Dua Skema Kepemimpinan Strategis Menuju Sumbawa Berkemajuan

oleh -667 Dilihat
Heri Kurniawansyah HS

Oleh : Heri Kurniawansyah HS (Dosen Fisipol Universitas Samawa)

Tulisan ini merupakan review ke dua dari tulisan yang berjudul “Mendeteksi Calon Pemimpin Yang Paling Dibutuhkan Sumbawa” yang telah dimuat di rubrik “samawarea.com dan pulausumbawanews.com” beberapa pekan lalu. Dalam tulisan sebelumnya, penulis telah menyajikan secara holistik beberapa data kualititatif dan kuantitatif beserta mapping masalah berbasis budgeting (APBD) di Kabupaten Sumbawa, yang selanjutnya dari mapping masalah tersebut, penulis bisa mendeteksi secara rasional pemimpin seperti apa yang paling dibutuhkan oleh Sumbawa ke depannya. Dalam tulisan tersebut, penulis telah membuat skema kepemimpinan strategis untuk Sumbawa kedepan melalui ilustrasi gambar di bawah ini :

Skema I : Pola Kepemimpinan Efektif untuk Sumbawa 2020

Sumber : Analisis Penulis.

Pola tersebut merupakan skema pertama yang lebih menenkankan betapa pentingnya eksistensi pemimpin yang mampu meningkatkan APBD secara signifikan untuk Sumbawa, sebab dari beberapa mapping masalah mendasar yang telah penulis deskripsikan sebelumnya, penulis menemukan bahwa sumber lambatnya perubahan dan pembangunan yang ada di Kabupaten Sumbawa lebih kepada dominasinya belanja pegawai (belanja tidak langsung), sehingga belanja pembangunan (belanja langsung) begitu minim dari total APBD yang dialokasikan. Poin utama dalam analisis pertama ini adalah minimnya anggaran untuk pembangunan membuat banyak target pembangunan yang strategis tidak terlaksana.

Penulis menyadari bahwa pola kepimpinan pada skema pertama tersebut sangat sulit untuk dipenuhi. Menurut penulis, ada beberapa faktor mendasar yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya keterbatasan kemampuan lobi dan jaringan yang ada pada beberapa calon pemimpin kita, perilaku primordial masyarakat yang masih sangat kuat, artinya masih sulitnya masyarakat menerima sesuatu hal yang baru, meskipun yang baru tersebut bisa jadi mampu memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat itu sendiri. Selain itu, kondisi geo politik dan karakteristik Sumbawa yang masih sangat tradisional menyulitkan kita berpihak kepada prinsip-prinsip modern dengan orang-orang baru di lingkungan kita, sehingga membuat kita sulit untuk mendapatkan tipe pemimpin seperti pada skema yang pertama, meskipun menurut penulis skema yang pertama tersebut adalah skema yang paling sempurna diantara skema yang lainnya.

Sebenarnya, dengan skema pertama tersebut, penulis meyakini sumbawa akan mampu merubah wajahnya yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Bayangkan jika Sumbawa mampu meningkatkan APBDnya secara signifikan, kemudian dipimpin oleh orang kreatif, maka bisa dipastikan Sumbawa yang akan jauh lebih progressif dan akseleratif dari daerah-daerah lainnya. Namun menyadari akan sulitnya mendapatkan tipe kepemimpinan seperti pada skema pertama tersebut, penulis menganalisis pola pada skema ke dua yang lebih sederhana dari skema yang pertama yaitu pola kepemimpinan berbasis problem solving yang didasarkan pada potensi sumberdaya (resources) yang dimiliki Sumbawa saat ini. Pada Skema ke dua ini, penulis telah melakukan pemetaan sederhana terhadap kekuatan/sumberdaya (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) untuk Sumbawa kedepan seperti yang tertuang gambar dibawah ini :

Skema II : Pola Kepemimpinan Efektif untuk Sumbawa 2020

Sumber : Analisis Penulis

Skema kedua ini mengambil pola terbalik dari skema yang pertama, dimana skema pertama sebagai titik tekannya lebih kepada mengandalkan pemimpin yang mampu mendatangkan APBD yang signifikan untuk Sumbawa agar Sumbawa bisa berbuat banyak untuk warganya, sementara pada skema yang kedua ini adalah lebih menekankan kepada “Creative Leader” yang melalui feedback kebijakan dan program kerja nantinya mampu membawa benefit yang banyak bagi publik dan mampu menambah APBD itu sendiri di ujung programnya, artinya bahwa penguatan pola kepemimpinan ini akan fokus pada penguatan resources internal, itulah yang disebut dengan kinerja berbasis outcome dan impact.

