Agusfian Agung Tegaskan MBG Bukan Sekadar Urusan Gizi, tetapi Motor Penggerak Ekonomi Desa

oleh -120 Dilihat
Sumbawa Barat, Samawarea. Com ( 16/10/2026) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Program yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi baru melalui keterlibatan tenaga kerja lokal, petani, dan pelaku usaha di daerah.
‎
‎Pandangan tersebut disampaikan Agusfian Agung, SE, tokoh masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang juga mantan anggota DPRD selama dua periode. Ia menilai, keberadaan program MBG merupakan peluang strategis yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus mendorong perputaran uang di tingkat desa.
‎
‎Menurut Agusfian, program MBG tidak seharusnya hanya dipahami sebagai kegiatan penyediaan makanan bergizi bagi para penerima manfaat. Lebih jauh, program tersebut memiliki potensi menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah apabila pelaksanaannya melibatkan masyarakat lokal secara nyata dan berkelanjutan.
‎
‎“Selain memberikan asupan gizi dan nutrisi bagi penerima manfaat, program MBG juga mampu menjadi pembangkit ekonomi baru di daerah,” ungkap Agusfian dalam keterangan persnya kepada media.
‎
‎Ia menjelaskan, dampak ekonomi program MBG dapat dirasakan melalui berbagai sektor yang terlibat dalam penyediaan makanan bergizi. Mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal, pengadaan bahan pangan, hingga terbukanya peluang usaha bagi masyarakat yang berada di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
‎
‎
‎Menurutnya, kebutuhan bahan baku makanan dalam jumlah besar memberikan peluang bagi petani lokal untuk memasarkan hasil produksinya. Berbagai komoditas pangan, seperti beras, sayuran, telur, ikan, dan bahan pangan lainnya, berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok program MBG sesuai kebutuhan dan standar gizi yang ditetapkan.
‎
Apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh produsen lokal, maka manfaat ekonomi program akan mengalir langsung kepada masyarakat. Petani memperoleh peluang pasar, pedagang mendapatkan tambahan aktivitas usaha, sementara tenaga kerja lokal memiliki kesempatan untuk terlibat dalam operasional pelayanan makanan bergizi.
‎
‎“Program MBG ini memiliki dampak yang luas. Bukan hanya penerima manfaat yang mendapatkan makanan bergizi, tetapi masyarakat di sekitar lokasi SPPG juga berpeluang merasakan manfaat ekonominya. Karena itu, keterlibatan warga lokal dan pemanfaatan bahan baku dari petani daerah harus menjadi perhatian,” tegasnya.
‎
‎Agusfian menilai, desa merupakan salah satu wilayah yang berpotensi memperoleh manfaat besar dari pelaksanaan program tersebut. Dengan melibatkan petani, peternak, pedagang, pelaku UMKM, serta masyarakat setempat, MBG dapat mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi yang lebih produktif.
‎
‎Perputaran uang di desa juga berpotensi meningkat ketika kebutuhan operasional SPPG dipenuhi melalui pembelian bahan pangan dari masyarakat sekitar. Kondisi ini dapat menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara pengelola program dan pelaku usaha lokal.
‎
‎Ia menegaskan, peluang tersebut perlu dimanfaatkan secara maksimal agar pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
‎
‎Menurut Agusfian, pemerintah daerah, pemerintah desa, pengelola SPPG, dan para pemangku kepentingan lainnya perlu membangun sinergi untuk memastikan masyarakat lokal mendapatkan kesempatan yang adil dalam rantai pasok program. Dengan demikian, keberadaan MBG dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat usaha masyarakat dan memperluas kesempatan kerja.
‎
‎Ia juga berharap program tersebut dijalankan secara profesional, transparan, dan tepat sasaran, dengan tetap mengutamakan kualitas makanan, keamanan pangan, serta pemenuhan standar gizi bagi penerima manfaat.
‎
‎“Harapan kita, program MBG ini tidak hanya sukses dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perekonomian daerah. Petani lokal harus memiliki peluang untuk memasok hasil pertanian, UMKM dapat berkembang, dan masyarakat setempat memperoleh kesempatan kerja,” ujarnya.
‎
‎Agusfian menambahkan, keberhasilan program MBG tidak hanya dapat dilihat dari jumlah makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja, keterlibatan produsen lokal, pertumbuhan UMKM, dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat juga penting untuk diperhatikan.
‎
‎Ia optimistis, apabila dikelola dengan baik dan melibatkan potensi lokal secara maksimal, program MBG dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi kerakyatan di Kabupaten Sumbawa Barat. Program ini juga berpeluang memperkuat hubungan antara sektor pertanian, perdagangan, dan kebutuhan konsumsi masyarakat.
‎
‎“Ini peluang yang harus dimanfaatkan bersama. Kita mendukung program MBG agar berjalan dengan baik, sekaligus mendorong agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat. Jangan sampai potensi besar ini tidak dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi lokal,” pungkasnya.
amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *