Karena itu para pemilik lahan mengancam akan kembali bercocok tanam di lahannya tersebut.

Salah satu pemilik lahan, Alwi Alhindowan, Minggu (18/7) menyatakan sangat kecewa dengan tim pembebasan lahan dan PT. AMNT yang sampai saat ini belum menyelesaikan pembayaran tanahnya. Dia mengaku sudah bertemu dengan tim pembebasan lahan untuk menanyakan prihal permasalahan tersebut. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan.

“Saya menunggu berhari hari sampai sekarang belum ada titik terangnya sehingga kami beserta masyarakat lainnya yang bernasib sama datang menjenguk lahan kami yang sudah digusur tanpa sisa,” katanya.

Para pemilik lahan ungkap Alwi, telah memberikan deadline satu minggu. Jika selama masa itu belum juga ada titik terang, mereka akan bercocok tanam di lahan tersebut.

“Secara pribadi saya sangat mendukung adanya pembangunan smelter ini, tapi jangan mengatasnamakan kepentingan rakyat terus hak-hak kami diabaikan. Kalau prosesnya seperti ini bukan kami yang tidak mendukung pembangunan smelter tapi tim pembebasan lahan dan perusahaan yang tidak serius membangun smelter ini. Luas lahan saya yang belum dibayar sama sekali 63,20 are,” tukasnya.

Ia berharap kepada perusahaan segera membayar tanah mereka agar pembangunan smelter cepat terealisasi. “Kepada pemerintah, tolong bantu kami masyarakat yang lemah ini untuk mendapatkan keadilan dan terpenuhi hak-hak kami,” pintanya.

Hal senada dikatakan H. Ilham, pemilik lahan lainnya. Disebutkannya tanah seluas 34 Are yang dibebaskan untuk pembangunan smelter, hingga kini pembayarannya belum tuntas. Sebenarnya tanahnya sudah dibayar namun dikembalikan. Sebab ada kesepakatan antara dia dan tim pembebasan lahan yang oleh tim tersebut. “Alasan itulah yang membuat uang pembayaran saya kembalikan, dan menuntut kesepakatan yang dibuat direalisasikan,” tandasnya.

Kesepakatan dimaksud, ungkapnya, bahwa semua lahan miliknya baik yang berada di dalam atau di luar wilayah Otak Kris harus dibayar secara bersamaan. Namun dalam perjalanannya, pembayaran hanya dilakukan di Otak Kris, sementara lahan di luar Otak Kris belum dibayar.

Dia hanya dijanjikan, sehingga dengan terpaksa mengembalikan separuh uang tersebut. Selain itu H Ilham juga mempertanyakan harga sebenar tanah mereka dari hasil perhitungan appraisal.

“Kami duga ada yang bermain terhadap harga tanah kami. Kami juga menduga tim membeli dengan harga rendah ke kami dan menjualnya kembali ke perusahaan dengan harga tinggi. Spekulasi seperti ini muncul karena tidak transparan dalam masalah harga yang dinilai oleh tim appraisal. Bukti surat jual beli yang tidak ada nama pembelinya,” bebernya.

Karena itu langkah tepat bagi mereka selaku pemilik lahan untuk kembali menduduki lahannya. “Kalau tidak ada kejelasan, kami akan bercocok tanam kembali seperti biasanya. Semoga aspirasi kami ini didengar oleh orang yang bisa menyelesaikan permasalahan ini,” imbuhnya.

Sementara itu Head Coorporate and Communication Amman Mineral, Kartika Oktaviana yang dihubungi berulang kali maupun dikonfirmasi via whatsapp, tidak memberikan jawaban.

Pantauan media ini di lokasi Smelter, tidak ada aktivitas apapun. Tak satupun alat berat terlihat di lokasi. Hanya rumput-rumput sudah mulai tumbuh. Konstruksi bangunan hanya tembok keliling, sedangkan bangunan lain tidak ada yang dibangun baru. Hanya ada bekas mushollah yang dibangun masyarakat Otak Kris, bukan dibangun oleh pihak perusahaan. Tampak dua orang security yang berjaga. (HEN/SR)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *