KERJASAMA MEDIA ONLINE SAMAWAREA DENGAN DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KABUPATEN SUMBAWA
SUMBAWA BESAR, SR (09/10/2018)
Keberadaan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di setiap kecamatan sangat penting terutama bagi para petani ternak. Sebab di instansi tersebut semua pelayanan mengenai kesehatan hewan akan dilayani. Apalagi saat terjadinya pergantian musim yang menyebabkan banyak hewan ternak yang sakit sehingga membutuhkan pelayanan atau tindakan dari petugas Puskeswan setempat. Namun sebagian besar bangunan Puskeswan di beberapa kecamatan wilayah Kabupaten Sumbawa mengalami kerusakan dan tidak representative. Ada juga yang memiliki bangunan bagus tapi tidak dilengkapi dengan pagar.
Untuk mengatasi hal itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Sumbawa meminta bantuan pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) agar dapat tertangani pada Tahun 2019 mendatang. “Ada beberapa Puskeswan yang sudah kami usulkan agar dibantu pusat pada Tahun 2019,” kata Kadis Pertenakan setempat, Ir. Talifuddin M.Si saat ditemui SAMAWAREA di ruang kerjanya, Senin (8/10) kemarin.
Puskeswan yang diusulkan sebut Talif—sapaan pejabat low profil ini, di antaranya Puskeswan Orong Telu yang sudah dalam kondisi rusak, Puskeswan Buer yang rusak akibat bencana gempa dan lainnya. Ada juga yang diusulkan untuk pembangunan pagar seperti Puskeswan Empang, Plampang dan Lape. Sejauh ini pihaknya masih menunggu informasi pusat mengenai usulan tersebut. Biasanya akhir tahun, pusat mengabarkan mengenai realisasi dan besarnya anggaran yang dikucurkan untuk menangani hal tersebut. “Nanti seperti biasa akhir tahun kita dipanggil, berapa yang di-Acc. Sebab anggaran pusat kita masih gabung dengan Pertanian di Kementerian Pertanian, hanya beda Dirjen. Jadi setelah dihitung berapa porsi untuk pertanian, barulah kita,” ungkapnya.
Populasi Ternak Sumbawa
Disinggung mengenai populasi ternak di Kabupaten Sumbawa, Talif mengaku cukup mengalami perkembangan terutama ternak sapi. Untuk sapi mengalami perkembangan signifikan dan sekarang tercatat sekitar 244 ekor. Namun berbeda dengan kerbau dan kuda yang mengalami penurunan.
Salah satu faktornya, peternak lebih cenderung memelihara sapi ketimbang kerbau. Selain pemeliharaannya gampang, bisa dilepas secara liar dan sapi lebih cepat perkembangannya. Meski sapi dan kerbau sama-sama menguntungkan dari segi ekonomi, tapi yang membedakan adalah pemeliharaan. “Kerbau kalau dijual lebih mahal dari sapi. Hanya perkembangannya yang agak lama,” imbuhnya.
Bahkan banyak peternak menjual kerbau untuk membeli sapi. Belum lagi ada program Gema JIPI (Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung Terintegrasi Sapi) yang membuat minat peternak untuk memelihara sapi semakin tinggi. Dengan program tersebut, peternak mendapat nilai tambah secara ekonomi. Asalkan pemeliharaan sapinya dikandangkan. Sebab urinenya bisa dijadikan pupuk dan pestisida, sedangkan kotorannya juga dijadikan pupuk buatan, pupuk organic padat dan biogas. Belum lagi tanaman jagung petani yang limbahnya bisa diolah menjadi pakan ternak. “Jadi tidak ada yang dibuang. Ini sangat menguntungkan petani dan peternak. Ini kami terapkan di dua kecamatan yaitu Labangka dan Lunyuk sebagai pilot project Gema JIPI,” pungkasnya. (JEN/SR)








