Kebobrokan Sistem Kapitalisme Sebagai Alat Penjajahan Asing

oleh -148 views

Oleh: Arif Rahman, Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen, Konsentrasi Keuangan

SUMBAWA BESAR, SR (01/08/2016)

Kapitalisme atau capital adalah sistem ekonomi dimana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Akses terhadap barang dan jasa diberikan kepada setiap individu dalam masyarakat yang memiliki andil dalam rantai produksi. Pasarpun memiliki peran dalam menentukan harga. Proses distribusi dilakukan secara bebas di pasar (laissez-faire), sistem kapitalisme mengisyaratkan kecilnya intervensi pemerintah dalam mengelola pasar. Menyinggung teori yang dipaparkan oleh Adam Smith sebagai peletak dasar lahirnya sistem kapitalisme yang dikenal dengan teori invisible hand (tangan tersembunyi) menyatakan yang bekerja dalam mengatur bagaimana pasar bekerja. Jadi pasar akan mencari titik keseimbangan (ekuiliberium) sendiri tanpa intervensi pemerintah. Teori tersebut menitikberatkan bentuk pola bergeraknya sistem ekonomi kapitalisme dalam mengatur pasar yang mengalianesikan peran pemerintah, yang menurut penulis sangat tidak efektif untuk diterapkan, karena korporasi-korporasi yang memiliki banyak modal serta tekhonologi yang canggihlah yang hanya mampu eksis dan tetap bersaing. Jadi bagaimana dengan korporasi kecil yang lainnya ? Apakah mereka dapat bertahan dan mampu bersaing dengan modal yang tidak mendukung ? Nah, pertanyaan seperti ini yang perlu dijawab oleh pemuja paham kapitalisme.

Kapitalisme tidak pernah memikirkan kebutuhan manusia dan bagaimana cara menjamin ketersediaannya, karena konsep kebebasan individu dan diikuti dengan kebebasan kepemilikan menjadikan siapapun yang memiliki akses modal dan alat-alat produksi dapat menguasai dan memonopoli pasar. Tidak diperhatikan lagi apakah kebebasan individu dapat menghalangi individu lainnya untuk memenuhi hajat dan kebutuhannya. Dalam sistem kapitalisme manusia akan saling memangsa dan menjadikan manusia sebagai serigala yang siap mencengkram manusia lainnya. Oleh sebab itu lahirlah proses-proses instabilitas salah satunya sektor perekonomian seperti kesenjangan ekonomi, pengangguran dan instabilitas ekonomi, kesenjangan social, distribusi kekayaan yang tidak merata, dan kecenderungan memonopoli pasar. Berkaca dari implikasi-implikasi di atas, penulis menganggap bahwa bentuk sistem kapitalisme hanya melahirkan problematika serta kesenjangan yang semakin menjadi-jadi.

Kapitalisme 1Kejahatan sistem kapitalisme dan kerakusan sistem kapitalisme dirasakan oleh segenap umat dan bangsa tak terkecuali negeri ini. Pasca perang dingin, negara-negara imperalis-kapitalis merubah gaya penjajahan dengan menggunakan utang di negara berkembang seperti Indonesia pun menjadi sasaran aksi dari bagian rencana busuk para penghamba sistem ekonomi kapitalisme barat. Mereka dapat menghegemoni kedaulatan negara dalam berbagai bidang seperti bidang ekonomi, politik, dan budaya. Rezim bangsa (Indonesia) ini mulai tunduk dan membiarkan diri dalam cengkraman utang dan aliran dana asing masuk menguasai perekonomian bangsa dengan dalih investasi sejak UU No. 1 Tahun 1967 tentang penanaman modal asing dikeluarkan. Liberalisasi ekonomi pada sector tambang dan energy semakin parah sejak UU. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara dikeluarkan. Di sektor keuangan, liberalisasi sector perbankan nasional secara massif dan komprehensif dimulai sejak tahun 1997-1998, yang ditandai dengan lahirnya UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan. Unsur-unsur tersebut telah menguatkan argumentasi penulis bahwa betapa bobroknya sistem kapitalisme barat dalam memainkan peran untuk menguasai dunia.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UTS Dorong Masyarakat Menjadi Wirausahawan

