๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ฎ๐ฃ๐ข ๐Š๐จ๐ง๐ฌ๐ข๐ฌ๐ญ๐ž๐ง๐ฌ๐ข “๐€๐ค๐š๐ฅ ๐’๐ž๐ก๐š๐ญ” ๐‘๐จ๐œ๐ค๐ฒ ๐†๐ž๐ซ๐ฎ๐ง๐  ๐ƒ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐‹๐ข๐ง๐ ๐ค๐š๐ซ๐š๐ง ๐Š๐ž๐ค๐ฎ๐š๐ฌ๐š๐š๐ง

oleh -181 Dilihat

๐–ฎ๐—…๐–พ๐—: ๐–ฌ๐—Ž๐—‚๐—Œ ๐–ฃ๐–พ๐–ป๐–พ

(๐‘ƒ๐‘’๐‘š๐‘’๐‘Ÿโ„Ž๐‘Ž๐‘ก๐‘– ๐ท๐‘’๐‘š๐‘œ๐‘˜๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ ๐‘– ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐พ๐‘’โ„Ž๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘› ๐ต๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘’๐‘”๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž)

Selama puluhan tahun, Rocky Gerung menanamkan satu gagasan yang dipercaya banyak orang: kekuasaan harus diuji dengan akal sehat. Bahwa yang tampak megah belum tentu benar; yang diucapkan penguasa belum tentu jujur; dan bahwa akal sehat โ€” yang sederhana, yang tak dibeli jabatan โ€” adalah pelindung paling andal bagi rakyat. Ia berdiri di luar lingkaran kekuasaan, menegaskan bahwa jaraklah yang menjaga kejernihan pandangan, dan bahwa masuk ke dalam berarti mengorbankan kebebasan bersuara.

Namun apa yang terjadi kini membuka pertanyaan mendasar atas gagasan itu sendiri. Rocky Gerung menerima tawaran duduk di Dewan Pertimbangan Presiden โ€” berada tepat di lingkaran yang dulu selalu diingatkan agar diwaspadai. Langkah ini bukan sekadar pindah kedudukan. Ia memunculkan pertanyaan yang tak dapat dihindari: ada apa dengan “akal sehat” yang dijunjung? Apakah masuk angin, ikut terseret, lalu berubah arah bersama lambaian kedudukannya?

Ketika Akal Sehat Bernaung Dalam Lingkaran Kekuasaanย 

Akal sehat yang diusung selama ini memiliki ciri yang tak dapat ditukar: sederhana, tak memihak, bertanya kepada siapa saja tanpa pandang kedudukan. Ia tidak menyesuaikan diri dengan siapa yang berkuasa, melainkan mengukur setiap tindakan dengan tolok ukur yang sama.

Namun kini kekhawatiran muncul. Struktur kekuasaan bekerja dengan aturan yang berbeda: di dalamnya, kejernihan sering dikalahkan kepentingan; kebenaran disesuaikan dengan kesatuan; dan suara yang lurus dilunakkan agar tidak dianggap mengganggu.

Maka persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh melayani โ€” melainkan: apakah akal sehat itu mampu mengubah sistem, atau justru akal sehatnyalah yang akan berubah? Sebab sistem kekuasaan justru dirancang untuk meredam ketajaman seperti itu.

Jika ia dapat bernaung di sana tanpa berubah, berarti keraguan banyak orang selama ini adalah keliru. Namun jika sebaliknya โ€” jika terjadi pergeseran arah โ€” maka konsistensi yang diharapkan itu ternyata hanyalah kemustahilan yang kita semogakan.

Sifat Kekuasaan yang Tak Selalu Masuk Akal

Di sinilah letak celah yang jarang diakui: akal sehat manusiawi bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri. Ia dapat dipengaruhi oleh lingkungan, kedekatan, kepentingan bersama, dan rasa hormat yang tumbuh terhadap tempat seseorang bernaung. Kekuasaan tidak selalu menekan dengan kekerasan; ia lebih sering melunakkan dengan penghormatan, kepercayaan, dan rasa memiliki.

Kita sering berasumsi: jika akal sehat itu benar-benar kuat, ia tak akan goyah ke mana pun seseorang pergi. Padahal sifat kekuasaan justru tidak selalu berlandaskan rasionalitas. Ia tumbuh dari kebiasaan, kepentingan, hubungan, dan pertahanan diri yang sering kali tidak logis โ€” namun sangat nyata. Ketika seseorang berada di dalamnya, ia tidak lagi melihat dari luar. Ia ikut menjadi bagian dari logika yang dulu dikritisi.

Maka pertanyaannya menjadi: apakah yang kita sebut “akal sehat” itu adalah prinsip yang tak tergoyahkan โ€” atau sekadar pandangan yang terlihat jelas selama belum memiliki kepentingan di tempat itu? Jika akal sehat dapat dibawa masuk ke dalam kekuasaan dan tetap sama, berarti prinsip itu memang tegak. Tetapi jika sebaliknya, maka yang terjadi adalah pergeseran makna: akal sehat kini disesuaikan dengan apa yang menguntungkan posisi yang dijabat.

Kita tidak mempertanyakan hak seseorang untuk melayani. Yang kita pertanyakan adalah keteguhan ukuran. Jika dulu tindakan serupa yang dilakukan pihak lain dikritik tajam, dan kini tindakan serupa didekati dengan kehati-hatian atau pembelaan โ€” maka akal sehat itu telah berubah wajah. Ia tidak lagi berdiri sendiri; ia telah menjadi milik tempat seseorang bernaung.

Akal sehat yang sejati tidak perlu dipindahkan ke mana-mana agar tetap berlaku. Ia tetap sama di mana pun. Jika harus menyesuaikan diri agar dapat diterima, maka yang menyesuaikan bukanlah akal sehat โ€” melainkan pendapat yang kini mencari tempat bernaung.

Kekuasaan memang membutuhkan nasihat. Tetapi nasihat yang paling berharga justru datang dari mereka yang tidak takut kehilangan kedudukan karena berkata jujur. Jika suara itu kini berada di dalam, apakah ia tetap seberani dulu? Atau justru kini keberaniannya diuji: apakah tetap berani meski pilihannya sulit?

Menjaga Akal Sehat Tetap Hidup

Pada akhirnya, akal sehat yang sejati tidak menyasar ke mana-mana. Ia tidak berpindah tempat. Ia tidak menyesuaikan diri dengan siapa yang berkuasa. Ia berdiri di tempat yang sama, menilai semua orang dengan ukuran yang sama โ€” baik yang berkuasa maupun yang tidak.

Jika seseorang masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dan akal sehatnya tetap sama tajamnya, itu hal yang patut dihormati. Tetapi jika sebaliknya โ€” jika suara itu makin halus, makin jarang, makin berhati-hati โ€” maka pelajaran yang dipetik bukanlah tentang pribadi seseorang, melainkan tentang sifat kekuasaan itu sendiri: ia mampu melunakkan apa pun yang masuk, sekalipun yang masuk itu adalah akal sehat yang paling lurus.

Maka pertanyaan yang tersisa untuk kita semua: ketika akal sehat akhirnya menyesuaikan diri dengan kekuasaan, siapakah yang kemudian menjaga akal sehat itu tetap hidup?***

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *