SUMBAWA BESAR, SR (14/09/2018)
Kegiatan Tenun dan Fashion Street Fest Sail Indonesia Moyo Tambora 2018 yang digelar di Jembatan Samota belum lama ini dikecam berbagai pihak. Sebab dalam acara tersebut salah satu peserta mengenakan busana yang memamerkan aurat. Busana yang dikenakan seorang model wanita ini belahannya hingga pangkal paha. Pemandangan yang terlihat tabu ini dinilai bertentangan dengan adat budaya Samawa yang sangat religious, yakni adat barenti ko sara, sara barenti ko kitabullah. Banyaknya kecaman membuat para desainer yang terlibat dalam event wisata itu memberikan klarifikasi. Dalam jumpa persnya di ruang rapat Wakil Bupati Sumbawa, Jumat (14/9), Ali Agysah yang mewakili para desainer, menceritakan tentang konsep dari acara fashion show tersebut. Dituturkannya, acara pada malam itu diawali dengan penyajian sebuah tarian mistis yaitu tarian Dulang Pasangka yang disajikan Sanggar Seni Riam Bagentar Desa Sebasang Kecamatan Moyo Hulu. Yang memiliki makna rasa syukur, rasa sukacita atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setelah penyajian itu, muncul 6 model memperagakan busana adat Sumbawa yaitu pakaian Sumbawa Salonang Antin, Busana Lonas Pabite, Busana Lante Gadu, Busana Ceremonial of Barodak, Busana Pangantan Basapu, dan Busana Palace Style. Dan dilanjutkan dengan parade kreasi kre alang yang diperagakan oleh ibu-ibu yang aktif di organisasi kewanitaan dan memiliki minat terhadap dunia fashion. Dua peragaan ini menggambarkan awal dimulainya sebuah peradaban yang berlandaskan budaya, spiritual, dan ketuhanan.
Setelah dua penyajian peragaan ini, muncul kelompok anak yang mempresentasikan gaun berbahan dasar tenun khas Sumbawa dan Bima. “Disini kita menggambarkan keceriaan dari dunia anak-anak.Dari sini kami ingin menceritakan bahwa anak-anak akan membawa peradaban ini menuju ke hal yang lebih baik sebagai harapan dan dibekali dengan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal,” jelasnya.
Di peragaan ke empat, lanjut Ali, menampilkan tiga model gadis remaja dan 10 model pria remaja. Dalam peragaan ini menceritakan tentang kehidupan remaja, yang tidak bisa dipungkiri meski sudah dibekali dengan pendidikan aklaq, tapi setelah menuju usia remaja, lingkungan sangat berpengaruh terhadap pergaulan mereka. “Inilah yang kami ceritakan melalui karya kami,” ujarnya.
Peragaan selanjutnya, masuk kepada titik terendah kehidupan berupa manusia. Ia mengambil contoh bencana gempa NTB. Melalui 3 karya futuristic yang memiliki detail yang tidak biasa dan tidak beraturan yang menceritakan tentang bencana gempa yang baru saja menimpa NTB.
Selanjutnya peragaan ditampilkan dengan menghadirkan 5 model pria membawakan busana formal berbahan tenun NTB. Disini menjadi salah satu cara menceritakan tentang titik balik manusia setelah terkena bencana, memunculkan semangat untuk mencari lagi peradaban yang hampir hilang. Disini juga ditampilkan 8 koleksi busana pesta modifikasi berbahan dasar tenun NTB dengan konsep muslimah. Ini menceritakan bahwa Sumbawa tidak buta dan mampu menerima gempuran globalisasi yang modern, namun tetap berpegang teguh pada syariat dan adat istiadat, dengan memahami falsafah hidup Tau Samawa Adat Barenti Ko Sara, Sara Barenti Ko Kitabullah.
Dan terakhir show ditutup dengan penampilan 8 koleksi busana karya desainer Provinsi dan 10 koleksi busana karya desainer Nasional yang semuanya bertemakan busana pesta muslimah. “Di atas saya menceritakan konsep pagelaran yang dilaksanakan pada hari rabu, 12 september 2018 kemarin. Namun setelah pelaksanaannya, banyak muncul stigma negatif dari masyarakat, terutama warga net. Terkait salah satu dari koleksi kita yang dikatakan melanggar syariat yang ada di Tana Samawa,” imbuhnya.
Ali mengaku kecolongan dan sangat menyadari ini murni kesalahan mereka. Dan busana yang diperdebatkan sebenarnya bentukannya bukan seperti yang beredar saat ini, tapi didesain dengan menutup belahan. Sayangnya tutupan belahan tersebut dibuat terpisah. Ketika show akan dimulai, ternyata tutupan belahan tersebut ketinggalan di galeri desainer dan waktu tidak memungkinkan untuk mengambilnya, karena show segera dimulai.
Karena itu mewakili para desainer yang tergabung dalam Sumbawa Fashion Community (SFC) menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah dan masyarakat Sumbawa atas ketidaknyamanan terkait hal tesebut. “Kami menjadikan hal ini sebagai suatu pembelajaran yang sangat berharga agar di kesempatan lainnya tidak akan mengulanginya, dan lebih memahami etika dan estika berbusana Tau Samawa,” ucapnya.
Hadir dalam jumpa persnya yang difasilitasi Kasubag Humas Setda Sumbawa, Rudi, di antaranya Kadis Porabudpar, Ir H. Junaidi M.Si, dan H. Hasanuddin S.Pd Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa. (JEN/SR)






