Abrasi Ancam Aik Bari, 300 Kepala Keluarga dan Masjid di Ujung Bahaya

oleh -105 Dilihat

SUMBAWA BESAR, Samawarea.com (7 Oktober 2026) – Ancaman abrasi menghantui warga Dusun Aik Bari, Desa Kukin, Kecamatan Moyo Utara. Jika tak segera ditangani secara permanen, gerusan air dikhawatirkan semakin parah saat musim penghujan dan mengancam jalan lingkungan, rumah warga hingga masjid.

Kepala Desa Kukin, Suhri, mengungkapkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi wartawan melalui sambungan telepon, Rabu (7/10/2026). Menurutnya, abrasi menjadi persoalan yang cukup serius, terlebih memasuki musim penghujan.

“Tahun kemarin hampir mendekati jalan lingkungan. Saya khawatir apabila tidak segera ditangani nanti bulan 12 atau musim penghujan, akan sangat berbahaya,” ujarnya.

Suhri menyebutkan, titik yang terancam abrasi mencapai sekitar 50 meter. Gerusan tersebut bukan hanya mengancam badan jalan, tetapi juga pemukiman warga dan masjid yang berada di sekitar lokasi.

“Kalau tidak ditangani segera, saya khawatir jalan itu putus, rumah penduduk dan masjid ikut terdampak,” tegasnya.

Persoalan itu, kata Suhri, sebenarnya telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Laporan juga telah disampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara Barat.

Penanganan sementara sebelumnya telah dilakukan dengan bantuan karung dari BWS dan BPBD. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk menghadapi ancaman abrasi dalam jangka panjang.

“Memang dulu kita sudah dapat bantuan karung dari BWS dan BPBD, tapi itu hanya sementara,” akunya.

Di tengah keterbatasan penanganan, warga memilih bergerak secara mandiri. Sejumlah masyarakat memasang talud di belakang rumah masing-masing sebagai upaya menahan gerusan air agar tidak semakin mendekati pemukiman.

Suhri berharap pemerintah segera turun tangan melakukan penanganan permanen. Ia mengusulkan pembangunan beronjong atau konstruksi penahan gelombang di lokasi yang rawan abrasi.

“Ada 300 KK di dua dusun di Aik Bari. Sebagian masyarakat sudah memasang talud masing-masing di belakang rumahnya. Harapannya ada penanganan yang permanen, misalnya bisa ada beronjong atau pasangan penahan gelombang,” pungkasnya. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *