MATARAM, SR (15/11/2016)
Gubernur NTB, TGH Muhammad Zainul Majdi mengajak umat Islam NTB untuk selalu mengayomi kaum minoritas yang ada di NTB. Ia berpandangan, dampak negatif dari kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur Jakarta Basuki Tjahya Purnama alias Ahok, justru menyebabkan rasa ketidakpercayaan satu sama lain di antara umat beragama. Hal ini bisa dilihat dari sering terjadinya aksi saling hujat antar agama di sosial media. “Saya sayangkan ada juga akun dari NTB ikut-ikutan, saya harap kita saling ingatkan umat kita, biar proses hukum bisa selesai dengan keadilan,” ucapnya.
Ia mengajak semua pihak untuk saling menghormati antar umat beragama, khususnya di NTB. Dia yang juga hadir dalam aksi 411 di Jakarta, mengaku kagum dengan semangat umat Islam yang tidak rela kitab sucinya dilecehkan. “Saya kebetulan hadir, kiri-kanan saya ada yang buta, pincang, semua bergerak karena kitab sucinya disebut dengan sebutan yang tidak baik, betul-betul menyatu karena semangat membela Alquran,” dia menceritakan.
Namun, ia menegaskan, hal tersebut tidak boleh melebar dengan tuntutan lain, termasuk menjatuhkan pemerintahan. “Kalau judulnya bela Alquran tidak boleh melebar menjatuhkan pemerintah, kalau itu terjadi tugas kita untuk kembalikan ke rel yang benar,” terangnya.
Ia menilai, energi dan semangat yang dikeluarkan pada aksi 411 sungguh luar biasa. Namun, energi dan semangat ini pasti akan mengecil jika tujuannya beralih kepada isu politik. “Kalau masalahnya penistaan Alquran kita menuntut hukum ditegakkan, insya Allah kepolisian amanah,” lanjutnya.
Dia mengharapkan, kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok agar bisa diselesaikan dengan adil. Jika hal ini tidak dilakukan dengan adil, kemungkinan besar, hal serupa akan terjadi lagi di masa yang akan datang. “Umat beragama NTB menentang segala macam penistaan agama, kitab suci dan simbol agama apapun oleh siapapun,” tandasnya. (NA/SR)







