Survey IISBUD Sarea: Kepatuhan Masyarakat Sumbawa Tinggi, Namun Rendah Edukasi

oleh -8 views

Terkait Covid-19

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (21/4/2020)

DPRD

Awal tahun 2020, Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) atau familiar dengan sebutan Corona telah masuk ke Indonesia dan mewabah hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk juga Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemerintah Provinsi NTB telah merilis data resmi per 21 April 2020 yang menyebutkan bahwa 108 penduduk NTB telah dinyatakan positif mengidap Covid-19. Sementara itu, 9 orang di antara 108 penduduk yang terpapar virus tersebut berdomisili di Kabupaten Sumbawa. Pemerintah daerah telah berupaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus, baik melalui kebijakan social distancing, meliburkan sekolah dan menetapkan agenda work from home (WFH) bagi para pekerja maupun agenda physical distancing. Menanggapi hal tersebut, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea (IISBUD SAREA) melakukan survei dengan tujuan untuk memotret pengetahuan, perilaku dan pandangan masyarakat Kabupaten Sumbawa terkait Covid-19.

Miftahul Arzak, S,Ikom., MA selaku Rektor IISBUD Sarea mengatakan, survei tersebut dikerjakan oleh Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat (LRPM) IISBUD Sarea. Survei dilaksanakan pada tanggal 15–20 April 2020 dengan metode multistage random sampling, Margin of Error 4,6%, tingkat kepercayaan 95%, sehingga mendapatkan 500 responden yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Sumbawa dengan persebaran jenis kelamin dan pekerjaan secara proporsional.

Ditambahkan Kepala LRPM IISBUD Sarea, Samsudin M.Pd, bahwa survei ini penting untuk dilakukan. Berdasarkan pengamatan, sejak pertama kali informasi Covid-19 ini tersebar di Kabupaten Sumbawa, ada beragam reaksi yang dilakukan dari tingkatan pemerintah daerah, legislatif, beberapa lembaga kemanusiaan, relawan yang berasal dari berbagai kalangan serta masyarakat itu sendiri. Beragam reaksi tersebut terbilang semuanya positif, dari penyemprotan disenfektan, pembagian sembako bagi masyarakat terdampak, pembagian masker dan kegiatan positif lainnya. Namun, dari hasil survei IISBUD Sarea, ada yang tidak kalah penting, yaitu edukasi terkait penyebaran, cara mencegah dan istilah-istilah ilmiah yang sering muncul di media maupun yang bermunculan di baliho-baliho terkait covid-19 yang sudah menyebar di seluruh desa. Misalnya ketika tim survei menanyakan terkait bagaimana seseorang dinyatakan positif Covid-19, masih ada 32,6% masyarakat belum mengetahuinya dan proses pengambilan spesimen ada 78,6% masyarakat yang tidak mengetahui alurnya. Belum lagi ketika ditanyakan istilah physical distancing ada 52,4% masyarakat yang tidak mengetahui artinya. Padahal kegiatan tersebut sudah dan sedang mereka lakukan, namun pengetahuan-pengetahuan itu terbatas karena tidak dibersamai dengan edukasi istilah-istilah dan alur dalam menghadapi Covid-19.

Baca Juga  Kurangi Resiko Bencana, Basarnas Latih Tehnik Pertolongan di Perairan

Istilah lainnya seperti ODP atau Orang Dalam Pemantauan, masyarakat yang menyatakan tidak mengetahui istilah ini sebesar 37,4%. Adapun istilah PDP atau Pasien Dalam Pengawasan tidak diketahui sebesar 45,8%. Istilah-istilah lainnya yang kerap diperdengarkan melalui beragam media, seperti halnya suspect sebesar 75,4% belum mengetahui arti dan maknanya. “Walaupun di beberapa data ada tingkat pengetahuan lebih tinggi dibandingkan ketidaktahuan, namun tingkat ketidaktahuan juga masih tergolong tinggi,” jelas Samsudin M.Pd.

Di sisi lain, temuan di dalam survei ini juga menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan masyarakat Kabupaten Sumbawa atas anjuran dan peraturan pemerintah sudah sangat baik. Peraturan agar tetap menjaga jarak 2 meter, telah diikuti oleh masyarakat Kabupaten Sumbawa sebesar 92,6%, 4.4% kadang-kadang melaksanakannya dan 3% belum mengikuti. “Ketidak-ikutsertaan dari 3% dan jarang melakukan sebanyak 4.4% masyarakat ini dikarenakan oleh beberapa faktor, misalnya adanya anggapan bahwa jumlah yang positif Covid-19 di Kabupaten Sumbawa masih kecil ataupun faktor lainnya seperti halnya keharusan mereka untuk beraktifitas di luar rumah,” ungkap Samsudin, M.Pd.

Sejalan dengan tingkat kepatuhan untuk menjaga jarak tersebut, terjadi beberapa perubahan pola perilaku masyarakat karena pandemi ini. Misalnya, saat beraktifitas di luar rumah, masyarakat Kabupaten Sumbawa yang menggunakan masker sebesar 82,6%, 4.6% jarang melakukan dan 12,8% belum menggunakan masker. Masih banyak yang jarang bahkan tidak menggunakan masker dikarenakan oleh pasokan masker yang kian hari kian menipis, sehingga masyarakat sulit untuk mendapatkannya.

Baca Juga  Banyak yang Bukan Pelanggan di Bungin Manfaatkan Air PDAM Secara Ilegal

Temuan lainnya di dalam survei ini menyebutkan bahwa 95,8% masyarakat Kabupaten Sumbawa menggunakan handsanitizer atau mencuci tangan sebelum melakukan aktifitas dan 96,6% melakukan hal yang sama sesudah beraktifitas. Hal ini menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi dari masyarakat Kabupaten Sumbawa terkait dampak dari pandemi tersebut. Begitupun terkait gejala-gejala yang muncul selama pandemi, 96,8% masyarakat menceritakan kepada keluarganya apabila muncul gejala-gejala terkait dirinya di tengah wabah Covid-19, 0.6% jarang melakukan dan 2,6% menyatakan tidak memberi informasi siapapun. Hanya saja, pemahaman masyarakat dinilai masih minim terkait langkah-langkah apa yang semestinya diambil jika muncul salah satu gejala dari Covid-19 tersebut. Karena itu, perlu kiranya untuk tetap memberikan edukasi dan pengetahuan lebih dalam terkait pandemi ini. (SR)

DPRD DPRD