Sekarang kita mengambil contoh bentuk eksistensi korparasi asing yang berlebelkan kapitalisme, contoh riilnya yang terjadi di Indonesia. keberadaan PT Freeport Indonesia yang berada di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, yang bisa kita dijadikan bukti bahwa betapa bobroknya sistem ekonomi kapitalisme barat. Kita bisa merasakan dan melihatnya secara objektif secara tidak langsung mereka menjajah sumber daya alam (SDA) dengan sangat rakus melalui cara dengan mengeksploitasi. Manakah yang diuntungkan, pihak asing ? Atau pihak tuan rumah (Indonesia) ?. Biarkan pembaca yang menilainya. Penulis merasa apa yang dilakukan oleh PT Freeport Indenesia saat ini adalah bentuk penjajahan secara sistematis, structural dan massif. Sehingga Indonesia pun tidak mampu berkutik di negaranya sendiri. Kejahatan multidimensional yang dilakukan oleh penambang asing seperti kejahatan lingkungan, kejahatan kemanusiaan, kejahatan ekonomi, kejahatan hukum dan kejahatan politik dilakukan secara serentak oleh perusahaan pertambangan yang berlabelkan kapitalis yang bisa kita kategorikan sebagai industry hitam (black industry). Ini adalah fakta yang memang tidak bisa kita bantah, kejahatan sistematis yang dilakukan oleh panganut faham kapitalisme telah masuk dan menghisap seluruh potensi yang kita milki. Penulis menawarkan kalau saja sumber daya kita diolah sendiri dan diatur oleh nagara demi kamaslahatan bersama mungkin saja apa yang kita cita-citakan terwujudnya walfare state (negara kesejahteraan) bisa saja terwujud, serta merujuk secara hukum “pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat”.

Penjelasan di atas merupakan manifestasi dari visualisasi yang sebenarnya terjadi bahwa kebuasan dan kerakusan sistem kapitalisme berjalan hingga saat ini. Praktek sistem kapitalisme dunia yang dilakukan bukan lagi untuk kemaslahatan dan kesejahteraan bersama seperti apa yang digambarkan oleh sistem kapitalisme yang tercermin pada salah satu teori yaitu, teori trickle down effect (efek menetes ke bawah) menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi, didorong oleh pasar bebas, pasti akan berhasil mewujudkan keadilan yang lebih besar bagi para pelaku pasar sehingga terwujudlah konsep negara walfare state (negara kesejahteraan) yang diimpikan. Tetapi dengan teori tersebut masyarakat dibius dengan retorika yang hasilnya nihil sehingga pemahaman masyarakat tentang kapitalisme tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dana mana yang tidak benar, dengan hal tersebut pelaku kapitalisme dapat mendikte dan menghegemoni suatu negara dengan didukung kucuran utang melalui lembaga keuangan internasional yang backgroundnya pun kapitalisme, seperti Internasional Monetary Fund (IMF), dan World Bank (bank dunia). Berkat sinergistas dari kedua lembaga tersebut penganut faham kapitalisme tetap mampu eksis dalam memainkan peran sebagai pengontrol dunia.

Baca Juga  Selamat ! UNSA Kembali Mendapatkan Hibah PHP2D Kemenristek

Sudah saatnya seluruh Negara-negara yang notabane masuk dalam cengkram sistem kapitalisme membuka mata, bahwa praktek kapitalisme hanya membuat negara-negara dunia ketiga semakin terpuruk. Karena itu tidak ada kemandirian dalam melakukan pengelolaan di negara sendiri, sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) dieksploitasi secara terang terangan hanya untuk kepentingan kaum kapitalisme. Sistem kapitalisme dijadikan sebagai alat penjajahan oleh asing untuk negara-negara dunia ketiga yang hanya memanfatkan sumber daya alam suatu negara. Teringat dengan apa yang di katakan oleh Pak Amien Rais dalam bukunya “agenda mendesak bangsa SELAMATKAN INDONESIA” yang menyatakan “nasionalisme kita sudah menjadi nasionalisme dangkal. Kita bela merah putih hanya dalam hal-hal yang bersifat simbolik, namun ketika kekayaan alam kita dikuras dan dijarah oleh korporasi asing, ketika sector vital ekonomi seperti perbankan dan industri dikuasai asing, bahkan ketika kekuatan asing sudah dapat mendikte perundang undangan serta keputusan-keputusan politik, kita diam membisu. Seolah kita sudah kehilangan harga dan martabat diri”. Dan penulis merasa apa yang menjadi pernyataan Pak Amien Rais sudah tergambarkan dengan apa yang terjadi saat ini tidak hanya di Indonesia melainkan di negara negara dunia ketiga lainnya. “Manakala kapitalisme diusir keluar dari pintu ia akan masuk lagi lewat jendela” Fernand Braudel (1979).

 

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.