SUMBAWA BESAR, SR (28/11/2016)
Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea (IISBUD SAREA) menyelenggarakan acara “Bedah Buku” belum lama ini. Acara bedah buku dengan tema “Eksistensi Daerah Pedalaman Dalam Tuntutan Nasional (suatu konstruksi sosial kearifan lokal masyarakat Batulanteh Sumbawa)” merupakan hasil karya Dianto SH MH– Dosen Ilmu Pemerintahan di IISBUD.
Bedah buku ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa agar dapat mengembangkan daya kreativitas dan inovasi sehingga IISBUD dapat melahirkan generasi-generasi yang berkompeten. Selain itu acara ini diharapkan dapat melahirkan ide-ide atau karya baru mahasiswa. Diskusi bedah buku tersebut diikuti mahasiswa dan dosen IISBUD SAREA, Kaprodi Sosiologi, Sofian Hariyadi M.,Si sebagai Pembanding Utama dan Kaprodi Ilmu Pemerintahan Jazardi Gunawan S.Ip MH sebagai Pembanding Kedua. Dalam acara bedah buku ini penulis memaparkan bagaimana masyarakat Batu Lanteh Sumbawa yang memiliki keunikan dari desa-desa lainnya di Sumbawa, salah satunya adat istiadat yang masih kental dan dijunjung tinggi, serta sistem kekerabatan yang masih sangat erat. Dianto mengemukakan alasan menulis buku ini yaitu terinspirasi dari pandangan atau persepsi masyarakat luas terhadap masyarakat di daerah pedalaman (Desa Bao) yang cenderung memiliki status ekonomi dan pendidikan rendah, serta gagap teknologi. Dianto menambahkan bahwa ia mulai menulis bukunya sejak di bangku perkuliahan.
Sementara Kaprodi Sosiologi Sofian hariyadi M.Si mengoreksi isi buku bahwa setiap perubahan yang bersifat global tidak harus serta-merta ditolak tetapi masyarakat harus pandai menfilter perubahan tersebut terutama bagi masyarakat Batu Lanteh (Desa Bao). Hal ini dapat dilihat dari kutipan penulis yang mengatakan bahwa masyarakat Batulanteh telah merasa nyaman menggunakan rumah panggung meskipun telah datang perubahan yang mengkonstuksikan bangunan rumah batu.
Sedangkan Kaprodi Pemerintahan, Jazardi Gunawan S.Ip., MH menilai di dalam buku tersebut terdapat kesalahan setingan gambar dalam acara resepsi pernikahan, yang letak posisi mempelai pria seharusnya berada di sebelah kanan justru berada di sebelah kiri. Demikian dengan posisi mempelai wanita. Selain itu Jazardi merasa ragu dengan foto yang tertera di dalam buku, apakah asli masyarakat Batu Lanteh atau tidak.
Acara bedah buku berlangsung hangat. Banyak kritikan dan masukan yang dilontarkan narasumber pembanding dan peserta yang hadir, sehingga membuat acara lebih hidup dan interaktif. (JEN/SR)