Untuk merakayasa itu semua dengan anggaran yang terbilang minim tersebut, maka satu-satunya jalan menuju Sumbawa berkemajuan itu adalah Sumbawa harus dipimpin oleh orang kreatif. Inilah main value dari skema yang ke dua ini. Jika pemimpin itu adalah tipe pemimpin kreatif, meskipun dengan jumlah kas daerah yang minim, kita masih mendapatkan keuntungan dalam posisi ini, yang celaka adalah ketika sudah tidak mampu mendatangkan uang banyak, pada saat yang sama dia adalah tipe pemimpin yang kurang kreatif, maka ini adalah masalah besar bagi Sumbawa. Pastikan saja kita tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa jika kita tidak memiliki tipe pemimpin dari salah satunya tipe tersebut.

Lalu bagaimana konkrtinya pemimpin kreatif itu bagi Sumbawa?, pemimpin kreatif itu tembakannya lebih kepada perombakan dan formulasi kebijakan berbasis outcome dan impact, bukan berbasis process. Dia akan mencari formulasi lain dengan cara yang tepat dan cepat dengan target mendapatkan hasil dari kinerja yang dia lakukan. Dia juga akan mempertimbangkan benefit dari setiap proses yang dia lakukan, yang dia tahu bahwa target dari setiap program yang dia buat akan mendatangkan manfaat dan hasil untuk publik (pemerintah dan warga), dimana warganya mendapatkan manfaat pembangunan dari kebijakan dan programnya, sedangkan pemerintah mendapatkan peningkatan PAD–APBD dari hasil kinerjanya.

Tipe kretif itu bukan berbicara pada ranah eksklusif namun nihil target, tetapi dia bermain pada peristiwa sederhana namun kaya hasil, dengan kata lain bahwa dia mampu merubah hal yang biasa menjadi luar biasa, hal yang tidak potensial menjadi peluang yang potensial, hal yang lambat menjadi lebih cepat, pada akhirnya terjadi akselerasi pembangunan untuk Sumbawa kedepan. Sebaliknya jika pemimpin itu tidak kreatif, maka dia tidak akan mampu merombak atau memformulasikan kebijakan dan program dengan anggaran seadanya, akibatnya pelaksanaan kebijakan jatuhnya hanya bersifat rutinitas semata tanpa hasil yang signifikan. Misalnya, salah satu contoh yang bisa menjadi refresentasi dari bidang lainnya adalah pelayanan publik (public service) sebagai fungsi utama dari pemerintah (birokrasi) itu sendiri, maka pemimpin kreatif itu tidak lagi berbicara pada pola tradisional yang akan memperlambat pelayanan publik. Dia akan melakukan penajamanan dan penyederhanaan prosedur (streamlining) sehingga publik merasa terbantukan dan nyaman dalam urusan pelayanan publik.

Banyak formulasi yang bisa dilakukan dalam hal ini, diantaranya menghilangkan formalitas dan rigid dalam praktik pelayanan publik yang justru membuat publik gerah dengan pemerintah, memberikan diskresi yang lebih pada bawahan agar mereka mampu mengambil inisatif yang lebih dalam merespon perubahan dan dinamika kebutuhan publik, dan opsi lainnya yang dianggap lebih mudah dan cepat dari model pelayanan yang sebelumnya. Semuanya itu bermuara pada “persepsi baik”. dari publik itu sendiri, pun dengan bidang-bidang lainnya. “Jika cara-cara biasa dianggap gagal, maka carilah cara lain yang tidak biasa namun berhasil. Sesederhana itu paradigma berpikir kita untuk membangun Sumbawa”.

*Catatan : Strategi penguatan pelayanan publik untuk mewujudkan reormasi birokrasi

bersambung ke tulisan berikutnya.

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *