Mandalika Street Food Bidik Wisata Sepanjang Tahun, UMKM Lokal Jadi Andalan

oleh -92 Dilihat

LOMBOK TENGAH, Samawarea.com (10 Oktober 2026) – Kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tak ingin hanya ramai saat gelaran MotoGP. Melalui Mandalika Street Food Festival Vol. 2, kawasan pariwisata tersebut didorong menjadi destinasi yang tetap hidup sepanjang tahun, sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Festival yang digelar InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) di Bazar Mandalika, Kuta, Lombok Tengah, Jumat (9/10/2026), menjadi bagian dari rangkaian MotoGP Mandalika 2026. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman wisata yang memadukan kuliner, budaya, dan produk lokal bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan Mandalika memiliki keunikan yang tidak hanya bertumpu pada ajang balap motor internasional. Keterlibatan masyarakat, kekayaan budaya, kuliner khas, serta keramahan warga menjadi bagian penting dari daya tarik kawasan tersebut.

“Mandalika sekarang adalah milik kita bersama. Kami tidak lagi merasa sebagai tamu di rumah sendiri. Mandalika sudah menjadi milik masyarakat NTB,” ujar Miq Iqbal.

Menurutnya, MotoGP Mandalika memiliki karakter tersendiri dibandingkan penyelenggaraan serupa di negara lain. Selain menyaksikan balapan, wisatawan dapat menikmati produk UMKM, menyaksikan pertunjukan tari tradisional, hingga mengenal sejarah dan budaya daerah melalui museum di kawasan sirkuit.

Penguatan identitas lokal itu juga terlihat dari museum tematik di kawasan sirkuit Mandalika. Setelah mengangkat Samalas dan Tambora pada 2025, tahun ini museum menampilkan Sekardiyu, patung kuda berusia ratusan tahun yang merupakan koleksi Museum Provinsi NTB.

Kehadiran unsur budaya tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan sejarah dan identitas NTB kepada pengunjung dari berbagai negara.

Miq Iqbal menegaskan, tantangan berikutnya adalah memastikan dampak ekonomi MotoGP tidak berakhir bersamaan dengan selesainya balapan. Momentum kunjungan wisatawan harus dimanfaatkan untuk memperluas pasar UMKM serta menggerakkan usaha kuliner, ekonomi kreatif, transportasi, dan layanan pariwisata lainnya.

“Momentum sudah diciptakan. Sekarang tugas pemerintah daerah dan masyarakat adalah memperpanjang dampaknya. Kalau hari ini dampaknya tiga hari, mari kita buat menjadi seminggu, sebulan, bahkan sepanjang tahun,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menyebut festival kuliner merupakan salah satu upaya membangun aktivitas kawasan di luar penyelenggaraan acara besar.

Menurutnya, Mandalika perlu dikembangkan bukan sekadar sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai event, melainkan destinasi yang menawarkan aktivitas wisata dan ekonomi secara berkelanjutan.

“Mandalika bukan hanya event destination, tetapi living destination selama 365 hari. Event menjadi traffic puller, sementara yang paling penting adalah bagaimana kehidupan ekonomi terus bergerak sepanjang tahun,” jelasnya.

ITDC juga melanjutkan pengembangan kawasan Mandalika dan penataan Desa Sade bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat daya tarik wisata melalui pengembangan kawasan dan potensi budaya masyarakat setempat.

Bagi Miq Iqbal, keberlanjutan pariwisata Mandalika juga ditentukan oleh hal-hal mendasar, seperti kebersihan, kenyamanan, dan keramahan yang harus dijaga setiap hari, bukan hanya ketika ribuan wisatawan datang menyaksikan MotoGP.

Mandalika Street Food Festival pun menjadi salah satu langkah untuk mengubah keramaian sesaat menjadi peluang ekonomi berkelanjutan. Keberhasilan MotoGP, pada akhirnya, tidak hanya diukur dari jumlah penonton yang hadir, tetapi juga dari terbukanya pasar bagi produk lokal, bergeraknya usaha masyarakat, serta tumbuhnya alasan bagi wisatawan untuk kembali ke Mandalika setelah balapan usai. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *